21 06 2014

KAMPANYE HITAM versus KAMPANYE PUTIH
Oleh:
Joko Siswanto
Dosen FISIP UNSRI

Pilpres 2004 diikuti oleh lima pasang calon dan pilpres 2009 diikuti oleh tiga pasang calon. Semakin banyak pasangan calon maka kekuatan suara pun menyebar dan prediksi pun bisa beragam. Kemungkinan berlangsung dua putaran akan terjadi. Namun, situasi dan kondisi akan berbeda lika pasangan calon hanya dua pasang saja sebagaimana pilpres pada tahun 2014 kali ini. Pilpres akan berlangsung head to head atau adu kambing atau jago tarung atau sudden death antara pasangan Prabowo-Hatta (No.1) berhadapan dengan pasangan Jokowi-JK (No.2). Dengan demikian, pilpres hanya akan berlangsung satu putaran saja. Siapa yang unggul lebih dari lima puluh persen akan dilantik oleh MPR menjadi presiden dan wakil presiden 2014-2019.
Masing-masing kubu atau poros akan ngotot untuk menang. PDIP sebagai kekuatan utama kubu Jokowi-JK sudah sepuluh tahun di luar kekuasaan sangat ingin untuk memimpin pemerintahan di negeri ini. Prabowo yang pada pilpres 2009 sebagai Cawapres berpasangan dengan Capres Megawati tidak ingin kesempatan emas ini disia-siakan. Kalau tidak sekarang kapan lagi. Gerindra yang menjadi kekuatan utama pasangan Prabowo-Hatta juga sangat mendambakan dapat mengatur negeri ini. Dengan situasi seperti itu, maka kompetisi pilpres kali ini berlangsung sangat sengit dan relatif sangat panas. Segala upaya dilakukan untuk menjatuhkan lawan di mata pemilih. Jauh hari sebelum kampanye resmi dimulai, kampanye hitam dan kampanye negatif sudah bertebaran di mana-mana khususnya di dunia maya jejaring sosial atau portal situs-situs berita, blog, dan lain-lain.
Kampanye hitam dan kampanye negatif dapat dibuat oleh perseorangan atau simpatisan pasangan calon atau kelompok relawan dan atau tim kampanye sendiri atau pihak ketiga yang tidak ingin pilpres berlangsung damai. Pembuat atau pelaku kampanye hitam biasanya tidak mau menunjukkan jati dirinya. Alamat tidak jelas atau palsu. Nama yang dipakai bukan nama aslinya. Pendek kata identitas pelaku kampanye hitam juga hitam, gelap, penuh misteri. Pelaku kampanye hitam tidak ksatria karena yang disebarluaskan sudah tahu kalau kabar bohong. Kampanye hitam jelas merupakan tindakan tidak baik dan tidak benar karena isinya kabar bohong atau fitnah dan dapat membunuh karakter pasangan calon. Kampanye hitam melanggar norma hukum, norma agama dan norma sosial. Kampanye hitam tidak mencerdaskan dan mencerahkan pemilih tetapi malah akan dapat menimbulkan permusuhan sosial yang dapat berakhir menjadi konflik sosial. Oleh karena itu, kampanye hitam harus dihentikan dan jika memang pelakunya diketahui harus ditangkap dan dijatuhi sanksi hukum.
Sedangkan kampanye negatif masih mempunyai nilai positif karena menyampaikan informasi atas dasar fakta dan data kepada publik tentang keadaan atau track record dari para pasangan calon. Dengan adanya informasi berdasarkan data dan fakta maka publik, khususnya calon pemilih, akan mempunyai referensi yang luas dalam menilai pasangan calon yang akan dipilih.
Genderang kampanye pemilu presiden dan wakil presiden sudah resmi dimulai tanggal 4 Juni dan akan berakhir pada tanggal 5 Juli 2014. Selama 32 hari tim kampanye dan pasangan calon serta para relawan akan mati-matian bekeja keras untuk mempengaruhi para pemilih dengan berbagai cara agar pasangan calonnya memenangkan pertarungan yang sengit ini. Dalam peraturan KPU Nomor 16 Tahun 2014 tentang Kampanye Pemilu Presiden dan Wakil Presiden dinyatakan bahwa: kampanye adalah kegiatan untuk meyakinkan para pemilih dengan menawarkan visi, misi dan program pasangan calon. Dengan kampanye maka diharapkan para pemilih yang semula belum yakin menjadi yakin, yang semula belum tahu menjadi tahu, yang semula ragu-ragu menjadi mantap, yang akhirnya pemilih dapat memutuskan secara rasional pasangan calon mana yang layak dipilih berdasarkan keyakinan akan visi, misi dan program yang ditawarkan. Kampanye yang menawarkan visi, misi dan program inilah kampanye yang benar yang kita sebut saja sebagai kampanye putih. Jadi, jelas sekali jika masih ada relawan atau tim kampanye atau jurkam atau pasangan calon sendiri dalam kampanyenya tidak menawarkan visi, misi dan program tetapi malah menyerang lawan yang bersifat urusan pribadi, kemudian menjelek-jelekkan atau mengungkit-ungkit keburukannya, maka hal tersebut bukanlah kampanye, tetapi penyebar fitnah penabur racun permusuhan yang layak untuk diabaikan saja jika pelakunya tidak jelas.
Kemudian dalam Pasal 11 ayat 2 PKPU No. 16 tahun 2014 dikemukakan bahwa materi kampanye yang berupa visi, misi dan program dibuat secara tertulis dan wajib disampaikan kepada peserta kampanye. Dengan ada dokumen yang tertulis maka visi, misi dan program akan bisa dipelajari, didalami dan dapat ditagih oleh rakyat di kemudian hari jika pasangan terpilih tidak mewujudkan program-program yang telah dijanjikan dalam dokumen tertulis tersebut. Hal seperti ini berbeda pada waktu kampanye legislatif yang tidak diwajibkan menyebarkan secara tertulis visi, misi dan program caleg. Akibatnya, masyarakat tidak mengerti dan tidak bisa mendalami visi, misi dan program caleg atau parpol.
Untuk kampanye pilpres kali ini, kampanye dalam bentuk pemasangan baliho, stiker, poster gambar atau foto pasangan calon sudah tidak begitu berpengaruh karena masyarakat sudah mengenal betul siapa pasangan calon presiden yang bertarung. Calonnya hanya dua pasang dan wajahnya sudah banyak dikenal. Berbeda dengan kampanye legislatif yang pesertanya banyak yang berlomba-lomba jual tampang atau narsis di sembarang tempat dengan baliho, poster dan sebagainya karena dirinya belum dikenal masyarakat. Dengan demikian, kampanye putih dengan menyebarluaskan dokumen tertulis yang memuat visi, misi dan program pasanagan calon presiden di tengah-tengah masyarakat jauh lebih penting dan harus lebih dilakukan secara gencar oleh tim kampanye, jurkam dan relawan masing-masing pasangan calon agar rakyat mengerti betul apa yang akan dilakukan pasangan calon jika terpilih. Jika kampanye putih dapat diwujudkan maka kampanye hitam lambat laun tidak akan laku dan tidak dipercaya rakyat. Marilah kita ajak rakyat menjadi cerdas dengan kampanye putih. Akhirnya rakyat akan memilih secara rasional bukan emosional. Terimakasih.

Palembang, 5 Juni 2014

Catatan:
– Dimuat di Harian Sumatera Ekspres Tgl. 8 Juni 2014


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: