25 01 2013

 

 

KEMANA HARY TANOE HARUS MELANGKAH?

 

Oleh: Joko Siswanto

Dosen FISIP UNSRI

 

                Masyarakat politik Indonesia dikejutkan atas putusan mendadak seorang Hary Tanoesoedibjo (47 th) bos atau “raja” multi media yang menyatakan keluar dari Partai NasDem pada hari Senin (20/1). Sosok Hary Tanoe sangat dikenal di kalangan pebisnis di Indonesia karena kepiawaiannya dalam mengelola berbagai organisasi bisnis khususnya dalam bidang multi media sehingga ia masuk dalam jajaran 17 orang kaya di Indonesia versi majalah Forbes dengan kekayaan  sekitar US$1,3 miliar.

Setelah sukses dalam bidang bisnis, ia menyatakan  berkiprah dalam bidang politik agar dapat berbuat lebih banyak untuk bangsa dan negara. Ia kemudian memilih  menyalurkan hasrat politiknya melalui Partai NasDem dan pada  akhir tahun 2011 resmi menjadi bagian dari partai yang menentukan warna biru sebagai ciri parpol. Mengapa memilh NasDem, tentu hanya Hary Tanoe yang mengetahui pasti. Tetapi secara eksplisit Bos MNC Group tersebut menyatakan bahwa dirinya bergabung dengan NasDem karena diyakininya mampu merealisasikan gerakan restorasi dan perubahan di Indonesia. Kedekatan dan persahabatan dengan Surya Paloh yang sama-sama bergerak dalam dunia multi media tentunya juga menjadi daya dorong bagi Hary Tanoe untuk nyaman bergabung dengan NasDem. Selain itu, kemungkinan alasan lain yang tidak dinyatakan keluar (disimpan dalam hati) adalah merasa sebagai orang yang belum berpengalaman dalam dunia politik (parpol) akan lebih diterima dan dapat mempunyai pengaruh jika juga masuk parpol baru dibanding parpol lama.  NasDem yang berideologi dan mengedepankan nasionalis dengan tanpa pandang agama dan etnis/ras menjadikan Hary Tanoe merasa nyaman. Hary Tanoe pun langsung menduduki posisi Ketua Dewan Pakar Partai NasDem dan Wakil Ketua Majelis Nasional sekelas Dewan Pembina di Partai Demokrat dan Dewan Pertimbangan di Partai Golkar.

Kehadiran Hary Tanoe menjadi berkah bagi NasDem. Mulai saat dua bos multi media tersebut berkoalisi menggerakkan NasDem maka akhirnya berbuah manis bagi popularitas Partai NasDem. Iklan NasDem mengudara di sejumlah media yang dipimpin keduanya secara rutin. Kontribusi Hary Tanoe tak bisa dianggap remeh, popularitas Partai NasDem menyodok ke papan atas. Hampir semua survei politik menempatkan Partai NasDem dalam 5 besar parpol. Partai NasDem sebagai partai yang dianggap memberikan janji perubahan atau restorasi mendapat sambutan dan  dukungan meriah masyarakat. Dengan ide-idenya  dan kekuatan uang serta media  yang gencar menyuarakan perubahan menjadikan NasDem cepat berkembang dan mampu memenuhi persyaratan untuk dapat mengikuti Pemilu 2014 yang akhirnya dinyatakan  oleh KPU sebagai satu-satunya parpol baru yang dapat memenuhi syarat administrasi dan faktual lolos sebagai peserta Pemilu 2014.  NasDem juga mengambil kebijakan yang sangat menarik yakni caleg dari NasDem akan dibiayai sehingga setelah menjadi anggota legislatif diharapkan tidak akan berlaku koruptif. Inilah salah satu perubahan yang sangat menarik masyarakat. Ketika parpol-parpol lain dalam proses rekrutmen caleg dan kampanye harus mengeluarkan puluhan hingga ratusan juta bahkan milyaran rupiah, NasDem membuat kebijakan semua biaya akan ditanggung parpol dengan harapan kader yang duduk di lembaga legislatif tidak akan berfikir dan berperiaku korutif untuk mengembalikan uang yang sudah dikeluarkan untuk biaya politik.

                Mencermati penjelasan pengunduran Hary Tanoe pada waktu jumpa pers yang disiarkan langsung oleh beberapa televisi nasional,  ada  dua hal penting yang dijadikan dasar Hary Tanoe mundur dari Partai NasDem. Pertama, terkait Suryo Paloh  sebagai  pendiri Ormas Nasdem dan partai NasDem ingin menjadi Ketua Umum NasDem menggantikan Rio Patrice. Permasahannya adalah Hary Tanoe menginginkan NasDem sebagai partai baru pembawa perubahan idealnya dipimpin anak-anak muda yang membawa semangat Restorasi sebagai jargon NasDem. Kedua,  karena banyaknya politisi tua dan berpengalaman dari luar NasDem yang masuk ke partai sedangkan Hary Tanoe ingin anak muda yang idealis diberikan kesempatan di partai karena hal itu sejalan dengan cita-cita partai untuk perubahan. Pada umumnya kader Partai NasDem 70% adalah generasi muda (di bawah 50 tahun). Pandangan kedua tokoh yang berbeda tersebut yakni  Harry Tanoe dan Surya Paloh dalam sepekan terakhir tidak dapat dikompromikan. Pendek kata, keduanya ingin mempimpin Partai Nasdem. Karena masing-masing ngotot memegang prinsipnya, akhirnya Hary Tanoe mengalah dengan mengambil keputusan drastis dan mengejutkan dengan menyatakan mundur dari  NasDem.

                Rugikah NasDem?. Jika dilihat dari marketing politik  dan untuk pencitraan maka NasDem dirugikan. Sebagai parpol baru yang mengusung slogan restorasi/perubahan yang berusaha untuk memperkuat simpati publik, justru malah menunjukkan wajah dan kesan awal kurang baik dengan terjadi konflik yang berakhir dengan kemunduran Hary Tanoe dan sebagian teman-temannya. Memang konflik antar faksi atau kelompok merupakan hal yang lumrah dalam kehidupan parpol, lebih-lebih parpol yang baru saja lahir yang belum banyak pengalaman.  Namun,  hal tersebut dapat diantisipasi sehingga konflik jangan sampai menurunkan citra dan merugikan parpol. 

Dari segi finansial tentu saja NasDem juga akan kehilangan salah satu sumber keuangan yang kuat untuk kepentingan parpol. Kader-kadernya akan menanyakan kebijakan dana kampanye dan lain-laian apakah bakal akan ada atau tidak. Jika akhirnya kader yang menjadi caleg harus biaya sendiri sama saja dengan parpol lain alias tidak ada perubahan karena sumber yang mempunyai dana mengundurkan diri.  

Jika dari kelembagaan dapat berpengaruh negatif kepada tingkat simpatik publik, tidak demikian halnya dengan Surya Paloh yang lebih nyaman Hary Tanoe hengkang dari NasDem. Kehadiran Hary Tanoe di NasDem yang dinilai semakin kencang larinya, maka bagi Surya Paloh  menjadi khawatir dan bakal bisa mengancam dirinya untuk nantinya  dapat diusung sebagai calon presiden. Sebelum berlanjut lebih baik disingkarkan di awal-awal. Surya Paloh pun ngotot yang harus menjadi Ketua Umum. Surya Paloh tidak ingin ada matahari kembar dalam Partai Nasdem. Jika Hary Tanoe tetap bercokol di NasDem, maka Surya Paloh akan kalah pamor dengan Hary Taoe yang cerdas, muda dan harta banyak. Dari sisi ini maka menguntungkan Surya Paloh, dari lembaga merugikan NasDem.

Setelah mundur dari parpol NasDem, kemana Hary Tanoe harus melangkah?. Kembali ke bisnis atau tetap berpolitik?. Jika berpolitik akan masuk parpol apa atau mendirikan parpol baru mengingat kemampuan finanasial dan medianya sangat mendukung ia berkiprah dalam parpol. Ketika hal tersebut ditanyakan pada dirinya, dia belum mengambil sikap yang tegas. Beberapa politisi (antara lain Marzuki Alie, Mubarok) menyarankan agar Hary Tanoe kembali menekuni bisnis saja dan kalau ingin berbakti pada bangsa bisa melalui kegiatan sosial. Saran seperti ini tentu saja boleh saja dilontarkan, tetapi bukankah Hary Tanoe juga warganegara yang berhak untuk menentukan jalan hidupnya dalam mengabdi pada bangsa dan negara. Hary Tanoe tidak bodoh. Ia tidak ingin dirinya hanya dijadikan sumber dana atau ATM parpol tetapi orang lain yang menikmati kekuasaan, sedangkan dirinya tidak mendapatkan posisi yang menentukan.

Beberapa parpol besar yakni Demokrat, Golkar, PDI sudah membuka pintu lebar-lebar untuk menerima kehadiran Hary Tanoe. Karena dirinya bukan sembarang orang tentunya akan dipikirkan kemana harus bergabung jika ingin berpolitik dan jabatan apa yang dapat diduduki. Seandainya Hary Tanoe akan berpolitik praktis melalui parpol, maka harus dipertimbangkan ideologi parpol yang dianut,  jabatan di parpol yang akan diduduki, dan jabatan publik apa yang dapat diraih jika  kelak parpol yang dimasuji dirinya menang. Dalam keterangan pers, Hary Tanoe sangat gamblang dan tegas bahwa parpol hanyalah kendaraan untuk mendapatkan jabatan publik dalam mengabdi pada bangsa dan Negara. Dengan demikian, parpol yang harus dimasuki adalah yang menjanjikan kedudukan jelas jika parpol tersebut menang pemilu 2014. Hal ini dapat dimengerti karena seorang Hary Tanoe mempunyai kekuatan finansial dan media, cerdas dan masih muda yang dapat mendongkrak perolehan suara parpol dan berpotensi dapat menjadi pemimpin bangsa.

Parpol yang layak dimasuki Hary Tanoe hendaknya parpol yang inklusif yakni yang tidak mempersoalkan latar belakang SARA dalam merekrut anaggotanya  akan tetapi parpol yang menonjolkan kualitas dan bobot pemikiran dan tindakannya. Hal ini penting karena Hary Tanoe warganegara Indonesia yang beragama Kristen keturunan etnis Cina yang lahir di Surabaya.  Sosok Hary Tanoe jika mempunyai kesempatan di politik mungkin akan dapat menggantikan sosok Kwiek Kian Gie yang sangat  nasionalis, cerdas dan jujur. Atau dapat seperti Ahok yang menjadi wakil Jokowi dengan mengandalkan kekuatan etis cina bersatu di tingkat nasional dengan menjadi calon wakil presiden. Parpol mana yang kepingin meminangnya?.

Mungkinkah ia akan mendirikan parpol baru?. Ia memberikan keterangan yang menyatakan bahwa jika mendirikan parpol baru harus menunggu  lima tahun lagi untuk dapat ikut pemilu. Hal ini dapat diartikan ia tidak sabar untuk dapat menduduki jabatan di dunia politik dan pemerintahan. Jika ia dapat meraih bisnis dan politik maka semuanya akan saling mengamankan kepentingan dirinya dan kelompoknya disamping untuk kepentingan bangsa dana Negara. Ber5sikap tegaslah Hary Tanoe kemana harus melangkah, bisnis, politik atau keduanya. Terimakasih.

 

 

Palembang, 23 Januari 2013

 

——————————————–


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: