17 08 2014

Renungan HUT RI Ke-69:
MERDEKA UNTUK TIDAK MERDEKA

Oleh: Joko Siswanto
Dosen FISIP UNSRI

Merdeka atau bebas merupakan kata ibarat mantra yang mempunyai makna penyemangat yang menyenangkan dan ada harapan besar di dalamnya. Bebas dan kebebasan terkandung makna suasana hati yang tidak ada beban, tidak ada penderitaan psikis dan fisik, tidak ada tekanan dari manapun dan oleh siapa pun, bisa mengatur dan mengurus diri sendiri, bisa berkreasi dan melakukan apa pun yang disuka dan bahkan mengikuti kemauan hawa nafsu. Ya, menikmati suasana bebas atau kebebasan ibarat bisa berangkat tidur kapan saja dan mau bangun tidur semaunya tanpa ada yang bisa mengganggu. Betapa senang dinyatakan bebas dari penjara atau tuntutan hukum . Betapa bahagia dinyatakan bebas dari biaya pendidikan dan berobat. Bahkan anak-anak sekolah sangat girang jika ada jam-jam belajar dibebaskan dari belajar karena gurunya mengikuti rapat. Ya, kebebasan membawa kegembiraan.
Negara kita, Indonesia, dulu dijajah Belanda konon selama 350 tahun. Dijajah bangsa lain itu menderita lahir batin, tidak nyaman, tidak sejahtera, tidak bisa maju, dibodohkan, tidak mempunyai harga diri, hanya diremehkan, hanya menjadi babu, hanya menjadi jongos, hanya menjadi kuli penjajah. Tidak hanya itu, kekayaan alam juga diambil untuk kepentingan negara dan bangsa penjajah. Dijajah berarti tidak bebas. Dijajah berarti tidur tidak nyenyak makan tidak enak. Oleh karena itu, mereka yang menyadari betapa pedihnya dijajah bangsa lain yakni para aktivis atau kaum pergerakan pada waktu itu berusaha untuk membebaskan diri dari cengkeraman penjajah. Berbagai upaya dan strategi dilakukan entah yang bersifat evolusioner atau gerakan revolusioner, baik yang kooperatif maupun non kooperatif dengan penjajah, baik melalui gerakan sosial pendidikan maupun gerakan sosial politik, baik mekalui ormas maupun orpol, baik melalui gerakan bawah tanah maupun terang-terangan, baik dengan diplomasi maupun perlawanan senjata. Mereka berjuang bertahun-tahun sekuat tenaga, pantang menyerah dan tanpa pamrih demi bisa merdeka atau bebas dari penjajah.
Perjuangan mereka akhirnya membawa hasil. Pada tanggal 17 Agustus 1945 di Pegangsaan Timur 56 Jakarta Soekarno-Hatta atas nama Bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaan yang berarti bebas dari derita penjajah, bebas dari dekapan Belanda, bebas bisa menentukan nasib hidupnya sendiri ke depan. Buah manis pun dipetik. Kemerdekaan sudah di tangan, kebebasan pun telah digapai. Pikiran, emosi, air mata, harta dan darah mereka telah menyirami bumi Indonesia untuk menyuburkan harapan dan cita-cita untuk hidup merdeka dan sejahtera. Mereka itulah pendahulu kita yang kemudian menjadi pahlawan bangsa, yang sebagian berbaring tenang di makam-makam pahlawan yang setiap tahun dikunjungi para penerus bangsa untuk dikenang, didoakan dan diteladani. Sebagian ikhlas memilih dan dibaringkan di makam-makam biasa. Mereka semua pahlawan bangsa.
Kemerdekaan itu pun disambut dengan kegembiraan oleh rakya. Berbagai perayaan dengan berbagai lomba dan permainan dilakukan oleh semua lapisan rakyat atas inisiatif dan dana rakyat secara ikhlas. Semua ingin bahagia dengan kemerdekaan, semua ingin mengenang masa lalu yang penuh heroik. Semua menengok pahlawan bangsa, pahlawan kemedekaan, pahlawan kebebasan. Pahlawan sejati tidak merasa pahlawan, mereka tidak membutuhkan penghormatan. Pahlawan sejati hanya berbakti tidak ada pamrih untuk dipuji. Pahlawan sejati berjuang hanya untuk mengabdi demi ibu pertiwi. Tetapi pemerintah dan generasi penerus harus menyadari bahwa tanpa mereka semua, negeri ini tidak ada dan tidak berdiri. Tanpa mereka kebebasan tidak dinikmati. Oleh karenanya, wajib bagi generasi penerus bangsa yang harus bersikap menghormati dan menghargai pengorbanan mereka kendati mereka tidak membutuhkan penghormatan itu.
Kini, bebas dari politik penjajahaan bangsa lain sudah kita rasakan selama 69 tahun. Bangsa Indonesaia kini sudah mandiri dalam bersikap dan bertindak. Namun, sudahkah kemerdekaan ini membawa arti bagi kehidupan yang hakiki bagi bangsa ini?. Sudahkah kita bebas dari persoalan dasar bangsa yang mestinya sudah tidak lagi menjadi persoalan?. Sudahkah kebebasan bisa membawa bangsa ini menjadi lebih beradab?. Sudahkah kemerdekaan menjadikan bangsa ini sejahtera dan bebas dari kemiskinan dan kebodohan?.
Makna kemerdekaan, arti kebebasan ternyata belum ditempatkan oleh masyarakat dan para penyelenggara negara kepada makna yang proporsional, yakni makna bebas yang seharusnya mengandung peradaban dan makna yang mengandung tanggung jawab moral, sosial dan hukum. Masyarakat benar-benar menikmati kebebasan itu, bebas tanpa beban tanggung jawab moral. Coba kita tengok dan amati perilaku masyarakat kita. Mayarakat bebas membuang sampah sembarangan, bebas berjualan di trotoar, bebas menempati tanah kosong milik orang lain, bebas membiarkan hewan ternak berkeliaran di jalan raya, bebas melanggar lalu lintas/berkendaraan, bebas menikmati rokok di mana-mana, bebas parkir sembarangan, pejabat bebas menggunakan uang negara (korupsi), bebas memainkan aturan hukum yang berlaku untuk kepentikan dirinya dan kelompoknya, bebas demonstrasi berhari-hari (di depan gedung MK saat ini selama sidang PHPU Pilpres) tanpa rasa ewuh pakewuh mengganggu lalulintas, bebas berkampanye menjelek-jelekan lawan (kampanye hitam), oknum aparat pemerintah bebas memungut uang kepada masyarakat (pungli), bebas menutup jalan umum untuk dijadikan tempat pesta perkawinan, bebas membakar lahan, bebas membunyikan mercon dan kembang api tanpa dosa mengganggu bayi yang lagi tidur, bebas membabat hutan dan kebebasan-kebebasan lain yang sebenarnya tidak dapat dilakukan semaunya sendiri.
Bagi yang pernah berkunjung atau telah merasakan tinggal di negara negara maju entah di Eropa, Amerika, Australia, Jepang atau di negara tetangga Singapura, ternyata kebebasan seperti yang dilakukan masyarakat Indonesia seperti itu nyaris tidak ada. Semua relatif serba tertib, semua dilakukan dan harus dijalani dengan taat aturan. Semuanya sudah ada rambu-rambunya dan pembatasan-pembatasan dengan jelas. Pembatasan itu bisa tumbuh karena norma yang terbentuk atas dasar kesadaran dan menjunjung tinggi etika sosial atau karena norma hukum yang memaksanya. Dan umumnya semua taat terhadap rambu-rambu dan pembatasan-pembatasan itu. Mereka menyadari bahwa pembatasan itu konsekuensi dari sikap menghargai kebebasan itu sendiri. Jadi, merdeka atau bebas harus dibarengi rasa rela berkorban dan mau bertanggung jawab demi kepentingan dan kenyamanan bersama. Bukan kebebasan mutlak semau gue seperti yang masih ada dalam masyarakat kita, Indonesia.
Benarlah yang dikatakan Nelson Mandela yang 27 tahun dipenjara karena politik apartheid yang menyatakan bahwa merdeka itu tidak cuma bebas dari belenggu yang mengikat kita, tetapi juga hidup sedemikian rupa sehingga kita menghargai dan meningkatkan kebebasan orang-orang lain juga (Lentera, Intisari, Agustus 2014).
Marilah kita peringati HUT RI ke 69 ini dengan mawas diri, sudahkah kita memaknai merdeka ini dengan mau dan rela bersikap tidak merdeka?. Jika kita mau bersikap demikian berarti kita menghormati dan menghargai pengorbanan para pahlawan bangsa dan mengisi kemerdekaan dengan rasa tanggung jawab untuk mewujudkan bangsa dan negara yang beradab agar dihargai oleh bangsa lain. Dan Pemerintah harus menyadari bahwa negeri ini juga belum bebas dari kemiskinan dan kebodohan yang bisa membelenggu peradaban. Tidak ada negara modern yang bisa berdiri sendiri tanpa kerjasama dan saling pengaruh antar sesama negara. Pemerintah sebagai presentasi negara tetap harus berani mandiri dan bebas dalam bersikap kendati harus menjalin kerjasama dengan pihak lain. MERDEKA….!!!!. Terimakasih

Palembang, 14 Agustus 2014.

Catatan: Tulisan ini dimuat di harian Sumatera Ekspres, Senin,  18 Agustus 2014.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: