MENCARI SOSOK PEMIMPIN ALTERNATIFOleh:Joko SiswantoDosen FISIP UNSRI Masyarakat modern

29 05 2013

MENCARI SOSOK PEMIMPIN ALTERNATIF

Oleh:

Joko Siswanto

Dosen FISIP UNSRI

 

Masyarakat modern pada umumnya jika sakit akan berobat dengan cara medis (ilmiah, rasional) dengan berkunjung ke  poliklinik atau rumah sakit untuk menemui dokter. Namun jika secara medis dirasa tidak sembuh dan sudah putus asa, maka usaha mencari kesembuhan akan mencari pengobatan dengan cara lain di luar medis yang populer disebut pengobatan alternatif. Jadi, makna alternatif merujuk kepada tindakan di luar kewajaran orang berobat atau pengobatan di luar ilmu kedokteran. Dengan demikian upaya dengan pengobatan alternatif dinilai sebagai upaya terakhir mencari kesembuhan kendati dikatakan tidak rasional,  tidak ilmiah dan  tidak modern serta belum pasti juga akan dapat sembuh. Namun, si sakit dipuaskan dengan ada pilihan (alternatif) berobat yang tidak lazim.

Nah, ketika situasi kehidupan masyarakat dalam berbagai aspek  kehidupan  dirasakan sudah tidak nyaman, tidak sejahtera, masyarakat semakin kecewa dengan kebijakan yang ada, tidak ada perubahan kehidupan yang lebih baik dan lain-lainnya, maka masyarakat berfikir akumulatif bahwa salah satu faktor penyebabnya adalah  kepemimpinan bangsa yang tidak mampu menjalankan amanahnya sebagai pemimpin.  Lalu,  muncul pemikiran untuk mencari sosok pemimpin alternatif. Apa yang dimaksud pemimpin alternatif?, adakah pemimpin alternatif?, siapa dia/mereka?, bagaimana cara menemukannya?. 

Istilah pemimpin alternatif sebenarnya merupakan istilah yang digunakan untuk menunjuk kepada seseorang yang dinilai mempunyai bakat dan bakal mampu memimpin secara baik namun belum mempunyai kesempatan dapat muncul sebagai pemimpin bangsa karena berbagai faktor. Misalnya menjelang pilpres 2014, telah beredar nama-nama bakal capres, namun nama-nama yang beredar dan populer di masyarakat dinilai masih muka-muka lama yang umurnya sudah di atas 60 tahun,  dinilai ada yang bermasalah dengan bangsa ini, dinilai bakal tidak mampu mengatasi masalah bangsa, dinilai kurang diterima mayoritas rakyat, dan penilaian kurang baik lainnya.    Akhirnya muncul pemikiran perlu dicari calon pemimpin alternatif yang ciri dan karakternya harus berbeda dengan calon presiden yang beredar di masyarakat saat ini. Misalnya, pemimpin alternatif  calon presiden harus muka baru, berumur di bawah 50 tahun (muda), bersih dari cacat sosial dan politik, mempunyai sikap dan sifat prophetic leadership (kepemimpinan kerasullan, kenabian), berjiwa pluralis dan nasionalis sejati, dan lain-lainnya.     

Pemikiran sosok calon alternatif bukan hal baru di Indonesia. Jauh sebelum Indonesia merdeka sudah ada ramalan raja Kediri Prabu Joyoboyo (1135 – 1159)  tentang kehadiran ratu adil atau satria piningit (ksatria/calon pemimpin yang tersembunyi). Sosok ratu adil atau satria iiningit merupakan sosok manusia super atau istimewa yang datang dapat membawa perubahan. Sosok manusia hebat seperti ini di dunia internasional sering disebut promethean dari nama dewa Yunani Prometheus yang memberikan api pencerahan pada manusia. Ada juga yang menyebut creative minorities yakni tidak sekedar sosok-sosok ajaib melainkan juga mempunyai kekuatan dahsyat baik inteletual, kecintaan pada bangsanya, sesama manusia dan kepada Tuhannya.

Sosok Bung Karno, tokoh pergerakan, ketika dalam pembelaan pengadilan Pemerintah Hindia Belanda di Bandung (1930) dengan lantang menyatakan: “Tuan-tuan Hakim, apakah sebabnya rakyat senantiasa percaya dan menunggu-nunggu datangnya Ratu Adil, apakah sebabnya sabda Prabu Jayabaya sampai hari ini masih terus menyalakan harapan rakyat?. Apakah sebabnya seringkali kita mendengar bahwa di desa ini atau di desa itu telah muncul seorang “imam Mahdi’ atau “Heru Cakao”, atau tutunan seorang dari wali sanga. Tak lain tak bukan karena hati rakyat yang menangis itu, tak berhenti-hentinya, tak habis-habisnya menunggu-nunggu, mengharap-harapkan datangnya pertolonga. sebagaimana orang yang berada dalam kegelapan tak berhenti-hentinya pula saban jam, saban menit, saban detik, menunggu-nunggu dan mengharap-harap: kapan, kapankah matahari terbit?” (Departemen Penerangan RI, Indonesia Menggugat: Pidato Pembelaan Bung Karno Dimuka Hakim Kolonial,  Percetakan Negara, 1961:75).

Sang ratu adil atau satria piningit atau pemimpin alternatif apakah sekedar mitos atau ajaran moral tersembunyi atau memang benar-benar suatu realitas,  yang pasti selalu menjadi harapan rakyat yang hidup dalam kesusahan dan kesulitan. Orang/masyarakat yang sedang susah/krisis atau dalam kondisi gelap selalu berharap datangnya kecerahan yang dibawa oleh sang ratu adil atau pemimpin alternatif. Dikatakan oleh S Marwoto ( “Ramalan Jayabaya”, 2010:22) bahwa ratu adil dapat ditafsirkan sebagai seorang/sosok yang mampu menempatkan sesuatu pada tempatnya, mampu menjadi pelindung dari seluruh rakyat tanpa diskriminatif dan hanya berpihak kepada kebenaran yang hakiki.

Dari penjelasan singkat di atas, sosok ratu adil atau satria piningit atau pemimpin alternatif  sebenarnya merupakan sosok imaginer atau mitos yang mempunyai daya linuwih/kelebihan pribadi yang luar biasa dan diharapkan  oleh masyarakat dapat muncul dan manjing/bersatu dalam sosok pemimpin masyarakat/bangsa sehingga mempunyai kelebihan luar biasa baik dari segi intelektualitas, emosionalitas dan spiritualitas dan berjuang ikhlas demi kebenaran dan kepentingan masyarakat, bangsa dan negara. Dengan demikian, para tokoh bangsa yang telah berusaha keras menerangi kegelapan dan menghilangkan kesusahan rakyat dapat dikatakan sebagai ratu adil atau satria piningit atau  pemimpin alternatif. Jika ditarik kebelakang, maka mereka yang berjuang sebagai matahari untuk menyinari kegelapan masyarakat dengan ikhlas dan dengan cara-cara yang di luar kelaziman/luar biasa dapat masuk kategori pemimpin alternatif.  Wali Sanga sampai para Rasulullah khususnya Nabi Muhammad SAW adalah ratu adil atau pemimpin alternatif. Mereka  hadir dalam situasi masyarakat yang sedang mengalami kegelapan moralitas, kegelapan spiritualitas, kegelapan ketuhanan, kegelapan kesejahteraan dan kegelapan lainnya kemudian menjadi terang karena kehadiran sang ratu adil.

Dunia berputar yang dapat dimaknai selalu terjadi perubahan keadaan. Dari situasi gelap menjadi terang, dari terang bisa berubah remang-remang kemudian gelap lagi dan seterusnya. Perubahan dapat karena ulah manusia yang merusak sistem kehidupan dan karena alam (kehendak Tuhan). Pada waktu kita masih di alam penjajahan Belanda dan Jepang, situasi tersebut merupakan kehidupan di alam gelap, berkat para pejuang kemudian kita merdeka  masuk di alam kehidupan  terang. Perubahan tersebut  berkat pemimpin alternatif sebagai ratu adil. Jadi, Bung Karno, Bung Hatta, Bung Syahrir, Bung Tomo dan Bung-bung yang lain merupakan pemimpin alternatif pada zamannya karena mempunyai keberanian menguak kegelapan menuju suasana terang (merdeka). 

Pemimpin alternatif mungkin dapat redup kehilangan pamornya dan ada yang terus bersinar karena mampu mengelola perubahan dan mengarahkan perubahan menuju cita-cita kehidupan yang selalu akan lebih baik. Ketika Bung Karno kehilangan sinar ratu adil dan sebagai pemimpin alternatif akibat perubahan sistem yang tak mampu dikelola, maka dunia yang tadinya terang berubah semakin redup dan akhirnya menjadi gelap (1965 -1966). Ketika kegelapan terjadi maka muncul ratu adil kembali yang dipuji-puji masyarakat, sang ratu adil atau pemimpin alternatif itu bernama Soeharto karena dapat membawa perubahan dari suasana gelap (Orla) ke susana terang (Orba). Kepeimpinan Presiden Soeharto dapat membawa Indonesia menjadi terang benderang, ciri pemimpin alternatif dan sang ratu adil.

Dunia terus berputar dan perubahan demi perubahan yang  dinamis terus terjadi. Soeharto sang ratu adil tidak mampu membaca tanda-tanda zaman dalam mengelola perubahan. Akhirnya ketidakmampuan itu menjadikan kondisi bangsa dan negara Indonesia semakin gelap (reformasi 1998). Sang ratu adil sebagai pemimpin alternatif harus tumbang kehilangan sinar kepemimpinan yang dipuja-puja di awal kegelapan masa Sukarno. Tragis, Soeharto sang ratu adil yang awal munculnya dipuja dan dipuji harus juga bernasib sama dengan Bung Karno.   Ternyata Soeharto juga tidak mampu mempertahankan sebagai ratu adil dan pemimpin alternatif  karena tidak dapat mengelola perubahan sehingga jaman terang yang ia ciptakan tidak mampu dipertahankan.

Apakah presiden pasca orde baru (Habibie, Gus Dur, Megawati dan SBY) masuk ketegori ratu adil?. Tiga yang pertama menjadi presiden tidak sewajarnya. Habibie hanya mengganti Soeharto dan pertanggungjawabannya ditolak MPR sehingga hanya menjadi presiden satu tahun. Gus Dur terpilih oleh MPR yang semula juga dianggap pemimpin alternatif ternyata harus lengser sebelum waktunya (2,5 tahun) karena dilengserkan MPR. Sisa waktu diteruskan Megawati  yang wakil presiden menjadi presiden.  Habibie dan Megawati ketika naik menjadi presiden tidak terdengar isu ratu adil dan satria piningit. Bagaimana dengan SBY?. Ternyata, SBY juga tidak mendapat predikat sang ratu adil atau satria piningit atau pemimpin alternatif kendatipun ia terpilih melalui pilpres langsung dan menang mutlak.

Tokoh di tingkat lokal yang dianggap sebagai ratu adil dan pemimpin alternatif adalah Jokowi yang dapat memenangi pilkada Gubernur DKI karena gaya kepemimpinannya sebagai Walikota Solo yang luar biasa dengan ciri sederhana, jujur, santun, merendah, amanah, kreatif, komunikatif, bijak, dekat dan mementingkan  rakyat miskin/marginal, suka blusukan, tidak gila hormat, tidak protokoler, berani dan cepat bertindak, tegas, adil, ramah, supel, dan sikap-sikap eksentrik lainnya tapi tidak melanggar aturan, misalnya melantik walikota di luar gedung (tempat pembuangan sampah di Jakarta Timur dan di Situs Jakarta Selatan), lelang jabatan untuk camat dan lurah, selalu membawa oleh-oleh buku atau beras ketika bertemu dengan masyarakat, ke mana-mana dengan kendaraan mobil toyota kijang,  berani mencopot pejabat yang tidak mampu, dan tindakan lain yang jarang dilakukan gubernur atau kepala daerah lainnya. 

Sifat dan gaya kepemimpinan Jokowi itulah yang dikategorikan pemimpin alternatif atau ratu adil yang mendekati ke arah gaya kepemimpinan atau kepemimpinan kerasullan khususnya kepemimpinan Nabi Muhammad SAW (prophetic leadership). Nabi Muhammad SAW  adalah manusia yang sangat luar biasa dan manusia sempurna karena dijadikan utusan  Allah swt untuk menyebarkan kebajikan dan kebenaran Illahi. Tidak akan ada manusia biasa yang dapat menyamai beliau. Empat sifat dan dasar kepemimpinannya sangat terkenal yakni sidik, amanah, tabliq dan fatonah. Selain itu, tentu masih sangat banyak sikap dan sifat yang patut dicontoh kepemimpinan Nabi Muhammad SAW. Namun demikian, manusia yang menjadi umatnya sangat dianjurkan untuk selalu berusaha dapat mengikuti jejaknya, sikapnya, ucapannya, tindakannya, perangainya, ibadahnya, kepemimpinannya  dan sebagainya sehingga manusia yang bersikap seperti Nabi Muhammad Saw akan menjadi manusia alternatif dan kalau menjadi calon pemimpin masuk kategori calon pemimpin alternatif.

Tokoh nasional dan pejuang bangsa yang dinilai  mempunyai jiwa prophetic leadership adalah Sri Sultan Hamengkubuwono IX,  mantan Wakil Presiden RI,  mantan Gubernur DIY,   Raja Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat (1940 – 1988)  mempunyai kepemimpinan seperti Jokowi. Sederhana, merakyat, demokratis, dermawan, hidupnya hanya untuk melayani rakyat, pengorbanan untuk kepentingan NKRI, bidang pendidikan, sosial budaya, ekonomi, olah raga dan sebagainya dilakukan secara tulus ikhlas tanpa mengharapkan imbalan dalam bentuk apa pun, dan tidak ingin jasanya ditulis dalam suatu buku (lihat Buku; “Sultan Hamengkubuwono IX, Inspiring Prophetic Leader”, ikatan Relawan Sosial Indonesia,  Cet.Pertama, Jakarta, 2013).

Calon pemimpin alternatif dapat lahir dari kalangan mana saja dan dalam lingkungan apa saja, pria atau wanita, serta tanpa pandang umurnya masih kategori muda (50 tahun) atau sudah kategori tua (di atas 50 tahun). Dengan demikian pemimpin alternatif dapat lahir dari lingkungan parpol, birokrasi, militer, ormas, LSM, wirausaha, lembaga pendidikan tinggi, pondok pesantren, karyawan/buruh, dan sebagainya. Yang jelas calon pemimpin alternatif tidak sekonyong-konyong muncul, tetapi  sudah menunjukkan kiprahnya di berbagai bidang kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara atas dasar ketulusan dan tanggung jawab sebagai manusia beriman yang harus ikut mewujudkan kesejahteraan dan kedamaian di dunia tanpa memandang kelompok dan golongan.

Calon pemimpin alternatif yang mempunyai sikap dan sifat luar biasa tersebut, disamping ada faktor bawaan lahir juga harus melalui proses pendidikan baik formal maupun informal yang memberikan dasar-dasar kemampuan intelektual, moral dan spiritual.  Membentuk sikap bermoral tinggi bukan sekonyong-konyong tetapi melalui proses panjang dan sejak dini yang diawali dari lingkungan keluarga yang menjunjung tinggi adab spiritual yang selalu mengedepankan nilai kesantunan, nilai moralitas dan nilai pluralitas, nilai renaah hati, dan lain-lainnya. Karakter seperti Jokowi tidak datang ujug-ujug/tiba-tiba tetapi proses melalui panjang. Untuk itu, jika kita ingin mempunyai calon pemimpin alternatif, bentuklah karakter sejak dini sehingga kelak akan tumbuh menjadi manusia dewasa yang mempunyai sifat-sifat seperti propetic leadership.

Adakah sosok calon pemimpin alternatif bangsa yang akan muncul di tahun 2014?. Tanyalah pada rumput yang bergoyang! Ayo berdiskusi. Terimakasih.

 

                                                                                               

Palembang, 27 Mei 2013.     

 

 


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: