CATATAN RINGAN …

17 07 2012

CATATAN RINGAN dan SEPELE DARI PILKADA GUBERNUR DKI

Oleh : Joko Siswanto

Dosen FISIP UNSRI

 

Pilkada Gubernur DKI yang berlangsung tanggal 11 Juli lalu  berdasarkan hitung cepat berbagai lembaga survey telah menempatkan pasangan Joko Widodo – Ahok memperoleh suara terbanyak (43 % ) mengungguli lima pasang lainnya. Posisi kedua ditempati oleh pasanagan Fauzi Bowo – Nachrowi (34, %). Berhubung tidak ada pasangan yang mendapat suara 50% lebih, maka pilkada akan dilakukan sekali lagi  (Putaran II)untuk mendapatkan pemenang. Meskipun pilkada masih koma, namun dari putaran pertama yang dimenangkan pasangan Jokowi dapat diambil sejumah catatan yang kecil dan remeh sampai yang penting dan serius.

Keunggulan pasangan Jokowi  ternyata menyedot banyak perhatian masyarakat khususnya para pengamat dan lembaga-lembaga survey yang terkaget-kaget dengan hasil tersebut. Sebelum pilkada berlangsung, banyak lembaga survey yang masih mendapatkan angka pasangan Fauzi Bowo menempati tangga teratas disusul pasangan Jokowi dengan perbedaan yang jauh. Prediksi para pengamat dan lembaga survey memang bakal terjadi dua putaran  antar kedua pasangan tersebut dengan suara teratas tetap pasangan Fauzi Bowo disusul pasangan Jokowi. Malahan ada yang yakin bahwa incumbent bakal memenangi pertarungan.  Tetapi  ternyata semua prediksi berantakan. Semua terkejut dan terkesima dengan hasil pilkada versi hitung cepat. Memang benar, terjadi dua putaran tetapi yang unggul adalah pasangan Jokowi bukan Fauzi Bowo.

Dengan keunggulan pasangan Jokowi banyak sudah analisis para pengamat politik yang muncul di berbagai media massa   yang mengulas dugaan faktor-faktor yang menjadikan pasangan Jokowi unggul dan sebaliknya pasangan lainnya kalah dan khususnya incumbent tidak dapat unggul dalam putaran pertama.  Pada kesempatan ini saya juga ingin mencoba membuat catatan tentang  hal-hal  yang ringan,  sepele dan mungkin kurang mendapat perhatian pegamat dari pilkada gubernur DKI. Siapa tahu dari hal-hal yang ringan dan tampak sepele tersebut   mempunyai makna besar dan andil besar dalam upaya mempengaruhi perilaku pemilih warga DKI dan jangan-jangan kondisi tersebut bakal menular atau berpengaruh  di pilkada daerah lain.

Berdasarkan hasil pilkada gubernur DKI, catatan ringan dan sepele yang dapat dikemukakan di sini antara lain:

Pertama, pengalaman  pilkada selama ini, jika pilkada diikuti petahana (incumbent) dan calonnya lebih dari dua pasang maka hampir dapat dipastikan petahana akan unggul dalam satu kali putaran karena sebagai petahana mempunyai banyak kelebihan dan kesempatan untuk dapat mempengaruhi pemilih. Pengalaman pilkada selama  ini, untuk mengalahkan petahana sangat sulit. Namun apa yang terjadi di pilkada DKI?. Petahan hanya menempati posisi kedua. Pasangan Jokowi unggul sementara. Dengan demikian, asumsi yang  selama ini terbentuk dalam masyarakat bahwa umumnya petahana bakal unggul telah gugur.

Kedua, dalam pilkada selama ini, siapa yang paling banyak uang dan mampu berkampanye yang megah dan wah, banyak baliho, spanduk atau bakti sosial serba gratis maka ada kemungkinan sangat besar dianggap bakal menarik pemilih sehingga akan memenangi pilkada. Fauzi Bowo mempunyai kekayaan paling besar (sekitar Rp. 53 M) dan dana kampanye juga tertinggi sehingga kampanyenya dinilai  menyedot banyak uang. Dana kampanye Fauzi Bowo paling besar dibandingkan kandidat lain. Sedangkan kekayaan Jokowi hanya setengahnya (sekitar Rp.26 M) dan dana kampanye juga kalah dengan yang dimiliki Fauzi Bowo. Malah pengakuan Jokowi dengan jualan baju kotak-kotak untuk cari dana kampanye. Untuk itu, tim Jokowi  memilih kampanye yang relatif murah dan sederhana dengan mendatangi tempat-tempat pemukiman masyarakat bawah, pasar-pasar tradisional dan tempat-tempat marginal lainnya yang tidak banyak menghabiskan uang. Malahan ada pasangan calon yang obral bakti sosial gratis di mana-mana yang tentu membutuhkan dana besar. Faktanya, calon dengan banyak uang  dan kampanye mahal yang artinya  menghabiskan banyak uang ternyata bukan jaminan dapat memenangkan kompetisi, dapat dikalahkan oleh calon yang mempunyai kekayaan relatif lebih sedikit  dan yang berkampanye tidak banyak menghabiskan uang.

 Ketiga, bahwa tingkat pendidikan calon yang lebih tinggi ternyata juga tidak berpengaruh dalam memenangkan pertarungan. Calon gubernur DKI yang berpendidikan di atas S-1 yakni    Faisal Basri dan Nono Sampono (S-2),  dan yang berpendidikan S-3 adalah pasangan Fauzi Bowo, Hidayat  Nur Wahid dan Didik J  Rachbini.    Ternyata pasangan Jokowi yang hanya berpendidikan S-1 dapat  mengalahkan yang berpendidikan S-2 dan S-3. Dengan kata lain, pemilih DKI tidak begitu memperhatikan latar belakang calon.

Keempat, pasangan yang berlatar belakang unsur militer yakni Mayjen (Pur) Hendarji Soepanji dan Letjen (Pur) Nono Sampono ternyata tidak laku dijual dan tidak seksi  dijadikan daya pikat pemilih Jakarta. DKI salah satu daerah yang tertinggi tingkat kriminalitasnya. Pasangan calon dengan latar belakang militer berharap akan mampu menaklukkan warga Jakarta dengan kampanye program keamanan bakal dinikmati jika pasangan gubernur ada unsur militernya. Fakta membuktikan tidak demikian, ternyata pasangan Jokowi yang orang sipil dengan postur yang tidak mempunyai potongan serdadu justru dapat mengalahkan yang berlatar belakang militer.

Kelima, para pasangan calon yang mempunyai pengalaman lebih luas (sebagai gubernur) atau menjabat di lembaga negara tingkat nasional (MPR) dan lain-lainnya serta berpengetahuan luas sebagai dosen dan pengamat persoalan-persoalan di tingkat nasional ternyata juga tidak menarik bagi warga Jakarta. Buktinya Jokowi yang hanya berkaliber lokal (Walikota Solo) ternyata dapat mengambil hati  warga Jakarta. 

Keenam, pakaian pasangan calon pada umumnya sangat diperhatikan karena ikut bicara dan membawa citra dalam penampilan dan mempengaruhi pemilih. Pakaian atau kostum dalam pilkada seringkali dijadikan simbol daya pikat sekaligus untuk menunjukkan sikap dan identitas dari kelompok tertentu. Umumnya para kandidat berpakaian muslim (berpeci dan berbaju koko) atau mengenakan kostum budaya setempat agar dapat menarik simpati pemilih dan menunjukkan keterpihakan kepada budaya atau agama mayoritas pemilih serta untuk simbol bahwa  calon berakhlak baik (agamis).  Umumnya pasangan calon gubernur DKI menunjukkan berbusana dengan identitas agama dan atau budaya betawi dengan warna putih yang menurut ahli warna menujukkan kebersihan, ketulusan dan bersikap melayani. Sedangkan pasangan Jokowi – Ahok menentang arus kebiasaan dan dianggap nyleneh/eksentrik  yang lebih memilih berpakaian kasual baju kotak-kotak yang dipadu celana jin yang lebih memberi kesan menunjukkan kejujuran, egaliter, kesederhanaan  dan bersikap apa adanya, tidak manipultif dan kepura-puraan namun tetap sopan. Buktinya pasangan Jokowi lebih unggul daripada yang berkostum  rapi, agamis, atau yang mengacu pakaian betawi.  Jadi, ternyata cara berpakaian yang mengacu kepada budaya setempat dan yang berkesan menunjukkan moralitas tinggi  tidak selalu menjadi jaminan kemenangan dan tidak menggambarkan keadaan yang sebenarnya  sehingga  tidak mampu  sebagai daya tarik pemilih.

Ketujuh, efek otonomi daerah antara lain berkembang isu dan fakta di lapangan  bahwa kepala daerah sudah umumnya  diduduki oleh  putra daerah atau etnis asli daerah yang bersangkutan.  Isu putra daerah sangat kuat sekali di era pilkada langsung untuk dapat maju sebagai calon kepala derah. Situasi ini ternyata berantakan dan tidak berlaku di DKI. Pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi yang asli putra betawi ternyata dikalahkan sementara oleh pasangan   Jokowi – Ahok yang bukan orang betawi atau pasangan gado-gadocampuran (Jawa – Tionghoa).

Berdasarkan fakta-fakta  yang demikian, dapat disimpulkan bahwa status petahana (incumbent) yang mempunyai banyak peluang, calon yang beruang banyak  atau kekayaan melimpah, kampanye dengan mengeluarkan banyak uang, kampanye dengan dibungus kegiatan sosial gratis,  pendidikan sangat tinggi, putra daerah, pengalaman,  pengetahuan dan jabatan jauh lebih tinggi dan bertaraf nasional bahkan internasional, berpakaian yang berkesan agamis dan menghargai budaya setempat,  serta latar belakang militer dengan bintang di pundak, ternyata semua itu belum tentu dapat mempengaruhi pemilih. Bukti dan fakta pilkada  DKI dimenangkan untuk sementara oleh pasangan Jokowi yang menunjukkan sikap sederhana, tulus, dan apa adanya. Hal ini menunjukkan bahwa warga DKI (berdasarkan teori kepemimpinan dan hal ini juga berlaku di masyarakat pada umumnya),   pada dasarnya menginginkan  mempunyai sosok pemimpin yang berakhlak dan berintegritas yang ditunjukkan  secara nyata  dalam bersikap sehari-hari penuh dengan kesederhanaan, ramah, tidak arogan, tidak sombong, dekat dengan rakyat, tidak menjaga jarak dengan rakyat, mudah ditemui, jujur, bersih atau tidak korupsi, iklas, tidak berpura-pura, melindungi rakyat  dan dapat dipercaya.  Warga DKI ternyata tidak silau dengan pameran kampanye yang penuh kepura-puraan, warga DKI ternyata cerdas  dapat menilai mana calon yang memberi dengan ikhlas dan mana yang memberi karena mempunyai pamrih minta dukungan.  

Sikap-sikap seperti tersebut di atas ditunjukkan  oleh Jokowi sebagai Walikota Solo sehingga  Solo maju, rapi, birokrasinya tidak korup  dan rakyatnya sejahtera sehingga Jokowi mendapat berbagai penghargaan. Jelas, masyarakat DKI terbius dan merindukan gaya kepemimpinan Jokowi dapat dibawa ke Jakarta. Dengan keunggulan sementara diraih Jokowi dalam pilkada di DKI, dari segi kedewasaan berdemokrasi maka warga Jakarta yang sangat heterogen menunjukkan sikap yang obyektif dan dewasa. Mereka memilih bukan atas dasar ikatan primordial atau politik uang tetapi lebih diutamakan calon pemimpin yang mampu bersikap seperti pasangan calon Jokowi.  Sikap pemimpin seperti Jokowi    tidak dapat dibentuk dalam hitungan bulan apalagi minggu mendekati pilkada saja, namun merupakan proses panjang sejak dini.   Selain karakter bawaan (teori sifat kepemimpinan) , watak dan sikap seperti itu juga   merupakan hasil proses pendidikan sejak ada dalam lingkungan keluarga yang selalu menanamkan nilai-nilai luhur dan kemudian ditempa dengan pendididkan formal serta lingkungan yang selalu dapat merangsang perilaku  untuk berbuat baik dan menghargai orang lain.

Bagaimana implikasi pilkada gubernur DKI terhadap daerah lain khususnya di Sumatera Selatan?. Masyarakat tiap daerah mempunyai warna dan karakternya sendiri  yang berbeda satu sama lainnya. DKI merupakan daerah urban, pusat segala-galanya, sangat hetergoen, klas menengahnya sudah banyak, orang pintar banyak,  sehingga mayoritas warganya jauh lebih bebas bersikap dalam menentukan pilihannya. Sedangkan daerah lain di luar DKI relatif homogen dan masyarakat klas menengahnya juga relatif kecil dibandingkan dengan klas bawah sehingga sikap mayoritas masyarakat belum dapat sebebas warga DKI dalam menentukan sikap pilihannya dan cenderung masih mudah dipengaruhi dengan kepentingan sesaat (politik uang). Kendatipun demikian, tidak ada salahnya bakal calon gubernur, bupati, walikota  yang sekarang sudah merebak di mana-mana fotonya, baik untuk pilkada gubernur maupun walikota/bupati,   untuk belajar bersikap seperti gaya dan sikap pasangan Jokowi-Ahok. Siapa tahu warga Sumsel tertarik,  atau sebaliknya malah muak karena sikapnya hanya  pura-pura penuh kepalsuan demi  pamrih mendapat dukungan. Untuk itu, parpol harus jeli dalam mengusung bakal calon. Masih banyak tokoh dan figur yang dapat diusung oleh parpol. Tokoh-tokoh dan figur seperti ini biasanya enggan untuk memamerkan diri. Dengan demikian,  parpol harus berani pro aktif menjaring  bakal calon secara terbuka, demokratis dan kalau perlu memburu dan melamar tokoh atau figur yang pantas untuk diusung sebagai bakal calon gubernur, walikota atau bupati.   Perlu dicatat bahwa PDIP dan Gerindra  sangat tepat memilih kadernya, kalau dalam diri parpol tidak mempunyai kader yang lyak jual maka tidak ada jeleknya melamar figur yang pantas untuk dicalonkan oleh parpol. Jadi, dalam pilkada faktor figur sangat menentukan dalam upaya memikat pemilih.    Masyarakat juga jangan terlena dengan besarnya baliho dan maraknya foto bakal calon yang beredar di mana-mana seolah-olah hanya dirinyalah  yang paling hebat dan bakal calon yang  akan mampu menang dalam pilkada. Hati-hati, perilaku pemilih  Pilkada DKI bisa jadi dapat menular di daerah lain termasuk perilaku pemilih di daerah Sumatera Selatan khususnya di daerah urban (kota).   Kita tunggu putaran kedua Pilkada DKI. Terimakasih. 

 

                                                                                                Palembang, 14 Juli 2012. 


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: