30 10 2016

TANTANGAN KEBANGSAAN 

Oleh: Joko Siswanto
Dosen FISIP UNSRI/Rektor UNITAS

Setiap individu mempunyai perasaan setia kepada berbagai pihak, seperti setia kepada pasangan, guru, orang tua,  teman, daerah, etnik, pekerjaan, profesi, keluarga, almameter, agama, organisasi/kelompok dan kesetiaan kepada hal-hal lain yang patut untuk  dilabuhkan rasa kesetiaan. Terkandung dalam kata setia ada makna rasa kasih sayang, cinta, hormat, berkorban, ikhlas, segan, dan   mungkin juga bahagia. Kadar rasa  kesetiaan tersebut bobotnya bisa berbeda-beda tergantung dengan kepentingan dan kemanfaatan yang bisa didapat dari kesetiaan tersebut.  Seringkali rasa kesetiaan dapat saling berbenturan  dan bergejolak ketika dihadapkan kepada pilihan mana yang  lebih besar kesetiaan itu harus diberikan; misalnya harus setia kepada kelompoknya yang salah  atau setia kepada menegakkan kebenaran. Dilema dan gejolak kesetiaan akan semakin bergelora ketika pilihan tersebut dihadapkan kepada pilihan antara lebih setia kepada bangsa dan negara atau lebih setia kepada kepada hal-hal lainnya.

Hans Kohn dalam bukunya Nasionalisme, Arti dan Sejarahnya  (1955), memberi makna nasionalisme atau paham kebangsaan  merupakan paham yang berpendapat bahwa kesetiaan tertinggi individu harus diserahkan kepada negara kebangsaan. Mengacu pendapat tersebut, individu (warga negara) yang mempunyai rasa kebangsaan harus mau meninggalkan sebentar atau menekan kesetiaan kepada berbagai pihak ke titik nadir lebih dulu ketika bangsa dan negara membutuhkan kesetiaan warga negaranya.   Eksistensi, kesinambungan dan bahkan kualitas (kemajuan) suatu negara sangat ditentukan oleh tingkat kesetiaan warga negaranya.  Warga negara yang menaruh kesetiaan tertinggi kepada negara akan berani bersikap rela berkorban apa saja demi kepentingan negara dan kemajuan bangsa. Sebaliknya, jika warga negara masih lebih mementingkan atau lebih setia kepada  kelompoknya, diri sendiri dan ikatan-ikatan emosi lainnya dibandingka lebih setia kepada negara, maka bisa diprediksi negara yang bersangkutan mempunyai potensi ancaman yang sewaktu-waktu dapat melemahkan negara bahkan negara bisa bubar.

Peristiwa Sumpah Pemuda 1928 harus dilihat sebagai peristiwa puncak menorehkan kesetiaan tertinggi  individu dan kelompok kepada kepentingan untuk mewujudkan cita-cita terbentuknya negara dan bangsa yang berdaulat. Mereka, para pemuda,  dari berbagai daerah dan  etnis yang berbeda bersumpah setia mendeklarasikan sebagai satu  Bangsa Indonesia yang hanya terikat dalam satu wadah Tanah Air  Indonesia. Sumpah menyatakan kesetiaan nasional tersebut tidak muncul secara tiba-tiba melainkan dirintis dan direnda  dengan tekun oleh mereka yang waktu itu di dadanya muncul  benih-benih rasa kebangsaan sebagi sandaran kesetiaan yang lebih tinggi dari pada kesetiaan yang hanya dilektakkan kepada suku/etnis dan daerah.  Eksistensi bangsa dan cita-cita terwujudnya negara Indonesia mendorong mereka bergerak untuk menggelorakan semangat kebangsaan dan kenegaraan melalui berbagai gerakan organisasi politik, pendidikan dan sosial budaya.

Organisasi Budi Utomo yang berdiri 20 Mei tahun 1908 dianggap sebagai tonggak hadirnya kesadaran berbangsa dan bernegara kendatipun organisasi tersebut masih bercorak kedaerahan, yang awal kegiatannya masih menekankan kepada memelihara dan memajukan kebudayaan jawa. Meskipun demikian, kehadiran  Budi Utomo  telah memberi inspirasi dan dorongan bagi tokoh-tokoh pergerakan lainnya untuk membentuk organisasi-organisasi di berbagai daerah dengan orientasi menuju kepada kesadaran sebagai bangsa demi  cita-cita terbentuknya satu bangsa dan negara yang berdaulat.

Perguruan Tamansiswa yang didirikan Ki Dadjar Dewantara pada tahun 1922 merupakan salah satu contoh organisasi yang bergerak dalam dunia pendidikan yan g disemangati nasionalisme yang tinggi.  Pemerintah Hindia Belanda waktu itu hanya memberi kesempatan bagi pribumi bersekolah secukupnya demi untuk memenuhi kebutuhan pegawai rendahan di pemerintahan. Bagi Ki Hadjar Dewantara, yang semula aktif di pergerakan politik dan aktif menulis di media massa, dalam membangkitkan semangat kebangsaan merasakan perlu dan penting mendidik kaum pribumi agar  mempunyai jiwa merdeka dan tumbuh rasa nasionalisme. Perlahan tapi pasti, Perguruan Tamansiswa melalui gerakan pendidikan  dapat berkembang di berbagai daerah dengan disemangati  untuk membangkitkan rasa  kebangsaan di kalangan kaum pribumi tanpa diskriminatif.  Perguruan Tamansiswa melawan pemerintah kolonial Belanda melalui pendidikan untuk kaum pribumi tanpa membedakan suku, keyakinan, aliran, agama, golongan, status sosial. Perguruan Tamansiswa pelopor dan cikal bakal pendidikan yang berbasis kebangsaan.

Para perintis, pelopor, pendobrak, pelaku  pergerakan Indonesia merdeka  telah menunjukkan kegigihan mereka membangun kebangsaan Indonesia dengan semangat dan pengorbanan yang luar biasa. Mereka berjuang tanpa kenal lelah dan tanpa pamrih ekonomi dan jabatan. Mereka hanya memimpikan pamrih kebangsaan Indonesia yang kuat dalam ikatan negara kebangsaan yang dilandasai jiwa merdeka. Cita-cita tersebut akhirnya telah terwujud. Kini, sudah 71 negara kebangsaan Indonesia  berdiri tegar. Sudah 88 tahun Sumpah Pemuda dikumandangkan sebagai simbol bangkitnya kesetiaan kepada kebangsaan Indonesia. Kendatipun demikian, nasionalisme, kebangsaan, cinta kepada tanah air Indonesia harus terus digelorakan tanpa henti seiring dengan generasi yang silih berganti mewarisi negeri ini. Ada kecenderungan sikap generasi penerus bahwa semakin generasi jauh dari masa lalu yang heroik, jauh dari generasi pendiri bangsa dan negara patriotik, berjarak dengan pelaku sejarah gerakan nasionalisme gelombang pertama yng tinggal nama, ada tanda-tanda bahwa generasi penerus semakinmeneipis kadar kebangsaannya.

Tantangan dan musuh  bersama nasionalisme gelombang pertama sangat jelas yakni kolonialisme dan imperialisme yang membelenggu kaum pribumi sebagai bangsa  terjajah sehingga harus dibangkitkan semangat nasionalisme untuk mewujudkan cita-cita sebagai bangsa merdeka. Perjuangan dan gerakan nasionalisme gelombang pertama telah sukses. Kebangsaan Indonesia di era keninian harus terus dipelihara  agar nasionalisme tetap menyala  dan  terpatri kuat di setiap dada warga negara Indonesia khusunya generasi penerus. Kebangsaan Indonesia yang kuat merupakan modal untuk mewujudkan cita-cita dan tujuan negara. Namun,  tantangan kebangsaan Indonesia masih relatif besar baik yang kovensional maupun modern dengan label  ekonomi, budaya, politik, ideologi dan teknologi.  Berikut tantangan dan musuh kebangsaan Indonesia yang patut mendapat perhatian kita semua.

Pertama, perilaku yang masih lebih mementingkan diri dan kelompoknya dengan indikasi masih sering terjadinya bentrok atau konflik antar warga, antar desa, antar kampung, antar etnis, antar golongan,   antar  pemeluk  keyakinan/agama berbeda, antar sesama pemeluk dalam satu keyakinan dan konflik-konflik horizontal lainnya. Sikap intoleransi dan konflik yang barbasis SARA dapat dimaknai kesadaran berkebangsaan masih rendah. Mereka yang masih suka berkonflik dan sikap intoleran yang menimbulan ancaman kebangsaan dapat dimaknai masih menempatkan kesetiaan tertinggi kepada kelompoknya bukan kepada bangsa dan negara. Jajak pendapat Harian Kompas (4/11/2013) antara lain mengemukakan bahwa  potensi konflik yang berbasis agama masih tinggi yakni 52,2%. Kita harus menyadari bahwa kemajemukan bangsa Indonesia merupakan modal awal kekuatan terbentuknya kebangsaan Indonesia, bukan ancaman bagi kebangsaan. Oleh karena itu, kondisi faktual bangsa  yang plural/majemuk harus disikapi dengan arif dalam mengelola  kemajemukan bangsa sehingga perbedaan  SARA  menjadi keindahan dan kekuatan.  Bhineka Tunggal Ika sudah waktunya tidak hanya dicengkeram kuat oleh Burung Garuda, tetapi harus juga dipegang kuat-kuat oleh setiap tangan warga negara Indonesia sehingga diharapkan kesadaran akan toleransi dan pluralitas merupakan kebutuhan dasar dalam upaya mewujudkan kebangsaan Indonesia.

Kedua, munculnya ideologi ekstrim yang berbasis radikalisme ajaran agama khususnya yang mengaku berbasis ajaran Islam harus diwaspadai mengingat radikalisasi agama selalu menjadi ancaman kebangsaan Indonesia. Dalam perjalanan sejarah NKRI, ideologi radikal baik yang kiri maupun kanan selalau  mewarnai konflik  yang melukai kebangsaan Indonesia, seperti DI-TII, GAM,Komando Jihad, Jamaah Islamiah, saat ini muncul ISIS/NIIS,  komunisme yang diduga bangkit kembali, gerakan terorisme seperti kelompok Santosa di Poso,  dan lain-lain. Oleh karena itu, gerakan radikalisme dan terorisme yang berlawanan dengan ideologi Pancasila harus dibasmi.  Ajaran ideologi radikali harus dibendung dengan membumikan Ideologi Pancasila  tiada henti kepada generasi penerus yang  selalu hadir silih berganti dengan berbagai metode, sarana dan media yang ada.

Ketiga, tantangan kebangsaan yang bisa menggerus kebangsaan di bidang ekonomi adalah produk barang  kebutuhan hidup yang mestinya bisa dicukupi dan diproduksi oleh bangsa sendiri tetapi harus didatangkan (impor) dari bangsa lain. Sebagai negara tropis, agraris, maritim yang kaya akan sumber daya alam baik di atas tanah maupun di dalam tanah dan di dalam laut,  ternyata belum bisa dikelolanya dengan baik sehingga ketergantungan terhadap produk kebutuhan dasar hidup (sembako) dari bangsa lain masih tinggi. Beras, bawang, kedelai, daging bahkan garam dan kebutuhan pokok lainnya masih impor. Ironis, tapi fakta memang demikian sehingga ini menjadi tantangan kebangsaan di masa kini dan masa depan. Masyarakar ekonomi  asean wujud nyata tantangan kebangsaan dalam bidang ekonomi. Memang, perdagangan antar bangsa antar negara merupakan hal biasa dalam upaya memenuhi tuntutan dan kebutuhan hidup rakyatnya, Akan tetapi jika ketergantungan kita kepada negara lain sangat tinggi dan akhirnya kita didekte oleh negara lain, dimana rasa kebangsaan itu berada?. Aku cinta produksi dalam negeri adalah slogan ajakan yang harus terus dikumandangkan  agar kebangsaan ekonomi dapat bersemai di hati rakyat sehingga industri apa pun  yang sudah bisa dibuat oleh anak Indonesia hendaknya menjadi pilihan utama dalam memenuhi kebutuhan hidup. Pemerintah sebagai pengambil kebijakan diuji kebangsaannya dalam membangun perekonomian bangsa yang relatif harus bisa lebih mandiri. Paling tidak, jika belum mampu bersaing dalam bidang industri manufaktur dan teknologi informasi hendaknya pemerintah berusaha secara maksimal bisa berdaulat dalam urusan pangan sehingga kebangsaan ekonomi  bisa semakin kuat .

Keempat, tantangan kebangsaan yang bisa melenahkan kebangsaan Indonesia adalah perilaku hedonisme melalui narkoba. Mereka yang setia kepada narkoba baik pengguna, penjual dan produsen jelas tidak ada kesetiaan dan kecintaan terhadap bangsa dan negara. Masa depan bangsa dan negara menjadi suram dan tidak jelas jika generasi penerusnya sudah menjadi kaum hedonis narkoba.  Narkoba sudah menjadi ancaman serius bagi generasi penerus tanpa pandang status sosial dan profesi. Narkoba bisa melemahkan dan bahkan bisa melenyapkan kebangsaan Indonesia. Bisa jadi narkoba dijadikan sarana penghancur generasi penerus oleh bangsa lain sehingga NKRI mudah dikuasai oleh bangsa dan negara lain karena sudah tidak ada nasionalisme. Oleh karena itu, pemerintah harus tegas dan berani memberantas narkoba; dan masyarakat yang masih cinta dengan Indonesia,  yang masih setia kepada Indonesiua  harus ikut mendukung  dan berani melawan narkoba.

Kelima, tantangan dan ancaman  kebangsaan yang juga harus   diperangi dan disapu bersih adalah perilaku koruptif dengan segala macam modus operandi baik di lingkungan birokrasi pemerintah (eksekutif)  maupun di  legislatif dan yudikatif. Mestinya mereka para kaum birokrat, pejabat negara, politisi  dan aparat keamanan yang mencintai dan mempunyai kesetiaan terhadap negara dan bangsa  harus menjauhkan diri dari perbuatan yang nista dan tidak terpuji tersebut. Perilaku korup penyelenggara negara merupakan biang kerok yang bisa menghambat terwujudnya kesejahteraaan dan keadilan sosial. Untuk itu, keberadaan dan tugas KPK harus didukung yang terbukti bisa menangkap para koruptor, yakni mereka yang tidak mempunyai kesetiaan terhadap bangsa dan negara. Dibentuknya satuan tugas Sapu Bersih  Pungli wujud keseriusan pemerintah dalam memberantas perilaku koruptif dalam masyarakat dan birokrasi. Demikian halnya dengan pencuri-pencuri kekayaan alam oleh para pengusaha hitam adalah termasuk pihak-pihak yang merusak kebangsaan Indonesia.

Akhirnya, kebangsaan Indonesia hanya bisa terawat dengan baik oleh rakyat yang mau menempatkan kesetiaan tertinggi kepada bangsa dan negara. Adanya kesetiaan membuktikan adanya kecintaan, dan adanya kecintaan dibuktikan dengan kerelaan berkorban dan perilaku positif demi kebangsaan Indonesia. Mari bertanya dalam diri kita, sampai seberapa besar kadar kesetiaan kita kepada bangsa dan negara dengan indikator lima tantangan kebangsaan di atas. Merawat kebangsaan Indonesia adalah juga menghargai jasa para pendahulu kita, para pelaku Sumpah Pemuda. Selamat memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-88.

 

Palembang, 23   Oktober 2016

 

Catatan:

  • Tulisan ini telah dimuat di harian Sriwijaya Post, 26 Oktober 2016.

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: