SIKAP SALAH MASYARAKAT TERHADAP POLITIK UANG Oleh: Joko

21 05 2013

SIKAP SALAH MASYARAKAT TERHADAP POLITIK UANG

Oleh: Joko Siswanto

Dosen FISIP UNSRI

 

                Politik uang mulai dikenal marak dalam pemilu legislatif (DPR, DPD, DPRD) dan eksekutif (pilpres, pilkada, pilkades) setelah memasuki era demokrasi, khususnya mulai Pemilu 2004. Pada pemilu pertama (1955) yang dinilai pemilu yang kompetitif, diikuti banyak parpol dan  pemilu  di era orde baru (enam kali pemilu) dengan sistem politik yang represif dan pemilu yang tidak kompetitif justru  boleh dikatakan tidak dikenal politik uang.  Tampaknya demokratisasi dan kompetisi yang ketat   dalam pemilu mempunyai korelasi dengan maraknya politik uang. Semakin sistem politik memberikan kebebasan bagi rakyat dan semakin tinggi kompetisi dalam memperebutkan jabatan politik yang terbatas maka semakin marak dan semakin besar nilai politik uang dengan segala modus operandi.

                Politik uang dilarang karena secara moralitas dinilai berkompetisi tidak fair, tidak jujur  dan tidak adil, serta dinilai berpengaruh  negatif terhadap hasil kompetisi baik bagi yang terpilih maupun masyarakat. Pasal  82 ayat (1) UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah menyatakan bahwa pasangan calon dan/atau tim kampanye dilarang menjanjikan dan/atau memberikan uang atau materi lainnya untuk mempengaruhi pemilih. Hal yang sama diatur dalam Pasal  86  ayat (1) huruf j UU No. 8 Th 2012 tentang Pemilu DPR, DPD dan DPRD  menyatakan bahwa pelaksana, peserta, dan petugas kampanye dilarang menjanjikan atau memberikan uang atau materi lainnya kepada peserta kampanye. Materi  yang  dimaksud tidak termasuk barang-barang yang merupakan alat peraga atau bahan kampanye (Pasal 49 ayat 3 PKPU No. 1 tahun 2013). Denagn demikian, barang-barang cenderamata seperti kaos bergambar parpol atau kandidat, korek api, sapu tangan, pin, ikat kepala/tutup kepala, ballpoint,  merupakan contoh alat peraga kampanye.  

Ketentuan tersebut  hendaknya  dipahami bahwa larangan tersebut  tidak hanya berlaku pada saat berlangsung  kampanye dalam bentuk pengumpulan massa di suatu tempat tertenu saja, akan tetapi harus diartikan juga berlaku ketika tidak dalam suasana bentuk kampanye dengan pengumpulan massa. Ketika belum memasuki masa kampanye dan atau selama masa kampanye, jika  para kandidat, tim kampanye dan atau pelaksana kampanye memberi materi atau uang kepada pemilih untuk mempengaruhi agar memilih parpol atau calon tertentu atau agar  golput  atau agar suara tidak sah, maka pemberian tersebut harus dimaknai sebagai politik uang.   Misalnya, kandidat membagi sembako dari  rumah ke rumah disertai tanda gambar kandidat atau parpol ditambah pesan kepada yang menerima sembako untuk memilih seperti   gambar dimaksud, maka tindakan  membagi sembako tersebut jelas-jelas politik uang.   

Hal penting yang patut digarisbawahi adalah bahwa dikatakan politik uang jika inisiatif yang memberi  materi  dan atau uang kepada pemilih tersebut berasal dari pihak peserta (parpol/kandidat/), tim kampanye dan atau pelaksana kampanye (Pasal 49 ayat 2 PKPU No. 1/2013). Dengan demikian, apabila masyarakat  mengajukan proposal permohonan bantuan dana atau materi tertentu untuk kepentingan sosial kepada kandidat atau parpol (inisiatif dari masyarakat) kemudian kandidat atau parpol memenuhi permohonan tersebut maka  pemberian seperti ini tidak masuk kategori politik uang.  

                 Politik uang tidak saja untuk mempengaruhi pemilih agar menjatuhkan pilihan pada parpol atau kandidat tertentu yang memberi materi dan atau uang, tetapi juga agar masyarakat pemilih dilakukan tidak menggunakan hak pilihnya (golput) atau kalau memilih surat suaranya  agar diberi tanda tidak sah seperti surat suara dirobek, dicoblos di berbagai tempat, dikasih coretan atau tulisan dan sebagainya. Namun, politik uang  agar golput atau surat suara agar tidak sah boleh dikatakan jarang terjadi bahkan mungkin tidak pernah terjadi. .Lazimnya politik uang untuk mempengaruhi agar memilih parpol atau kandidat tertentu.

             Pemilu legislatif maupun eksekutif merupakan arena pertarungan yang akan  berakhir kalah menang. Semua yang bertarung ingin menang. Kemenangan akan membawa kebahagiaan, kejayaan, kemakmuran dan kebanggaan yang berujung kepada prestise yang luar biasa. Sebaliknya yang kalah akan merasakan kesedihan, murung, sedih, malu, dan berbagai perasaan tidak nyaman lainnya yang ujungnya dapat berdampak negatif dalam kehidupan pribadi kandidat, keluarga dan kelompok. Benarlah apa yang dikemukakan oleh  V.O.Key,Jr  dalam bukunya Public Opinian and American Democracy (David E Apter, 1985:2200 yang menganggap kepentingan diri sendiri sebagai unsur penggerak yang penting dalam politik dengan menyatakan bahwa  “Politik tidak seperti bermain kelereng, suatu permainan olah raga. Politik adalah permainan yang dimainkan untuk hidup  mati. Cara permainan itu dimainkan dan siapa pemenangnya mempengaruhi setiap warganegara dan barangkali bahkan anak-anak dan cucu-cucunya”. Oleh  karenanya, segala macam cara dilakukan untuk mendulang kemenangan  tersebut yang salah satunya dengan politik uang. Jelas-jelas para peserta pemilu, kandidat, tim kampanye dan pelaksana kampanye sudah mengetahui bahwa politik uang itu tidak benar, berdosa dan melanggar hukum akan tetapi masih juga dilakukan dengan segala modus operandi agar dapat meraih kemenangan. Sedangkan masyarakat pemilih  memang tidak semua sudah memahami tentang politik uang dan dampaknya dalam berdemokrasi. Ataupun  sejumlah anggota masyarakat yang sudah mengetahui politik uang merupakan tindakan  salah, memang disengaja dilanggar karena dijadikan kesempatan untuk mengais rejeki di musim pemilu/pilkada.  

Terhadap fenomena politik uang tersebut, berdasarkan pengamatan dan praktek yang selama ini terjadi, dijumpai  dua   sikap masyarakat  yakni ada yang menolak (sikap yang benar) dan ada sikap yang menerima (sikap yang salah).Sikap yang salah tersebut dapat dikategorisasi lebih  lanjut berdasarkan jumlah pihak yang memberi sebagai berikut:

  1. 1.         Sikap  Salah yang  Setia/Loyalis

Masyarakat yang menerima pemberian dari satu pasang kandidat atau parpol kemudian pada waktu hari pemungutan menjatuhkan pilihannya kepada kandidat atau parpol yang memberi materi atau uang tersebut. Meskipun salah dalam menyikapi politik uang, tetapi masih mempunyai rasa tanggung jawab,  konsekuen, komitmen terhadap, kstaria dan setia kepada kandidat atau parpol yang telah memberi. Moralitasnya masih tergolong baik meskipun sikap terhadap politik uang tetap salah salah. Kelompok masyarakat seperti ini dapat disebut salah dan setia.

  1. 2.        Sikap Salah yang Pengkianat

Masyarkat yang menerima pemberian politik uang dan kemudian memilih kandidat atau parpol sesuai hati nuraninya alias tidak memilih kandidat atau parpol yang telah memberi materi atau uang. Sikap seperti ini seringkali malah dianjurkan oleh berbagai pihak dan menjadi kecenderungan  sikap masyarakat terhadap politik uang. Terima uang atau materi, soal memilih urusan hati nurani. Jelas sikap seperti sikap yang tidak bertanggung jawab, tidak setia dan tidak konsekuen. Oleh karena itu sikap ini dapat disebut sikap salah dan pengkianat.

  1. 3.        Sikap Salah yang Pembohong

Sikap masyarakat yang menerima politik uang ini sangat jauh dari kriteria moralitas yang mulia,   baik sebagai pribadi maupun sebagai  warganegara. Uang diterima tetapi bersikap tidak memilih atau golput. Sikap salah yang sama sekali tidak terpuji, tidak mempunyai integritas. Sudah berbohong dan berkianat kepada  pihak yang memberi juga berkianat terhadap demokrasi. Demokrasi intinya adalah partisipasi rakyat minimal ikut pemilu sebagai wujud rakyat berdaulat.  Kendatipun memilih itu adalah hak yang boleh dipakai atau tidak, namun sebagai warganegara yang bertanggung jawab dan mempunyai etika politik akan lebih baik kalau hak memilih digunakan. Sikap salah terhadap politik uang yang ketiga ini dapat disebut sikap salah yang  pembohoing atau  munafik.   

Ketiga sikap salah terhadap politik uang tersebut adalah yang asktor pelakunya satu kandidat caleg atau satu pasang kandidat kepala daerah/presiden atau satu kandidat parpol. Jika masyarakat menerima lebih dari satu kandidat apapun atau  parpol apapun, maka sikap salah masyarakat yang menerima politik uang dapat dkategorikan menjadi empat sebagai berikut:

  1. 1.         Sikap Salah yang Sangat Loyalis  

Seseorang atau sejumlah orang yang mendapat tawaran pemberian politik uang lebih dari satu kandidat dan atau parpol tidak semua diterima, akan tetapi menerima dari kandidat atau parpol yang memang yang telah menjadi idolanya atau sesuai hati nurani yang akan dipilih. Kelompok orang atau seseorang yang bersikap seperti ini umumnya sudah mempunyai ikatan emosional dengan kandidat atau parpol dan sudah  mempunyai ketetapan hati akan memilih kandidat atau parpol idamannya.. Ketika parpol atau kandidat pilihan itu memberi uang atau materi, maka dengan senang hati menerimanya dan semakin memperkuat pilihannya. Ada sikap menolak ketika parpol lain akan memberi. Oleh karena itu, sikap salah seperti ini dapat disebut  salah yang sangat loyalis.

  1. 2.        Sikap Salah yang Rasional Pengkianat

 Sejumlah kandidat dan atau parpol melakukan politik uang dan masyarakat menerima semua pemberian tersebut. Setelah semua diterima kemudia dihitung-hitung yang paling besar memberi politik uang. Nah, sikap seseorang atau kelompok orang yang kemudian memilih kandidat atau parpol yang paling besar nilai pemberiannya dapat dikatakan sebagai sikap salah yang rasional pengkianat. Orang seperti ini yakin kalau tidak akan ditanyai oleh si pemberi apa yang dipilih. Apa yang dipilih kan rahasia, dalihnya.

  1. 3.     Sikap Salah yang Emosional Pengkianat

Sikap salah terhadap politik uang yang ketiga adalah menerima semua pemberian dari sejumlah kandidat atau parpol kemudian pada waktu memilih yang dipilih ternyata yang sesuai suara hati nuraninya tanpa nmelihat besar kecilnya nilia politik uang, maka sikap seperti sikap salah yang emosional pengkianat. Aji mumpung dimanfaatkan untuk menerima semua pemberian tetapi urusan memilih hak pribadi, toh katanya pemilu itu rahasia. Sekali punyai pilihan hati tetap pilihan hati, tetapi siapa yang memberi materi dan uang tetap diterima dengan senang hati.

  1. 4.        Sikap Salah yang Perampok Pengecut

Diantara sikap-sikap salah terhadap politik uang yang benar-benar paling parah dan sudah sangat tidak bermoral adalah sikap salah yang perampok pengecut. Orang atau sekelompok orang ini bersikap mencari keuntungan politik dari pihak kandidat atau parpol yang memang lagi memburu dukungan tetapi pembohong dan pengecut. Semua pemberian  dari sejumlah kandidat atau parpol ditampung dengan senyum lebar. Pundi-pundi penuh politik uang. Tetapi apa lacur pada waktu orang berbondong-bondong mendatangi TPS, orang yang telah   mengumpulkan banyak uang tadi tidak ikut ke TPS tetapi memilih golput. Pantas sekali orang yang bersikap seperi ini dapat disebut sikap salah yang perampok pengecut. Merampok uang kandidat atau parpol, dan pengecut karena golput.

 

Sikap-sikap salah terhadap politik uang tersebut sudah melanda masyarakat kita pada musim pilkada seperti sekarang ini dan pemilu legislatif/presiden mendatang. Kita semua, ya  kandidat, parpol, tim kapanye  dan masyarakat seakan  tidak mengenal dosa atas sikap-sikap salah tersebut, dan tidak merasa salah atas pelanggaran undang-undang. Dampak politik uang sangat buruk bagi kehidupan sistem politik, pemerintah dan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu, marilah kita tegakkan kompetisi pemilu dengan sikap kstaria, jujur, dan yang penting menolak semua bentuk pemberian materi dan uang dari para kandidat dan parpol. Semua itu politik uang. Berani menolak politik uang dan memilih atas dasar  kesadaran diri sebagai warganegara yang bertanggung jawab atas kualitas demokrasi adalah sikap warga negara yang terpuji, benar, kstaria dan berintegritas. Bukankah kita senang jika masuk kategori orang yang baik dan terpuji?. Ayolah tolak politik uang! Terimakasih.    

 

                                                                                Palembang, 20 mei 2013.   

 


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: