20 06 2015

Pemilihan Rektor:
POLITIK EKSKLUSIF CENDEKIAWAN

Oleh:
Joko Siswanto
Dosen FISIP UNSRI

Pemilihan pimpinan perguruan tinggi (Rektor, Ketua) khususnya perguruan tinggi negeri tidak kalah menarik untuk dicermati kendati hanya terjadi di lingkungan terbatas. Hal ini dikarenakan rektor mempunyai kedudukan yang penting dan strategis tidak saja dalam mendidik dan melahirkan sumber daya manusia dari jenjang S-0, S-1, S-2 dan S-3, tetapi juga harus memimpin memajukan dan mengembangkan ilmu pengetahuan yang bisa bermanfaat bagi peradaban dan kesejahteraan masyarakat.
Jika pemilu legislatif, pemilu presiden atau pemilu kepala daerah merupakan pemilu inklusif karena diikuti oleh semua rakyat yang memenuhi syarat untuk memilih (umum) dan sangat heterogin dari latar belakang sosial (pendidikan, kondisi ekonomi), maka tidak demikian halnya dengan pemilihan rektor yang hanya diikuti oleh anggota senat tingkat universitas sehingga eksklusif. Anggota senat terdiri dari semua guru besar (otomatis), pimpinan universitas atau sekolah tinggi atau institut, dekan, ketua lembaga dan wakil dosen per jurusan/program studi secara proporsional. Eksklusifitas anggota senat perguruan tinggi selain keanggotaannya terbatas dan rekrutmennya juga elitis, semua anggota senat berpendidikan tinggi (mayoritas di PTN sudah berpendidikan S-3) dan dari sisi ekonomi relatif semuanya sejahtera.
Dengan kondisi anggota senat yang eksklusif tersebut, maka tingkat kemandirian dalam berfikir dan bersikap sangat tinggi. Mereka adalah cendekiawan yang mempunyai kebebasan mimbar akademik. Cendekiawan membutuhkan kebebasan karena tanpa kebebasan tidak akan ada kreativitas dalam berfikir dan berkarya. Orientasinya selalu kepada obyektivitas dan kebenaran sebagai nilai-nilai yang harus dihasilkan, ditegakkan, dihormati dan dijunjung tinggi yang dilandasai dengan nilai kejujuran, rasionalitas dan kaidah keilmuan.
Pemilihan rektor adalah peristiwa politik yang eksklusif. Anggota senat perguruan tinggi yang cendekiawan itu harus berpolitik, harus bersikap menentukan pilihan siapa calon rektor yang harus dipilihnya. Dalam menentukan pilihannya tentu akan bersikap lebih bermartabat dan menghargai dirinya sendiri. Tidak seperti dalam pemilu legislatif, presiden maupun pilkada yang umumnya pemilihnya masih bisa dibeli atau menjual diri (wani piro) sehingga politik uang sangat merebak dan pemilih tak lagi mempunyai martabat dan harga diri.
Dalam kepustakaan ilmu politik dalam studi voting behavior dikenal ada pendekatan sosiologis, psikologis dan rasional. Pendekatan sosiologis atau Mazhab Colombia pada dasarnya berteori bahwa perilaku memilih seseorang dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti sosial ekonomi, afiliasi etnis, tradisi keluarga, usia, jenis kelamin, agama, pekerjaan, tempat tinggal/daerah, dan lain-lain. Pendek kata, faktor primordial tradisional masih bisa menjadi pengaruh kuat pilihan seseorang. Pendekatan psikologis atau Mazhab Michigan pada dasarnya berteori bahwa seseorang menentukan pilihannya bisa dikarenakan identifikasi seseorang terhadap partai tertentu yang kemudian akan mempengaruhi sikap orang tersebut (pemilih) terhadap para calon dan isu-isu yang berkembang. Dengan kata lain, situasi emosional (suka dan tidak suka) terhadap calon berpengaruh terhadap pilihan seseorang. Dan yang ketiga pendekatan rasional atau sering disebut pendekatan ekonomi yang menyatakan bahwa perilaku pemilih terhadap kandidat atau parpol tertentu berdasarkan hitung-hitungan tentang apa yang bisa diperoleh bila seseorang menentukan pilihannya.
Apakah teori perilaku pemilih dalam pemilihan umum tersebut di atas juga berlaku dalam pemilihan rektor mengingat pemilihnya adalah para kaum cendekiawan yang eksklusif dan relatif homogen dari sisi berpendidikan tinggi, tidak miskin, mandiri, bebas bersikap, obyektif, berfikir logis, tidak mudah dipengaruhi, dan tidak lagi bersikap primordial. Dengan fakta demikian, asumsinya anggota senat dalam menjatuhkan pilihannya bisa jauh lebih bersikap kritis, obyektif, rasional, tidak transaksional dan jauh dari kepentingan pribadi. Kepentingan yang diperjuangkan dalam memilih rektor adalah semata mata terpilih rektor yang bisa membawa perguruan tinggi cepat bergerak lebih maju dan bisa mewujudkan visinya.
Sebagai pijakan memilih agar relatif obyektif, kritis dan rasional, hendaknya anggota senat mempunyai kriteria moralitas dan akademik tertentu yang mendasar, misalnya kriteri IKIK yakni Integritas, Kepemimpinan, Intelegensia dan Komitmen. Untuk bisa mengetahui IKIK calon, maka sangat dibutuhkan track record para calon rektor. Memburu track record tidak saja dari catatan tertulis formal atau daftar riwayat hidup namun juga bisa menggali informasi yang tidak tertulis dan informal yang kadang-kadang lebih obyektif. Informasi tersebut bisa didapat dari lingkungan kerjanya, teman-temannya atau kelompoknya, tetangga, bekas bawahannya, relasinya atau mengamati perilakunya selama ini toh umumnya calon rektor adalah teman-temannya sendiri.
Selain itu, calon rektor bisa dinilai dari program kerjanya mempunyai relevansi dengan visi misi perguruan tinggi yang bakal dipimpin atau tidak, kemampuan berkomunikasi dalam menyampaikan gagasan mampu atau tidak, keluasan dan jaringan sosial politik yang dimiliki yang bisa mendukung kepemimpinannya apakah luas atau tidak, dan sebagainya. Dalam memburu dan menggali track record calon rektor tersebut, anggota senat khusunya peran anggota senat wakil dosen harus mau mendengar dan memburu informasi dari para dosen yang diwakilinya. Jangan bertindak atas nama dirinya dalam menentukan pilihan. Dari informasi yang terkumpul tersebut bisa dibuat matrix tentang dimensi atau kriteria yang dinilai sehingga relatif lebih mudah memberikan penilaian terhadap para calon rektor.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa perilaku pemilih dalam menentukan pilihannya ternyata tidak bisa benar-benar bebas dari pengaruh sosiologis dan psikologis termasuk dalam memilih rektor kendatipun pemilihnya eksklusif. Faktor sosilogis yang berpengaruh dalam pemilihan rektor mungkin bukan yang primordial tradisional seperti ikatan agama, daerah, atau etnis, tetapi bisa primordial modern seperti ikatan satu alumni atau satu fakultas. Atau faktor psikologis ikut memberi warna dalam menjatuhkan pilihannya misalnya sudah suka atau jatuh hati sama calon tertentu akan sulit menjatuhkan kepada calon lain kendati dari obyektivitas penilaian calon yang disukai mungkin IKIK-nya kurang baik. Mungkin juga karena tekanan orang kuat (kelompok berpengaruh) baik dari dalam maupun dari luar sehingga mengaburkan atau bahkan melenyapkan kemandirian/kebebasan memilih dan obyektifitas dalam menentukan pilihan.
Sebentar lagi Unsri akan memilih rektor, harapan warga kampus baik dosen, mahasiswa dan karyawan hendaknya anggota senat yang cendekiawan bisa berfikir kritis, rasional, mandiri dan bebas tekanan dari siapapun dan dalam bentuk apapun sehingga akan bisa menentukan pilihannya dengan tepat. Kepentingan anggota senat hanyalah memilih rektor yang bisa memajukan Unsri bukan memilih rektor agar dirinya bisa ikut menjadi pejabat atau birokrat kampus. Berpolitiklah dalam pemilihan rektor yang bermartabat sebagai seorang ilmuwan bukan berpolitik seperti di pemilihan umum yang penuh transaksional dalam berbagai bentuk. Terima kasih.
Palembang, 12 Juni 2015.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: