15 07 2014

AYO MEMILIH PRESIDEN

Oleh: Joko Siswanto
Dosen FISIP UNSRI

Setiap orang sudah mengerti bahwa presiden merupakan jabatan tertinggi di suatu negara. Tugas presiden tentu sangat berat karena dituntut bisa mewujudkan tujuan dan cita-cita negara. Bagi rakyat dan Negara Kesatuan RI, presiden tidak saja sebagai kepala pemerintahan dan kepala negara tetapi juga menjadi figure head Bangsa Indonesia di mata Internasional yang dapat mencerminkan karakter dan kepribadian bangsa. Oleh karenanya, tidak mudah seseorang bisa diusung sebagai calon presiden dan calon wakil presiden. Proses seleksi administratif dan politis sangat ketat. Dalam pilpres yang langsung dipilih oleh rakyat, maka tingkat elektabilitas juga harus diperhitungkan. Peranan lembaga survei yang independen sangat besar karena parpol terbantu dalam melakukan seleksi untuk mengusung bakal calon presiden berdasarkan hasil survei elektabilitas.
Pilpres 2014 yang hanya dua pasang calon presiden, Prabowo-Hatta dan Jokowi-Yusuf Kalla, sebenarnya merupakan putaran final (kedua) setelah putaran pertama dilakukan oleh lembaga survei. Bagi tokoh atau elite parpol yang hasil elektabilitasnya rendah akan merasa tidak percaya diri untuk maju. Lebih baik urung sebagai capres daripada terus ngotot maju hanya akan babak belur. Jadi, kehadiran dan peran lembaga survei patut diapresiasi karena sudah ikut menyeleksi calon-calon presiden. Bandingkan pilpres 2004 yang diikuti lima pasangan capres, karena waktu itu belum ada lembaga survei yang secara khusus melakukan survei terhadap elektabilitas tokoh nasional atau elite parpol yang pantas menjadi calon preside, maka akibatnya, sejumlah parpol atau gabungan parpol sepanjang memenuhi syarat dapat langsung mengusung calon presidennya tanpa melihat tingkat elektabilitas calon yang diusung.
Pilpres 2014 merupakan pilpres langsung dipilih rakyat yang ketiga kali. Pada pilpres langsung yang pertama kali tahun 2004 tingkat partisipasi memilih pada putaran pertama sebesar 78,23% dan kemudian pada putaran kedua turun menjadi 76,63%. Pada Pilpres 2009 yang hanya satu putaran dengan tiga pasang calon, ternyata masyarakat yang ikut menggunkan hak pilihnya semakin menurun yang hanya sebesar 72,56%. Terjadi penurunan dibandingkan putaran pertama dan kedua pada Pilpres 2004. Jika pada pileg 9 April 2014 angka partisipasi naik sekitar 5% (75,11%) dibandingkan tahun 2009, bagaimana dengan partisipasi masyarakat dalam Pilpres 2014?. Naik atau turun?. Tentu bisa naik juga bisa turun tergantung dari sejumlah faktor antara lain faktor daya tarik pasangan capres, visi dan misi capres, tingkat militansi parpol pengusung dalam bergerak memobilisasi pemilih, sikap dan kesadaran masyarakat dalam berdemokrasi khususnya rasa tanggung jawab sebagai warga negara yang berdaulat dalam wujud memilih pemimpin (presiden) dan karena faktor lain (teknis) seperti tidak masuk dalam DPT. Untuk pilpres kali ini KPU juga pasang target angka partisipasi 75%.
Daya tarik atau daya pikat calon presiden (figur) baik dari segi kepribadian maupun lahiriah serta kualitas diri sebagai pemimpin patut diduga kuat menduduki porsi tertinggi dibandingkan faktor lain yang bisa mempengaruhi pemilih dalam menentukan pilihannya. Suasana psikologis ketertarikan yang bersifat subyektif kepada pasangan calon presiden atau calon wakil presiden merupakan penentu penting untuk menentukan pilihan dibandingkan dengan rasionalitas obyektif berdasarkan visi dan misi yang ditawarkan. Menentukan pilihan dalam pemilu (pilpres) dapat diibaratkan seperti orang jatuh cinta. Ada pemilih yang jatuh cinta karena pandangan pertama. Melihat penampilan figur calon presiden yang gagah dan tampan (lahiriah) langsung jatuh hati. Pemilih jatuh hati kepada capres karena pandangan pertama seperti ini, ibarat orang yang sedang mabuk cinta sehingga umumnya sulit untuk dibujuk rayu mencintai yang lain.
Pemilih jatuh hati pada capres bisa juga karena sudah terbiasa atau mengerti/mengenal dengan baik kebiasaan dan kepribadiannya yang memang menarik hati (misalnya jujur, sederhana, tegas, merakyat, dan sebagainya). Pemilih bisa mengenal dengan baik capres sampai akhirnya jatuh cinta karena mendapat informasi dari berbagai sumber. Tresno jalaran kulino atau cinta karena sudah mengenal dengan baik. Untuk dapat dicintai seperti ini, maka capres harus banyak berkomunikasi dengan pemilih di semua lapisan masyarakat (blusukan) agar dapat terjalin keakraban dan akhirnya jatuh hati.
Pemilih yang sudah jatuh hati kepada capres baik karena faktor pandangan pertama dan/atau faktor sudah mengenal kepribadiannya dengan baik, pada umumnya merupakan pemilih mapan yang sulit untuk berubah pilihan. Dirayu dengan apapun sulit untuk berubah. Adanya kader parpol yang lebih suka mendukung capres dari parpol lain bisa dijelaskan karena faktor jatuh cinta seperti ini. Sikapnya militan kendatipun bukan bagian atau menjadi tim kemenangan/kampanye capres. Fenomena kemunculan relawan yang benar-benar dari bawah (bukan direkayasa) adalah bentuk militansi dan ekspresi mencintai capresnya. Mereka umumnya juga akan membela mati-matian atau rela berkorban sesuai kemampuannya jika capres idolanya atau yang dicintainya diganggu. Terjadinya perang udara di media sosial on line baik yang berupa kampanye hitam dan kampanye negatif maupun sikap reaktif berupa komentar terhadap informasi yang berkembang, sebenarnya merupakan aktualisasi dari rasa cinta yang mendalam kepada capresnya.
Faktor atau alasan memilih yang kedua adalah karena rasionalitas obyektif yakni mengerti dan bisa menerima visi, misi dan program dari pasangan capres kemudian menjatuhkan pilihannya. Pemilih seperti ini tidak begitu peduli terhadap figur capres baik dari segi fisik dan kepribadian. Bagi mereka, yang penting programnya bisa membawa perubahan kemajuan dan keuntungan yang berkaitan dengan profesinya. Untuk konteks Indonesia, pemilih seperti ini jumlahnya belum banyak yang ditandai sebagai pemilih terbang (swing voters). Umumnya swing voter ini dari kalangan terdidik atau kelas menengah ke atas yang akan mempelajari visi, misi dan program yang diselaraskan dengan kepentingan profesinya. Oleh karena itu, ajang debat pasangan capres yang sampai lima kali merupakan metode kampanye yang tepat untuk membidik swing voters. Sejumlah lembaga survei menyatakan bahwa swing voter akan menjatuhkan pilihannya setelah selesai menonton debat pasangan capres.
Pemilih bersedia untuk datang ke TPS menyalurkan aspirasi politiknya juga bisa ditentukan dari militansi mesin politik pasangan capres. Faktor ketiga ini pelaku yang penting adalah parpol koalisi yang mengusung capres. Jika parpol koalisi ini kompak dan mampu bergerak secara efektif mengajak masyarakat menggunakan hak pilihnya, maka para pemilih pun kemungkinan besar akan berduyun-duyun ke TPS. Mobilisasi pemilih harus dimaknai secara positif sebagai penyadaran hak pilih warga negara dalam berbangsa sehingga pemilih ikhlas datang ke TPS setelah mendapat pencerahan makna demokrasi dan pemilu oleh parpol. Akan tetapi tidak menutup mata bahwa mobilisasi pemilih datang ke TPS dapat dimaknai negatif yakni karena politik uang. Ada dugaan bahwa naiknya partisipasi masyarakat mengikuti Pileg 9 April lalu lebih dikarenakan adanya mobilisasi politik uang yang begitu semarak dilakukan oleh caleg. Mungkinkah hal ini terjadi juga dalam pilpres kali ini?. Hanya pemilih yang bisa menjawab.
Selain ketiga faktor yang mendorong pemilih datang ke TPS di atas, tidak kalah pentingnya adalah sosok atau wajah baru pasangan calon presiden (tidak ada incumbent) juga dapat menjadi harapan baru untuk pemilih rela datang ke TPS. Pemilihan Presiden AS tahun 2004 ketika masih ada capres incumbent (Presiden Bush) maka yang ikut pemilu hanya 55,7 %. Kemudian pada pemilu 2008 yang sudah tidak ada incumbent yang artinya calon presidennya semua wajah baru yakni Barack Obama (Partai Demokrat) dan John McCain (Partai Republik) ternyata masyarakat yang menggunakan hak pilihnya naik menjadi 57,10 %. Ada kenaikan 2% karena wajah baru akan membawa harapan baru sehingga rakyat mau ke TPS. Hal ini sama ketika Pilpres 2004 yang pertama kali dipilih secara langsung umumnya pasangan capres berwajah baru (lima pasang)dan ternyata partisipasinya cukup tinggi (78,23%) dan ketika ada incumbent (pilpres 2009) partisipasinya turun (72,56%). Berkaca dari pilpres di AS tersebut dan pengalaman Pilpres 2004, maka Pilpres 2014 yang diikuti dua pasang wajah baru kemungkinan akan mendorong pemilih untuk antusias datang ke TPS menggunakan hak pilihnya karena ada harapan baru dan semangat baru dari wajah baru tersebut.
Penting juga disebutkan bahwa administrasi KPU yang berkaitan dengan DPT sudah semakin baik dan tertib sehingga masyarakat tidak lagi terganggu oleh DPT yang tidak beres ketika akan menggunakan hak pilihnya. Kondisi ini tentu patut diapresiasi karena masyarakat terjamin bahwa hak pilihnya tidak hilang hanya karena soal tidak tercatat dalam DPT.
Dengan kondisi sebagaimana yang dijelaskan di atas, sudah tidak ada alasan bagi pemilih untuk tidak datang ke TPS. Lupakan dan tinggalkan ketegangan psikologis karena kampanye khususnya kampanye hitam dan kampanye negatif yang telah mendera sebulan belakangan ini. Tiga hari masa tenang di bulan penuh ampunan dan menjalankan ibadah puasa semoga dapat menjernihkan hati dan fokus terhadap pasangan capres yang akan dipilih hari ini.
Dua pasang calon presiden merupakan putra-putra terbaik bangsa yang sudah lolos lobang jarum seleksi yang sangat ketat. Ibarat masakan pindang yang sama-sama lezat tinggal pilih sesuai selera kita masing-masing mau pindang patin atau pindang gabus. Siapa yang terpilih nanti adalah presiden dan wakil presiden kita yang harus kita dukung dan doakan semoga bisa memenuhi janji-janjinya sesuai visi, misi dan program yang telah dicanangkan. Semoga penyelenggara pemilu yakni KPU dan Banwaslu beserta jajarannya sampai di tingkat yang paling bawah dapat memegang komitmen dan integritas sebagai institusi yang independen dan profesional dalam bekerja sehingga Pilpres 2014 berlangsung tertib, aman dan sukses. Ayo memilih presiden, mari damai dan bersatu menuju Indonesia Baru dengan presiden baru. Terimakasih.

Palembang, 7 Juli 2014.

Catatan: Tulisan ini dimuat di Harian Sriwijaya Post tgl 9 Juli 2014.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: