1 10 2015

BENCANA ASAP:
AKIBAT SALAH BERSIKAP

Oleh:
Joko Siswanto
Dosen FISIP UNSRI

Sudah lebih tiga bulan udara Pulau Sumatera dan Kalimantan dikotori oleh kabut asap akibat dari kebakaran hutan dan lahan. Sinar cerah matahari pagi tidak terlihat. Membuka pintu atau jendela di pagi hari bukan udara segar yang terhirup tetapi tercium aroma sangit khas bau asap. Lantai teras rumah pun kotor ditutupi debu halus yang terlihat hitam di telapak kaki. Langit biru pun menjadi pemandangan mahal yang sulit untuk dipandang. Gemerlap keindahan bintang yang biasa menghiasi dinginnya malam pun tidak mampu menunjukkan diri karena dikalahkan oleh kabut asap. Kabut asap telah menjadikan keindahan alam lenyap. Semua serba abu-abu, semua terlihat kabur, semua menjadi kotor, mata terasa pedih, dan bernafas pun terasa sesak.
Di pagi hari jarak pandang sangat pendek. Mobil dan motor harus menyalakan lampu. Menjelang siang dan seiring dengan tiupan angin secara perlahan kabut asap sedikit berkurang tersapu angin. Kendati pun demikian kabut asap tidak pergi, udara tetap kotor oleh kabut asap. Matahari tetap tidak bisa menyapa kita dengan sinar teriknya. Matahari berwarna jingga. Sinarnya lemah tidak mampu menembus kepekatan kabut asap. Menjelang sore kabut asap kembali pekat dan matahari kembali menangis karena tidak mampu menunjukkan keindahannya terbenam di sisi barat dunia untuk mengucapkana selamat malam. Pukul tiga atau empat sore suasana sudah seperti menjelang mahrib di hari-hari tanpa asap.
Sungguh, udara sudah sangat tidak sehat penuh kabut asap yang pekat. Kabut asap telah membawa keseangsaraan, penderitaan dan menjadi pembunuh secara perlahan-lahan. Ribuan orang khususnya anak-anak terserang penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut) akibat menghirup udara yang dikotori asap. Sejumlah anak-anak telah meninggal. Malah di Palembang ada bayi yang baru berumur 28 hari meninggal dunia akibat sesak nafas karena menghirup udara bercampur asap. Bayi lahir yang mestinya merasakan segarnya udara untuk tumbuh berkembang terpaksa disuguhi asap. Sangat menyedihkan, pilu mengharukan.
Untuk mencegah korban lebih banyak dan demi kesehatan maka sekolah-sekolah diliburkan agar anak-anak bisa tetap tinggal di dalam rumah meminimalkan menghirup udara kotor. Bagi yang harus beraktivitas di luar ruangan harus mengenakan masker agar udara kotor tersaring lebih dulu sebelum masuk hidung. Dengan mengenakan masker terus menerus setiap hari ketika di luar ruangan dalam waktu berbulan-bulan memang tidak nyaman, menyiksa. Tetapi semua harus dilakukan demi kesehatan, meskipun belum tentu efektif. Ancaman terserang ISPA tetap mengancam.
Akibat kabut asap maka semua moda transportasi terganggu terutama transportasi udara benar-benar sangat terganggu. Jadwal penerbangan banyak dibatalkan atau ditunda yang tidak bisa dipastikan keberangkatannya. Malahan bandara Sultan Thaha di Jambi ditutup sama sekali. Jarak pandanag di pagi sangat pendek kurang dari 50 meter. Kondisi yang tidak layak dan berbahaya untuk pesawat terbang bisa take-off atau landing. Demi keselamatan maka penerbangan lebih baik dibatalkan atau ditunda tanpa kepastian. Jelas maskapai penerbangan mengalami kerugian sangat besar. Biro perjalanan/travel ikut menderita kerugian. Para penguasaha restoran dan para pedagang di bandara pun ikut kena imbasnya. Jadwal penerbangan yang kacau dan tidak pasti menjadikan acara pun menjadi berantakan, tertunda atau batal sama sekali. Masyarakat penumpang juga mengalami kerugian dari sisi waktu, uang dan kesempatan karena jadwal penerbangan serba tidak pasti.
Tidak hanya manusia yang dirugikan namun binatang pun juga merasa terancam. Habitat mereka tinggal ikut hangus terbakar. Sumber makanan ikut berkurang bahkan lenyap. Mereka kelaparan. Api memang melalap apa saja, tidak mengenal apapun kecuali air dan benda yang tidak bisa terbakar. Penghuni hutan, seperti monyet, burung, ular, babi, dan lain-lain ikut menjadi korban. Mereka akan lari keluar dari habitat huniannya mencari tempat yang dirasa aman, dan tidak menutup kemungkinan nyasar ke pemukiman penduduk untuk mencari makan dan rasa aman dari api. Bahkan bila memang ada (bagi yang percaya) mungkin makhluk halus yang seram identik hantu penunggu hutan yang akrab dengan sebutan gendruwo, tetekan, pocongan, wewe, kuntilanak, peri, jin lain-lain akan lari tunggang langgang mencari tempat yang dingin, sejuk. Hutan yang sejuk dihuni dengan pohon-pohon rindang telah berubah menjadi lautan api. Kabut asap tidak saja dirasakan masyarakat Sumatera dan Kalimantan tetapi juga sudah dirasakan oleh masyarakat negara tetangga, Singapura dan Malaysia.
Akibat bencana asap semuanya menjadi rugi dan menderita secara fisik (ISPA, mata pedih, nafas sesak, kotor, abu lembut menempel di mana-mana) yang kemudian merembet menjadi menderita psikis yakni stres, jengkel, marah, jenuh, putus asa, bosan dan sebagainya. Rentetan penderitaan tersebut menjadikan semuanya kurang atau tidak produktif yang akhirnya kinerja rendah dan capaian tujuan juga rendah.

Salah Bersikap
Bencana asap akibat kebakaran hutan dan lahan khususnya di Sumatera dan Kalimantan selalu terjadi pada saat musim kemarau. Sudah belasan bahkan puluhan tahun peristiwa kebakaran hutan dan lahan berulang setiap tahun yang penyebabnya juga sudah bisa ditebak yakni mereka (perorangan dan perusahaan) yang umumnya akan membuka lahan untuk perkebunan atau pertanian. Mereka sengaja membakar karena biayanya sangat murah dan lebih cepat daripada dengan tidak membakarnya. Kemungkinan sangat kecil bahwa pemicu kebakaran semata-mata akibat teriknya matahari kemudian hutan atau lahan gambut bisa terbakar sendiri. Juga kecil sekali diakibatkan oleh puntung rokok yang masih ada apinya dibuang tanpa sangaja bisa membakar ratusan ribuan hektar. Berapa orang yang tidak sengaja membuang puntung rokok?. Pemicunya tentu juga bukan perilaku binatang. Binatang tidak mungkin merokok dan bisa menyalakan api untuk membakar hutan dan lahan, binatang butuh hutan untuk hidup. Akankah jika binatang bisa membakar akan membakar tempat tinggalnya?. Jadi, pemicu kebakaran hutan dan lahan adalah ulah atau perilaku manusia yang lebih rendah dari binatang.
Nasi sudah menjadi bubur. Api sudah menjalar ke mana-mana dengan produksi asap yang luar biasa sampai bisa menyelimuti pulau besar Sumatera dan Kalimantan berbulan-bulan. Pemerintah sudah bekerja keras untuk memadamkan api. Tidak saja Badan Nasional/Daerah Penanggulangan Bencana yang kerja siang malam berbulan-bulan menjinakkan api, tetapi ribuan anggota TNI dan masyarakat relawan dikerahkan untuk berperang melawan api. Hujan buatan pun dilakukan ditambah berton-ton bom air dijatuhkan dari helikopter yang selalu hilir mudik yang konon biayanya 150 juta sekali menjatuhkan bom air. Namun apa daya, api tetap menyala dan sepertinya api melawan, ap tidak takut dengan tentara, tidak takut dengan bom air, tidak gentar dengan hujan buatan. Di satu tempat padam, namun di lain tempat muncul api, begitu seterusnya. Seperti pepatah “patah tumbuh hilang berganti”.
Pemerintah sepertinya sudah kehilangan akal. Milyaran bahkan trilyunan dana sudah dihabiskan untuk operasional memadamkan kebakaran hutan dan lahan, namun hasilnya sia-sia. Sangat tidak produktif. Mestinya dana sebesar itu bisa untuk biaya pembangunan kesejahteraan rakyat. Sejak awal negara-negara tetangga sudah siap akan membantu. Tetapi pemerintah masih jaga gengsi dan masih sanggup menangani. Faktanya kedodoran. Akhirnya, gengsi harus ditaruh dulu dan sekarang siap menerima bantuan dari negara mana saja demi bencana asap segera berlalu. Semoga bantuan upaya pemadaman kebakaran dari negara-negara tetangga bisa membawa hasil.
Bukan berarti meremehkan kehebatan sarana untuk memadamkan, namun seandainya pasukan penjinak api dari negara-negara tetangga juga kedodoran, maka satu-satunya harapan yang pasti bisa memadamkan kebakaran hutan dan lahan gambut hanyalah Allah SWT dengan kekuasaanNYA segera menurunkan hujan yang sangat lebat. Dengan hujan lebat sekali saja selama 30 menit dan merata, pasti api akan padam. Api hanya kalah dengan air, api tidak bisa membakar yang basah. Jika tanah gambut sudah basah banyak mengandung air maka api akan pergi tidak perlu di suruh-suruh. Untuk itu, agar hujan segera turun, selain usaha memadamkan api, sudah saatnya segera pemerintah bersama organisasi keagamaan (Islam) menggerakan secara serentak dalam hari dan jam yang sama di semua tempat ibadah khususnya seluruh umat Islam untuk berbondong-bondong melaksanakan sholat sunat minta hujan dan berdoa secara sungguh-sungguh agar Allah swt segera menurunkan hujan.
Jika musim hujan pun sudah tiba dan api sudah padam, kabut asap pun hilang, maka umumnya kita melupakan bencana asap. Inilah sikap salah yang berdampak panjang. Kita (termasuk pemerintah) belum terbiasa bersikap antisipatif atau preventif. Kita umumya bersikap reaktif ketika bencana sudah besar dan dirasakan membawa korban. Pemerintah khususnya propinsi dan kabupaten bahkan desa kurang atau tidak reaktif sama sekali ketika titik api masih sedikit. Mestinya pemerintah desa sebagai garda terdepan pemerintahan sudah bisa melakukan tindakan tanpa menunggu perintah bupati. Bupati mungkin juga tidak bersikap preventif sehingga lupa memerintahkan atau bertindak, apalagi dana untuk mencegah dan memadamkan kebakaran tidak dianggarkan. Pemerintah desa tanpa dana juga ogah-ogahan bertindak. Kebakaran hutan dan lahan pun meluas.
Meskipun saat ini masih dalam suasana berperang melawan api, ada baiknya juga mulai memikirkan untuk mencegah atau bersikap preventif/antisipatif agar tahun depan tidak ada titik api (zero spot) sehingga tidak terjadi bencana kebakaran. Karena kebakaran hutan dan lahan pada umumnya akibat dari ulah kesengajaan manusia, maka tindakan pencegahan yang utama adalah jangan ada satu pun orang melakukan pembakaran hutan dan lahan. Caranya, di daerah kabupaten yang berpotensi setiap tahun selalu terjadi kebakaran lahan, di tingkat desa wajib dibentuk Komunitas Anti Kebakaran Hutan dan Lahan (KAKHL) yang berbasis masyarakat dan pemerintah desa. Anggota komunitas tersebut adalah warga desa setempat dan yang bertanggung jawab pemerintaha desa. Pemerintah desa pasti mempunyia data warga yang patut diduga yang sering melakukan pembakaran hutan dan lahan. Mereka dilibatkan dalam komunitas tersebut.
Anggota komunitas harus diberi pendidikan khusus tentang hal itu terlebih dulu oleh pihak yang terkait sehingga bisa melaksanakan tugas dan mempunyai komitmen serta tanggung jawab yang tinggi dalam bertugas. Pada bulan Mei atau Juni menjelang musim kemarau, KAKHL dibawah koordinasi pemerintah desa mulai bergerak untuk terus menerus melakukan sosialisasi larangan membuka lahan dengan membakar. Selain itu, sepanjang musim kemarau komunitas melakukan patroli untuk mendeteksi lahan gambut atau hutan yang kemungkinan muncul titik api. Untuk itu semua, pemerintah harus mau menyediakan dana dan sarana yang cukup memadai untuk operasional dan insentif/honor bagi anggota komunitas dan pemerintah desa. Daripada dana trilyunan untuk memadamkam api tetapi tidak padam alias habis sia-sia dan banyak pihak menjadi korban akibat asap, maka dana tersebut lebih baik dikucurkan ke masyarakat/komunitas dan pemerintah desa untuk melakukan tindakan preventif. Jika masyarakat dan pemerintah desa dilibatkan dan diberi biaya yang memadai untuk tugas tersebut, ada harapan besar kebakaran hutan dan lahan bisa dicegah. Kalau gagal melaksanakan tugas maka insetif atau honor dikurangi atau tidak diberikan. Pemerintah kabupaten dan provinsi yang gagal mencegah kebakaran hutan dan lahan akibat ulah manusia harus diberi sanksi, misalnya dikurangi anggaran yang mestinya dikucurkan pusat ke daerah agar daerah lebih serius dalam bersikap mencegah kebakaran.
Sikap preventif lainnya, pemerintah melalui institusi yang terkait dalam bersikap preventif khususnya terhadap perusahan perkebunan, menjelang musim kemarau harus dipanggil atau didatangi untuk diingatkan akan aturan yang berlaku bahwa membakar hutan untuk membuka lahan adalah tindakan pidana dan tunjukkan sanksi-sanksinya. Seandainya mereka melanggar harus ditindak tegas sesuai aturan yang berlaku. Selama ini tindakan preventif tampak tidak gencar dilakukan dan tindakan tegas juga belum terwujud, buktinya setiap tahun masih saja ada perusahaan yang berani membuka lahan dengan membakarnya.
Ide pemerintah untuk membuat embung-embung dan saluran air di lahan gambut agar di musim hujan dapat menampung air sehingga ketika musim kemarau tanah gambut tetap lembab, adalah sikap preventif dan antisipatif yang secepatnya segera diwujudkan. Dengan demikian, di musim hujan mendatang segera penuh terisi air dan tahun depan di musim kemarau tidak ada lagi lahan gambut terbakar karena masih tetap lembab/basah. Bukankah api takut dengan yang basah. Selama ini alasan membakar hutan dan lahan untuk berkebun dan bertani karena sangat murah, efektif dan efisien meskipun akhirnya berdampak buruk bagi banyak pihak. Oleh karena itu, khusus untuk petani (bukan perusahaan) perlu dipikirkan oleh pemerintah untuk diberi bantuan atau pinjaman lunak kepada petani yang akan membuka lahan sehingga aksi membakar tidak akan dilakukan.
Marilah kita berubah bersikap jangan menyalahkan alam, menyalahkan elnino, menyalahkan kemarau panjang, menyalahkan kekeringan. Menyalahkan alam sama saja menyalahkan Sang Pencipta Alam, Tuhan, Allah SWT. Semua itu sudah skenario Tuhan, kehendak Allah SWT. Allah SWT tidak bersalah. Allah SWT adalah Maha Benar. Kita, manusia yang bersalah, yang harus berubah sikap untuk arif dan bisa menyiasati alam. Di balik kemarau panjang dan ulah manusia pada tahun ini ada hikmah yang bisa kita petik antara lain supaya kita bisa merubah sikap dari sikap reaktif ke sikap preventif antisipatif. Ayo berbaik baik dengan alam bukan memusuhi dan berbuat jahat dengan alam. Membakar hutan adalah menjahati alam, empunya alam dan pencipta alam pun menjadi murka. Tinggalkan sikap jahat dengan alam. Ya, Allah ampunilah dosa dan kesalahan kami, segeralah Engkau ya Allah menurunkan hujan lebat agar penderitaan kami tidak berkepanjangan. Amin. Terimakasih.
Palembang, 10 Oktober 2015.
 


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: