21 06 2014

MENAKAR KEKUATAN PASANGAN CAPRES

Oleh: Joko Siswanto
Dosen FISIP UNSRI

Setelah parpol super sibuk melakukan komunikasi politik pasca pIleg 9 April lalu untuk menggalang koalisi mengusung pasangan capres, kini sudah terang benderang bahwa akhirnya hanya dua poros kekuatan koalisi parpol yang bakal bertarung merebutkan kursi RI-1 dan RI-2 pada Pilpres 2014. PDIP berkoalisi dengan Partai Nasdem, PKB dan Hanura dengan mengusung Joko Widodo sebagai calon presiden dan Yusuf Kalla sebagai calon wakil presiden. Koalisi PDIP akan berhadapan head to head melawan koalisi Partai Gerindra yang terdiri dari Gerindra, PPP, PKS, PAN, PBB dan Golkar yang bergabung di detik-detik terakhir pada saat menjelang deklarasi pasangan calon presiden dan wakil presiden. Koalisi Gerindra sepakat mengusung Prabowo Subianto sebagai calon presiden dan Hatta Radjasa Ketua Umum PAN sebagai calon wakil presiden.
Berdasarkan hasil pemilu legislatif yang resmi dari KPU, maka kekuatan koalisi PDIP yang terdiri dari 4 (empat) parpol sebesar 39,97% suara sah nasional. Sedangkan koalisi Partai Gerindra yang terdiri dari 6 (enam) parpol kekuatan suara sebesar 48,93%. Partai Demokrat (PD) yang mempunyai suara 10,19% lebih bersikap memilih tidak bergabung dengan salah satu poros. Kendatipun demikian, bukan berarti kader dan pendukung Partai Demokrat menjadi golput sebagaimana yang ditegaskan oleh SBY sebagai Ketua Umum PD.
Berbeda dengan Pilpres 2004 yang diikuti oleh lima pasang capres dan Pilpres 2009 yang diikuti tiga pasang capres yang memungkinkan terjadi dua putaran (kendatipun fakta pilpres 2009 hanya satu putaran), maka untuk Pilpres 2014 dipastikan hanya satu putaran karena peserta hanya dua pasang. Jumlah capres terendah (2 pasang) pada Pilpres 2014 dikarenakan jauh hari sebelum pileg berlangsung sejumlah lembaga survei terus melakukan survei secara berkala dan mengumumkan tingkat elektabilitas elite parpol yang pantas diusung menjadi capres. Dari sejumlah nama yang mempunyai elektabilitas tinggi hanya Joko Widodo dan Prabowo Subianto sehingga elite parpol yang lain nyalinya menjadi ciut untuk maju. Selain itu, perolehan suara parpol juga tidak signifikan untuk maju menjadi capres. Kendatipun Golkar pemenang kedua, namun capres yang diususng (ARB) elektabilitasnya rendah yang akhirnya Partai Golkar kali ini benar-benar gigit jari tidak dapat mengusung capres. Hasil survei yang dilakukan sejumlah lembaga survei ternyata ikut berpengaruh besar dalam menentukan sikap parpol dalam mengusung pasangan capres.
Setelah wujud koalisi jelas, dan pasangan capres juga sudah pasti, maka pertanyaan yang muncul adalah siapa yang bakal memenangkan pertarungan yang “panas” ini?. Lembaga–lembaga survei yang non partisan maupun yang partisan pasti sudah mulai bergerak untuk melakukan survei di masyarakat siapa yang bakal rakyat pilih. Berkaitan dengan itu, sah-sah saja jika masyarakat juga mempunyai perhitungan atas kekuatan masing-masing koalisi. Memotret apa yang dirasakan dan dilihat masyarakat, maka kekuatan masing-masing koalisi dapat dikemukakan sebagai berikut.
Pertama, jika dilihat dari gabungan perolehan suara parpol koalisi, maka kekuatan koalisi poros Gerindra sebesar 48,93% lebih unggul dibandingkan dengan gabungan suara koalisi poros PDIP yang hanya 39,97%. Jika pemilih legislatif konsisten terhadap pilihannya, maka di atas kertas dipastikan pasangan Prabowo-Hatta unggul tetapi belum terpilih. Dalam Pasal 159 (1) UU 42 Tahun 2008 tentang Pemilu Presiden dan Wakil Presiden dinyatakan bahwa Pasangan Calon terpilih adalah Pasangan Calon yang memperoleh suara lebih dari 50% (lima puluh persen) dari jumlah suara dalam Pemilu Presiden dan Wakil Presiden dengan sedikitnya 20% (dua puluh persen) suara di setiap provinsi yang tersebar di lebih ½ (setengah) jumlah provinsi di Indonesia.
Dengan demikian, poros koalisi Gerindra untuk memenangkan pasangan capresnya harus menambah suara minimal 3%. Itulah sebabnya, pasca deklarasi capres, Prabowo dan Hatta sowan SBY ke Cikeas untuk merayu agar Partai Demokrat mau bergabung dengan koalisi poros Gerindra. Jika PD tersihir rayuan untuk berkoalisi, maka secara kelembagaan formal di atas kertas kekuatannya menjadi 59,12%. Namun tampaknya secara formal kelembagaan PD tetap akan netral, akan tetapi secara pribadi dan hubungan emosionalitas dan suasana kebatinan antara SBY dan Prabowo-Hatta ada kecenderungan para pengurus dan anggota demokrat diarahkan untuk memilih Prabowo-Hatta. Dan jika ini terjadi maka di atas kerta pasangan Prabowo-Hatta dapat memenangkan Pilpres 2014.
Kedua, setelah kekuatan perolehan suara parpol, kita lihat kekuatan dan kelemahan masing-masing figur pasangan capres. Kepribadian dan track record pasangan capres menjadi hal penting mengingat perilaku pemilih di Indonesia mempunyai kecenderungan kuat melihat sosok daripada parpol pengusung.
Capres Jokowi masih muda (53) dibandingkan dengan Yusuf, Kalla, Prabowo dan Hatta. Selain itu, yang terpenting Jokowi dikenal sebagai pribadi yang energik, cepat bertindak, sederhana, merakyat atau tidak berjarak dengan rakyat yang ditandai suka blusukan dan jujur (tidak korupsi). Jelas, gambaran pemimpin seperti Jokowi yang demikian itu umumnya disukai oleh rakyat dan ini sebagai kekuatan daya pikat yang tinggi. Memang beliau belum sempat menyelesaikan tugasnya sebagai Walikota Solo periode kedua sudah terpilih sebagai Gubernur DKI, dan belum genap dua tahun menjadi Gubernur DKI sudah diusung sebagai Calon Presiden. Kontraknya menjadi kepala daerah itu lima tahun tetapi belum selesai kontrak sudah ditinggalkan. Perilaku seperti ini dinilai oleh sebagian masyarakat sebagai sikap yang tidak amanah. Bisa jadi, ini dinilai sebagai kelemahan karena tidak mempunyai komitmen. Jokowi juga belum mempunyai pengalaman pemerintahan di tingkat nasional.
Calon Wakil Presiden Yusuf Kalla merupakan sosok pribadi yang hangat, tegas, jujur, cepat mengambil keputusan, juga rendah hati mudah diajak berkomunikasi. Suatu kepribadian yang juga disenangai masyarakat. Usia sudah tidak muda lagi tetapi masih tampak bugar dan energik. Pengalaman di pemerintahan dan politik tidak diragukan lagi. Pernah menjadi menteri, wakil presiden, Ketua Umum Golkar dan calon presiden. Namun, dalam tindakannya acapkali dinilai sering “kebablasan” melampaui wewenang yang dimiliki. Dalam kasus Century, JK juga terseret sebagai saksi. Pasangan Jokowi-JK sebelum terjun dalam dunia politik sama-sama berlatang belakang profesi sebagai pengusaha. Pasangan yang saling melengkapi atas kekurangan masing-masing ini akan menjadi kekuatan yang dahsyat bila dapat dikemas secara baik dan menarik dalam menyampaikan visi dan misi.
Capres Prabowo Subianto merupakan pensiunan tentara bintang tiga yang di mata masyarakat dinilai sebagai sosok yang berani, tegas, orator dan rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara. Pribadi seperti ini menjadi kekuatan untuk memikat pemilih karena rakyat sangat membutuhkan pemimpin yang tegas dan berani. Namun di mata aktivis reformasi 1998, sosok Prabowo tidak disukai karena dinilai tidak bersih dari kasus HAM dalam peristiwa penculikan / hilangnya aktivis pro demokrasi. Kendati bintang tiga, Prabowo juga sama dengan Jokowi belum mempunyai pengalaman di bidang pemerintahan sipil di tingkat nasional.
Sosok calon presiden Hatta Radjasa lebih menunjukkan sikap low profile, jujur dan bersih dalam arti belum pernah terlibat persoalan besar. Pengalamannya duduk di berbagai pos menteri menjadikan Hatta dikenal sebagai pribadi yang teliti dan cermat. Pasangan ini sebenarnya seperti pasangan Soekarno-Hatta atau kalau meminjam istilah Herbert Feith, Prabowo bertipe pemimpin solidarity maker dan Hatta Radjasa bertipe administrator, suatu paduan yang serasi. Jika kondisi seperti ini bisa dikemas dengan baik maka akan menjadi kekuatan yang luar biasa untuk memikat pemilih.
Kedua pasang capres sama-sama kombinasi Jawa – Luar jawa yang sebenarnya sudah tidak lagi relevan untuk dibahas. Namun, sebagian masyarakat masih menjadi pertimbangan politis. Hatta Rajasa dari Sumatera Selatan (Indonesia Barat) dan Yusuf Kalla dari Sulawesi Selatan (Indonesia Timur). Selain dukungan parpol yang tidak melihat kedaerahan, dari konteks personal dan swing voters maka diharapkan pemilih luar jawa masih ada sentimen kedaerahan yakni di Indonesia Barat akan mendukung Prabowo Hatta sedangkan Indonesia Timur diharapkan dapat mendukung Jokowi-JK.
Setelah melihat secara riil kekuatan perolehan suara parpol koalisi serta kondisi umum kekuatan dan kelemahan sosok pasangan capres, maka kekuatan ketiga adalah mesin politik parpol masing-masing. Koalisi poros PDIP dalam berkoalisi tampaknya lebih ikhlas, jujur dan dilandasi oleh sikap dan perasaan sehingga menumbuhkan semangat koalisi yang tinggi dan ini merupakan kekuatan untuk mampu menggerakkan mesin politik secara efektif dari tingkat DPP sampai di tingkat paling bawah. Dengan landasan keikhlasan maka para kader dan simpatisan pasangan Jokowi akan membangun barisan dan berjuang secara sukarela demi kemenangan idolanya.
Poros koalisi Gerindra terkesan dipaksakan dan berlangsung kurang mulus. Dalam tubuh PPP terjadi konflik internal. Kendati setelah Rapimnas secara tegas bergabung dengan Gerindra, tetapi tokoh senior PPP dan mantan wakil presiden, Hamzah Haz, menyarankan ke PDIP. Artinya, secara personal dalam barisan pengurus, kader dan pendukung tidak bulat dan ikhlas berkoalisi dengan gerindra. Demikian juga dalam tubuh PAN, kader PAN Wanda Hamidah yang anggota DPRD merasa kecewa atas keputusan partainya yang mendukung Prabowo Subiantao sebagai calon presiden. Ia menyatakan dukungannya kepada Joko Widodo (Tribunnews.com.19 Mei). Golkar yang baru detik-detik akhir bergabung dengan Gerindra sangat jelas sekali kalau dalam mengambil keputusan terkesan terburu-buru dan kurang kompak di dalam karena tidak mampu mengusung capres sendiri. Kulu kilir ARB bertemu Jokowi dan megawati kemudian bolak-balik bertemu Prabowo membingungkan kader di bawah. Pendek kata, suasana koalisi poros Gerindra kurang mulus dan kurang ikhlas dibanding koalisi poros PDIP. Suasana seperti ini kurang memberikan spirit jajaran parpol di tingkat bawah sehingga militansi kader parpol untuk memenangkan pasangan capresnya rendah. Kemungkinan akan terjadi migrasi pemilih.
Akhirnya, semua yang menentukan kemenangan ada di tangan pemilih. Silahkan untuk melihat dan menilai lebih seksama perjalanan dua pasang capres dan parpol pendukungnya baik dari segi kepribadian figur maupun programnya sampai dengan 9 Juli nanti. Jika, sudah mantap pilih salah satu. Jangan Golput. Terimakasih.

Catatan: Dimuat di Harian Sriwijaya Post tgl 26 Mei 2014.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: