11 08 2014

BAHAYA ISIS BAGI NKRI
Oleh: Joko Siswanto
Dosen FISIP UNSRI
Dunia kembali dikejutkan dan diresahkan hadirnya organisasi radikal yang berjubah agama dengan sebutan Islamic State of Iraq and Syria atau negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS). Sebagaimana yang ditulis Trias Kuncahyono (Kompas, 4/8) ISIS bermula dari lahirnya Al Qaeda Irak (AQI) tahun 2003. AQI didirikan Abu Musab al-Zarqawi asal Jordania, yang pada tahun 2006 dibunuh Amerika Serikat. Ia digantikan Abu Ayyoub al-Masri asal Mesir yang mendukung pembentukan Islamic State of Irak (ISI). Setelah ISI berdiri, Abu-Baker al-Baghdadi yang dikenal dengan nama Abu Dua atau Hamed Dawood Mohammed Khalil al-Zawri (Awwad Ibrahim Ali-al-Badri al-Samarrai dan Abu Bakr al-Husayni al-Qurashi al-Baghdadi) menjadikan Baquba sebagai markas besarnya. Al-Baghdadi, orang Irak, menggantikan Masri yang tewas dibunuh tentara AS dan Irak.
Pada 2012, Al-Baghdadi mengirim orang-orangnya untuk membentuk Al Qaeda cabang Suriah yang diberi nama Jabhat al-Nusra. Kelompok yang bertujuan menyingkirkan Presiden Bashar al-Assad dan mendirikan negara Islam Sunni berorientasi salafis dipimpin Abu-Muhammad al-Jawlani. Menurut Australian National Security, mereka menerima dana dan dukungan dari AQI dan ISI. Namun, tunduk kepada Ayman al-Zawahiri, pemimpin Al Qaeda.
Al-Baghdadi yang ingin menjadi pemimpin tunggal, tanggal 8 April 2003 lewat sebuah dekrit menyatakan, NIR dan Jabhat al-Nusra berubah menjadi ISIS/ISIL. Namun, Jabhat al-Nusra menolak hal itu. Percekcokan antara ISI dan Jabhat al-Nusra berkepanjangan dan gagal ditengahi Ayman al-Zawahiri yang pada akhirnya menyatakan bahwa Al Qaeda memutus hubungan dengan ISIS karena ISIS memiliki konsepsi dan posisi sendiri; tidak tunduk kepada Al Qaeda Pusat dan Ayman.
Tumbangnya Saddam Hussein yang melahirkan rezim Syiah di Irak tidak memberi tempat kepada kaum Sunni. Kegagalan pemimpin Irak, termasuk Perdana Menteri M Nouri al-Maliki, membangun sistem politik inklusif telah memberi jalan bertumbuhkembangnya kelompok militan di seluruh Irak yang pada gilirannya melahirkan ISIS. Kaum militan memprotes marginalisasi ekonomi dan politik oleh penguasa, Syiah. Dukungan AS, Arab Saudi, dan Qatar pada oposisi berhaluan keras di Suriah juga memberikan andil lahirnya ISIS.
Dari riwayat singkat ISIS tersebut, tampak jelas bahwa keberadaan dan gerakan ISIS yang umumnya kaum Sunni merasa diberlakukan tidak adil dari segi ekonomi dan politik oleh penguasa setempat yang umumnya kaum Syiah. Dengan modal ideologi Al Qaeda yang radikal dan dibakar semangat rasa kecewa yang amat sangat terhadap pemerintahan kaum Syiah, maka ISIS melawan pemerintahan yang sah di Irak dan di Suriah. Dari berbagai sumber yang penulis baca, pasukan ISIS bertindak sangat brutal dan sangat kasar. Untuk merebut Kota Mosul di Irak Utara tanpa merasa dosa dan salah masjid-masjid milik kaum Syiah dihancurkan. Masjid-masjid milik kaum Sunni yang tidak setuju dengan kehadiran mereka juga diluluhlantakkan. Malahan tempat suci makam Nabi Yunus juga diporakporandakan. Mereka membunuh kaum minoritas di sekitar Mosul. Mereka mengusir kaum Kristen kalau tidak mau membayar sejumlah uang atau pindah agama. Mereka akhirnya dapat menguasasi instalasi minyak di Irak dan Suriah. Penghasilan dari menguasasi minyak konon bisa mencapai Rp.30 milyar /hari. Sumber keuangan untuk berjuang katanya dari donasi pribadi dan tindak pemerasan, perampokan dan kriminal lainnya. Uang tersebut untuk membiayai operasional perang dan gaji para tentara yang berasal dari berbagai negara termasuk dari Indonesia. Mereka mempunyai uang melimpah dapat membeli senjata dan membayar pasukan.
Dalam perkembangan selanjutnya, ISIS bukan lagi murni gerakan yang berbasis agama tetapi sudah merupakan gerakan politik yang berkedok agama dengan menebarkan idiologi ketakutan yang sangat ekstrim. Oplosan antara agama dan politik yang dilandasai sikap ekstrimisme dan fundamentalisme dapat berubah menjadi doktrin kekerasan yang sangat menakutkan. Trias Kuncahyono (Kompas5/8) menyatakan bahwa kekerasan atas nama agama adalah petaka yang sangat mengerikan. Petaka itu akan semakin mengerikan apabila mendapat amunisi dari kekuasaan. Itulah yang kini sedang dilakukan ISIS dengan mengangkat senjata untuk menaklukkan semua dan siapa saja yang dianggap sebagai musuh dalam arti luas, termasuk musuh ideologi.
Sudah sangat gamblang bahwa gerakan dan ideologi yang dikembangkan ISIS sangat menyeramkan. Jika kelompok garis keras/teoris Al Qaeda dalam berjuang yang dijadikan target adalah negara atau pihak yang dianggap kaum kafir (Amerika dan sekutunya). Tidak demikian halnya dengan ISIS. Tampaknya ISIS lebih berbahaya dari Al Qaeda karena justru sesama kaum Islam dimusuhi dan tindakannya sangat keji dan brutal. Negara dan pemerintahannya dilawan. Jadi, organisasi ISIS tidak lain merupakan kelompok pemberontak di Irak dan Suriah dengan berbaju agama beraliran garis keras atau ekstrem. ISIS sangat cenderung memaksakan ideologinya dan kebenarannya versi mereka. Siapa saja yang tidak setuju dengan mereka akan dilawan dan dimusuhi. Mereka anti pluralitas. ISIS sudah menjadi ideologi radikal bentuk baru penganut Islam yang sangat tidak islami.

Ancaman NKRI
Siapapun orangnya dan agama apapun jika masih waras dan sehat tidak akan setuju dengan organisasi dan sepak terjang ISIS. Islam itu damai, islam itu rahmat untuk seluruh alam. Islam tidak mengenal kekerasan dan pemaksaan. Islam itu bermusyawarah. Islam itu mencintai dan menghormati sesama umat manusia. Islam itu menjunjung dan menghargai pluralitas karena itu merupakan sunatullah, dan lain-lain. Jadi, jika ada kelompok yang mengaku berbasis Islam dengan melakukan tindak kekerasan yang melawan nilai-nilai islami tanpa alasan yang bisa dipertanggungjawabkan ajarannya sesuai ajaran Nabi Muhammad saw, maka kelompok tersebut harus dicegah dan dihentikan untuk diluruskan atau dibasmi.
Sudah ada WNI yang bergabung di ISIS dan berjuang di Irak dan Suriah. Melalui layar televisi dan YouTube dapat terlihat sebagai wajah orang Indonesia dengan memegang senjata tampak sangat bangga bergabung dengan ISIS dan mengajak umat Islam Indonesia untuk masuk dan mendukung ISIS. Di berbagai wilayah di Indonesia disinyalir sudah masuk ajaran-ajaran ISIS. Memang eksitensi kelembagaan belum kelihatan muncul dan gerakan yang bersifat fisik juga belum tampak. Tetapi dengan adanya gambar grafiti simbol ISIS di Karanganyar Jawa Tengah dan kegiatan sejumlah orang (upacara baiat) di suatu masjid terpencil di Malang Jatim, merupakan tanda-tanda bahwa sudah ada simpatisan atau pengikut ISIS di Indonesia.
Dengan dana besar yang dimiliki ISIS sangat mungkin kader-kader ISIS di Irak dapat menebar pengaruh di negara-negara lain termasuk ke Indonesia untuk merekrut anggota dan mengembangkan ideologi ISIS. Mereka akan menganut strategi ikut arus air mengalir kemudian tanpa sadar umat Islam akan dibelokkan untuk mengikuti ajarannya. Jika kemudian gerakan damai dinilai sudah mengakar kuat maka bukan hal yang tidak mungkin kemudian membangun kekuatan militer untuk melawan pemerintah yang sah untuk merobohkan NKRI. Ya, identik dengan yang dilakukan ISIS sekarang di Irak dan Suriah, melawan negara, pemerintah dan bangsanya sendiri hanya demi ambisi kelompoknya yang dibalut ajaran agama.
Kendati NKRI dengan ideologi Pancasila sudah menjadi ideologi final atau sudah paripurna, namun ancaman dan tantangan NKRI dan Pancasila tidak akan berhenti. Kendati komunis sebagai gerakan radikal kiri dapat ditumpas tetapi bahaya laten dalam wujud yang berbeda masih tetap harus diwaspadai. Kendati DI/TII sebagai gerakan ekstrim atau radikal kanan yang bercita-cita mendirikan Negara Islam Indonesia juga sudah mati, akan tetapi semangat dan benih-benih itu masih ada. Benih-benih ingin mengganti ideologi Pancasila dan mendirikan Negara Islam Indonesia serta yang tidak setuju dengan model demokrasi seperti sekarang ini masih belum terhapus bersih dari sebagian umat Islam Indonesia khususnya yang beraliran garis keras.
Ormas Islam di Indonesia dalam kaitannya dengan NKRI dan Pancasila dapat dikelompokkan menjadi tiga; yakni ormas yang sudah mantab dengan NKRI dan Pancasila, ormas Islam yang diduga masih setengah hati dengan NKRI dan Pancasila yang artinya dalam kemasan luar sudah tampak mendukung (sebagai strategi) tetapi sebetulnya dalam hati mereka tidak setuju; dan kelompok yang sebenarnya sama sekali tidak setuju dengan NKRI dan Pancasila namun tidak berani melawan secara terbuka dan biasanya hanya melakukan gerakan bawah tanah atau semacam operasi senyap yang tidak terorganisir secara rapi.
Bagi kelompok atau mereka yang masih setengah setuju dan yang tidak setuju terhadap NKRI dan Pancasila, maka fenomena dan kehadiran ISIS ibaratnya seperti vitamin dan perangsang untuk berani muncul dengan wajah yang semakin jelas dan ancang-ancang untuk bertindak lebih tegas. Jika di Indonesia ISIS kemudian ada yang memberi respon positif diduga kemungkinan dari kelompok kedua dan ketiga tersebut di atas. Mereka kelompok yang belum menyadari atau tidak mau sadar akan pluralitas bangsa, keberadaan NKRI dan Ideologi Pancasila. Jika gerakan ISIS dapat menyatukan kelompok-kelompok ini, maka tidak menutup kemungkinan ISIS akan cepat berkembang di Indonesia dan gerakan Islam radikal akan mudah menemukan jalan melakukan aksinya kendati dengan agenda yang belum tentu sama.

Sikap dan Tindakan
Kini ISIS sudah menjadi musuh baru dan musuh bersama. Ideologinya jelas bertentangan dengan Pancasila dan ajaran agama Islam itu sendiri. Gejala ISIS masuk Indonesia sudah ada kendati belum terang benderang. Kondisi ini bahaya dan merupakan ancaman bagi NKRI. Mencegah dan cepat bertindak melenyapkan tanda-tanda ketika masih kecil lebih baik daripada menunggu wujudnya jelas dan sudah menjadi besar. Oleh karena itu, agar umat islam Indonesia yang sejuk dan damai serta NKRI tidak terkena virus ISIS lebih parah, maka Pemerintah Indonesia harus mengambil langkah cepat antara lain segera menggalang kerjasama dengan negara lain (khususnya Islam) untuk bersikap tegas dan menyatakan bahwa ISIS merupakan gerakan yang menyimpang dari aqidah Islam dan harus menjadi musuh bersama untuk dihentikan bersama. Sedangkan tindakan ke dalam yang segera ditempuh antara lain melakukan pencegahan atau menyeleksi memberi visa bepergian secara ketat bagi umat Islam khususnya anak-anak muda yang akan ke Irak atau Suriah yang tidak jelas tujuannya dan patut diduga rencana kepergiannya ada kaitannya dengan ISIS. Keberhasilan ISIS secara politik dan ekonomi di Irak dan Suriah dapat menarik dan memotivasi anak-anak muda Indonesia yang terpinggirkan secara ekonomi dan sosial untuk masuk menjadi anggota ISIS semata-mata agar bisa mendapat uang mengingat di Indonesia tidak mempunyai kesempatan meraih akses ekonomi secara baik. Tujuan pencegahan dan selektif dalam pemberian visa adalah untuk membatasi gerakan dan pengaruh ISIS ke masyarakat Indonesia.
Selain itu, ormas-ormas Islam dibawah kendali dan komando MUI harus super kilat segera bertindak untuk memberikan pencerahan dan informasi yang sesungguhnya tentang ISIS sehingga masyarakat dapat bersikap tegas dan tidak terkena virus ISIS. Tidak kalah pentingnya para pengurus masjid harus waspada terhadap pihak pihak atau orang asing yang pantas dicurigai akan menebar ajaran agama yang tidak lazim dan dicurigai ajaran ISIS. Para ustadz, dai, alim ulama yang saban hari memberi ceramah agama atau kotbah juga harus memberi pencerahan kepada jamaahnya bahwa cara-cara ISIS bukan cara-cara Islam dan bertentangan dengan Pancasila. Pembudayaan Pancasila melalui pendekatan keagamaan harus dilakukan tiada henti karena generasi selalu berganti-ganti yang harus dibekali ideologi yang benar karena bakal mewarisi negeri ini.
Forum Komunikasi antar Umat Beragama dan Forum Komunikasi Kebangsaan yang ada di setiap provinsi dan kabupaten kota dibawah koordinasi Badan Kesbangpol masing-masing daerah harus terus menerus tiada henti melakukan berbagai kegiatan dalam menggelorakan semangat nasionalisme, persatuan dan kesatuan, penyadaran akan pluralitas bangsa yang terikat dalam Bhineka Tunggal Ika sehingga NKRI tetap tidak akan goyah oleh rongrongan gerakan-gerakan radikal seperti ISIS. Tak terkecuali ormas pemuda, LSM, lembaga pendidikani, parpol dan lain-lain yang peduli dan masih mencintai NKRI dan Pancasila harus kompak melawan fenomena ISIS di Indonesia. ISIS musuh serius dan bisa menjadi ancaman NKRI. Masihkan kita hanya diam?. Jangan hanya aparat keamanan yang bertindak tetapi semua elemen masyarakat harus bersatu menangkal dan melawan ideologi ISIS agar tidak masuk dan besar di bumi Indonesia.

Palembang, 6 Agustus 2014.

Catatan : – Tulisan ini dimuat di harian Sriwijaya Post, 11 Agustus 2014.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: