2 04 2014

PEMILIH CERDAS: WANI OPO BUKAN WANI PIRO

Oleh:

Joko Siswanto

Dosen FISIP UNSRI

 

Slogan yang diusung KPU untuk menyukseskan Pemilu 2014 adalah Pemilih Cerdas Pemilu Berkualitas. KPU berasumsi bahwa jika pemilih cerdas maka diharapkan pemilu berkualitas baik dari segi proses maupun wakil rakyat yang terpilih. Untuk mengetahui tingkat kualitas pemilu tentu ada  kriteria yang harus digunakan. Pada Pemilu 2009, Adam Schmidt (2010) dalam  tulisannya Indonesia’s 2009 Elections: Performance Challenges and Negative Precedents mengemukakan  ada sepuluh kriteria untuk menilai tingkat kualitas (kesuksesan) Pemilu 2009. Kesepuluh kriteria yang dimaksud yakni kebebasan parpol berekspresi, pemberitaan media massa yang berimbang, pemilih yang cerdas atau banyak mengetahui tentang pemilu, staf penyelenggara pemilu yang profesional, pemungutan suara yang damai,  penghitungan dan rekapitulasi yang transparan, publikasi hasil yang dapat diaudit, DPT yang akurat dan penyelesaian konflik suara yang baik.

Dari kesepuluh parameter tersebut, pada Pemilu 2009  baru empat kriteria yang dinilai berkualitas yakni kebebasan ekspresi parpol, pemberitaan media yang berimbang,  pemungutan suara yang damai dan penyelesaian konflik hasil pemilu yang baik melalui jalur hukum. Selebihnya atau enam kriteria lainnya masih masuk kategori  belum sukses atau belum baik atau dapat disebut belum berkualitas.

Salah satu dari enam kriteria yang belum sukses adalah pemilih yang belum cerdas atau yang belum mendapat informasi secara cukup memadai tentang seputar pemilu (informed electotare). Dari sejumlah pertanyaan di seputar pemilu, salah satu hal yang banyak tidak diketahui pemilih atau pemilih tidak banyak mendapat infomasi adalah kebijakan parpol atau yang dikenal dengan visi,  misi  dan program parpol. Sebanyak 81,7% pemilih kurang mendapat informasi  yang cukup tentang visi, misi dan program parpol.

Berkaca dari kondisi pemilih pada Pemilu 2009 yang demikian, tampaknya kondisi pemilih pada Pemilu 2014 tidak jauh berbeda bahkan mungkin lebih parah. Kendatipun tidak dilakukan survei, ada asumsi yang kuat bahwa pemilih pada Pemilu 2014 juga tidak mendapat informasi  yang cukup memadai tentang platform parpol peserta pemilu.  Hal ini  lebih disebabkan pemilih kurang mudah mendapat akses atau peraga kampanye yang memuat platform parpol dan caleg. Jika disimak pada media kampanye yang dibuat oleh parpol maupun caleg, sebagian besar atau hampir semua tidak ada yang mencantumkan visi, misi dan program parpol. Media kampanye lebih ke arah narsis seperti lomba ketampanan dan kecantikan dengan memajang foto terbaiknya dalam bentuk kartu nama, poster, spanduk atau baliho. Tidak ada atau jarang ditemukan caleg atau parpol yang membuat selebaran, leaflet, pamlet, atau buku saku yang berisi visi, misi dan program parpol atau caleg yang akan diperjuangan baik di tingkat nasional, provinsi dan kabupaten/kota khususnya di daerah pemilihan masing-masing.

Ketika berlangsung kampanye dialogis atau monologis juga tidak secara sistematis dan konsisten dikemukakan tentang hal-hal apa saja yang akan diperjuangan untuk kepentingan rakyat banyak. Problema publik apa yang dijadikan isu unggulan dan prioritas yang akan diperjuangkan caleg dan parpol juga tidak diketahui masyarakat.  Jurkam yang berpidato/monolog sampai berbuih-buih di atas panggung lebih banyak membakar semangat jiwa korsa yang membangkitkan emosionalitas daripada rasionalitas. Pidato kampanye akbar yang monolog cenderung tanpa konsep yang jelas dan terarah, tetapi  lebih menjurus untuk merespon yang bersifat spontanitas dan mementingkan kepiawaian berimprovisasi kata-kata dan kalimat-kalimat  yang bombatis sehingga dapat memberi kesan sebagai orator hebat.

 Di sisi lain, pada dasarnya peserta kampanye tidak begitu peduli terhadap yang disampaikan juru kampanye. Peserta kampanye akbar yang umumnya datang karena dimobilisasi dari kalangan bawah cenderung  lebih senang menonton para artis cantik  menyanyi dan berjoged. Pendek kata, kampanye akbar bukan ajang efektif untuk mencerdaskan pemilih.

Isu kampanye atau paparan program yang menyentuh kebutuhan dan kepentingan masyarakat, sebenarnya merupakan salah satu alasan penting dan rasional bagi pemilih menentukan pilihannya. Namun  disayangkan,  parpol dan caleg belum mampu membuat kemasan visi, misi dan program parpol yang baik, tertulis , menarik,  mudah dimengerti, menyetuh minat pemilih dan mudah diingat. Terkesan bahwa visi, misi dan program parpol serta isu kampanye tidak dipahami caleg  sehingga di lapangan dilontarkan program yang spontanitas dan improvisasi. Akibatnya, mendekati akhir masa kampanye ini, pada umumnya pemilih belum juga mengerti program spesifik atau prioritas atau program unggulan parpol atau caleg yang secara jelas akan diperjuangkan. Seandainya saat ini para pemilih  ditanyai apa program parpol tertentu atau apa beda program parpol A, B, C dan seterusnya tentu para pemilih  akan kesulitan menjawab karena tidak mengerti. 

Selain faktor program, umumnya alasan memilih karena faktor daya tarik kepribadian figur dari caleg/kandidat yang bersangkutan dan ikatan emosional pemilih dengan parpol. Namun tampaknya kondisi sekarang mulai berubah. Faktor-faktor tersebut tidak lagi dijadikan pertimbangan pemilih menentukan pilihannya. Ada fenomena menarik saat ini bahwa  masyarakat pemilih cenderung  melihat kandidat yang berani memenuhi permintaannya atau tantangannya dengan ungkapan wani piro (berani berapa). Kondisi parpol dan celeg yang belum  baik dalam menyusun program dan isu yang akan diperjuangkan tersebut, menjadikan pemilih lebih baik “menjual diri” dengan ungkapan wani piro tersebut. Pada Pemilu 2009 ungkapan tantangan wani piro kepada caleg belum ada. Istilah wani piro mulai  melanda masyarakat di musim pilkada pada tahun-tahun belakangan ini  dan wani piro semakin meroket dikenal masyarakat pada Pemilu 2014 sekarang.

Konsep wani piro merupakan ungkapan tantangan pemilih kepada caleg/kandidat untuk mengukur menghargai suara berani berapa kandidat membeli  suara pemilih. Tidak adanya pencerahan dan informasi yang cukup jelas tentang visi, misi dan program parpol/caleg maka akhirnya pemilih mengambil jalan pintas untuk “menjual” suara dengan tarif tertentu.  Pemilih sangat mengerti bahwa yang dicari dan diburu kandidat adalah suara. Posisi tawar pemilih sangat menentukan. Dengan demikian, suara dapat dijualbelikan.

Pemilih rela “menjual suara” karena umumnya tak paham akan makna memberikan suara dikaitkan dengan imbalan yang bakal diterima di kemudian hari. Pemilu memang transaksional tetapi bukan transaksi seperti jual beli barang sebagaimana yang umumnya dibenak pemilih yakni cash and carry atau ada suara ada uang. Transaksi dalam pemilu berupa komitmen caleg dan parpol ketika duduk di lembaga legislatif berusaha dan kerja keras memenuhi janjinya pada kampanye untuk mewujudkan program yang diusung semata-mata demi kepentingan rakyat karena rakyat telah memilih wakilnya. Jadi, imbalan yang diterima rakyat setelah rakyat memilih tidak spontan dan langsung diterima, melainkan berupa kebijakan-kebijakan yang dapat membuat rakyat hidup sejahtera, damai, aman, mudah memenuhi hajad hidupnya, dan lain-lain.

Jadi, semasa kampanye,  mestinya pemilih yang cerdas adalah pemilih yang seharusnya berani bertanya atau menantang caleg atau parpol dengan pertanyaan wani opo bukan wani piro. Ungkapan wani opo (berani apa) pada esensinya mempunyai makna bertanya tentang apa yang akan dan dapat diperbuat oleh caleg jika terpilih. Ayo, wani opo caleg dan parpol  di sektor pertanian, perkebunan, industri, perdagangan, pariwisata, tenaga kerja, buruh, dan lain-lain. Dengan tantangan wani opo maka parpol dan caleg akan berfikir keras agar mampu meladeni dan menjawab tantangan pemilih. Jika jawaban parpol dan caleg dapat memikat pemilih maka pemilih kemungkinan besar akan mendukung caleg dan porpol yang bersangkutan. Jika proses seperti ini yang terjadi maka pemilih akan cerdas dan caleg juga akan cerdas.

Namun fakta yang ada tidak demikian. Tantangan wani opo tidak muncul dan tidak ada dalam diri pemilih, justru yang ada dan muncul adalah tantangan pemilih wani piro. Caleg menjadi galau, resah dan takut kalah kalau tantangan wani piro tidak dilayani. Terjadilah perlombaan panas sesama caleg untuk melayani tantangan pemilih. Berhubung tantangan wani piro telah melanda masyarakat, maka caleg tidak menjadi cerdas tetapi menjadi bodoh terbukti  harta bendanya bablas alias habis terkuras untuk melayani tantangan pemilih  wani piro, padahal diri caleg yang bersangkutan tidak ada jaminan dapat terpilih. Akibatnya banyak caleg di akhir kampanye ini harta sudah terjual atau tergadai dan bisa jadi rumah tangga pun terancam berantakan. Perlu diketahui  berdasarkan informasi dari Kementerian Kesehatan RI pada pasca Pemilu 2009 bahwa caleg yang terkena gangguan jiwa (depresi) ringan sampai berat karena tidak terpilih dan harta habis berjumlah lebih dari tujuh ribu orang.

 Mari kita gunakan hak pilih tanpa harus bertanya wani piro, namun akan lebih baik jika kita mau bertanya wani opo sehingga pilihannya cerdas dan tidak salah. Semoga.

 

                                                                                Palembang, 2 April 2014.                              


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: