18 06 2012

PERANAN PEMUDA

DALAM MENINGKATKAN PERSATUAN DAN KESATUAN BANGSA

DALAM BINGKAI NKRI

Oleh : Joko Siswanto

Dosen FISIP UNSRI

 Pendahuluan

Warisan dan peninggalan sejarah tidak selalu benda-benda mati yang dapat menggambarkan masa lalu yang dipelihara cukup dengan perawatan fisik yang relatif mudah;  akan tetapi warisan juga dapat berupa nilai-nilai kehidupan dan kelembagaan yang pemeliharaannya jauh lebih sulit karena yang diwariskan itu hal-hal yang bergerak dinamis berkaitan dengan eksistensi dan kesinambungan kehidupan berbangsa dan bernegara. Negara Kesatuan RI beserta perangkat yang melekat di dalamnya merupakan warisan para founding fathers yang tidak ternilai harganya yang  harus dijaga, dipelihara dan dikelola dengan baik agar NKRI tetap hidup dan berlanjut. Untuk itu, pemuda sebagai komponen generasi penerus bangsa mempunyai tanggung jawab sangat besar untuk menjaga keberadaan dan keberlanjutan NKRI. Peranan pemuda dalam terlibat mempelopori, mempersiapkan,  melaksanakan dan mempertahankan proklamasi kemerdekaan RI sudah terbukti. Kiprah dan peranan Pemuda Indonesia tidak lagi diragukan dalam gerakan-gerakan perubahan menuju kebaikan dan keberadaban.

Sumpah Pemuda 1928 sebagai pernyataan kebulatan tekad para pemuda dari penjuru Nusantara merupakan awal kelahiran semangat persatuan dan kesatuan yang harus terus bergelora di dada para pemuda khususnya dan rakyat Indonesia pada umumnya. Semangat Sumpah Pemuda memberi daya dorong para pemuda untuk lebih giat melakukan gerakan-gerakan yang agresif dan kritis dalam upaya mewujudan Indonesia sejahtera. Hampir semua gerakan perubahan yang mendasar di Indonesia  tidak lepas dari peranan  pemuda khususnya para mahasiswa.

Dalam perjalanan sejarah NKRI sejak berdiri di tahun 1945 sampai sekarang berbagai ancaman, ujian, cobaan datang silih berganti dalam bentuk dan sifat yang berbeda-beda untuk menghancurkan NKRI. Musuh dan perusak NKRI dapat dari luar/eksternal  (bangsa lain) ataupun dari  dalam/internal  (bangsa sendiri) dengan berbagai dalih kepentingan dan berbagai modus operandi dari yang soft, tersembunyi  sampai  yang blak-blakan dengan kekerasan.  Pola-pola gerakan yang berusaha untuk memecah belah bangsa dan memperlemah persatuan dan kesatuan antara lain  tindakan yang merusak generasi muda secara fisik (narkoba) dan non-fisik (de-ideologi Pancasila) yang akhirnya dalam diri generasi muda tertanam sikap-sikap saling membenci, saling curiga, lebih mementingkan kelompok, egoisbersikap hedonis dan fanatisme sempit.

Selain sikap positif dan peran penting  dalam gerakan perubahan di Indonesia, pemuda Indonesia dalam kontek kekinian juga banyak menimbulkan masalah baik karena faktor dirinya atau dari luar yang tidak disadari menjadikan pemuda tidak kompak serta berperilaku menyimpang dari kaidah yang berlaku.  Wujud  tidakan nyata perilaku pemuda yang sudah tidak lagi menjunjung nilai persatuan dan kesatuan   antara lain sering terjadi perkelaian atau tawuran antar generasi muda seperti  perkelaian   mahasiswa dan pelajar, bentrok antar masyarakat yang umumnya anak-anak muda, demonstrasi anarkis, gerakan radikal seperti perilaku terorisme yang umumnya dilakukan anak-anak muda, konflik SARA yang di dalamnya banyak terlibat anak-anak muda, perkelaian antar suporter sepak bola yang umumnya dilakukan oleh remaja dan pemuda.

Permasalahan pemuda  yang berkaitan dengan nilai persatuan dan kesatuan serta sikap kebangsaan tersebut menjadi keprihatian harian Kompas (Oktober, 2011) yang kemudian melakukan jajak pendapat yang hasilnya antara lain dikemukakan bahwa semangat persatuan pada pemuda semakin melemah (56,8%) dan lebih mengutamakan kepentingan kelompok (77%) dibandingkan kepentingan bangsa (21,2%) kendati masih suka menjadi  bagian negara Indonesia (50,9%). Kondisi ini menunjukkan bahwa sikap kebangsaan atau mencintai terhadap negaranya di kalangan pemuda  tidak  bulat 100%.  Jika situasi seperti ini dibiarkan berlanjut tanpa usaha sungguh-sungguh maka sikap  persatuan dan kesatuan serta kebangsaan dalam diri pemuda semakin lama akan semakin lemah sehingga berdampak kepada kedaulatan bangsa yang mudah diintervensi dan dipermainkan oleh bangsa lain yang akhirnya NKRI akan terancam.

Sosialisasi dan Mendidik Tiada Henti

Mengingat betapa strategisnya  kedudukan dan perana pemuda dalam konstelasi keindonesiaan khususnya dalam menjaga eksistensi dan keberlanjutan NKRI, maka pemuda harus dipersiapkan melalui proses pendidikan dan sosialisasi akan nilai-nilai Pancasila, pluralisme, kepahlawanan, patriotisme dan nasionalisme sejak dini melalui berbagai sarana dan berbagai metode agar dapat tumbuh dan berkembang menjadi pemuda Indonesia yang berjiwa Pancasilais dengan ciri-ciri agamis, pluralis, nasionalis, demokratis, patriotik dan bersikap adil bijaksana. Tampaknya ciri-ciri tersebut seperti utopis dan idealis, namun kalau semua pihak dan kita mau bersinergi dan berusaha sungguh-sungguh  tiada impian yang tidak tercapai. Masa-masa  muda  merupakan masa emas untuk pertumbuhan intelektual, spiritual dan emosional. Pada masa tersebut jika tidak dikelola dan diarahkan dengan baik maka pertumbuhan tidak akan maksimal atau perkembangannya menjadi negatif. Perilaku negatif atau perilaku menyimpang yang bertentangan dengan norma hukum, norma sosial dan norma agama akibat dari pola asuh dan pengelolaan intelektual, spiritual dan emosional yang salah atau tidak terkontrol dengan baik. Selain itu, dalam diri generasi muda sedang terjadi proses alamah mencari jati diri yang rentan terpengaruh oleh hal-hal instan yang dinilai nyaman, baik atau enak dalam sesaat tetapi pada dasarnya  dan akhirnya akan dapat  merusak secara perlahan tetapi pasti masa depannya.

Sebenarnya menjadi manusia yang agamis atau yang taat akan ajaran agamanya bukan hal yang sulit apalagi bangsa ini sudah mewaris tradisi percaya kepada Dzat Yang Maha Kuasa. Modal keyakinan ini  dapat berpengaruh dalam proses mendidik dan membentuk pribadi pemuda. Semua agama mengajarkan hidup damai dan saling mencintai sesama ciptaan Tuhan. Malahan dalam agama Islam secara tegas dikemukakan dalam Al Quran Surat Al Hujarat (13): ):”Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari sorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian adalah orang yang paling bertaqwa di antara kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Maha Mengenal”.  

Bagi kaum muslim, perbedaan di antara manusia itu sudah kehendak Allah dan siapa yang mengingkari akan perbedaan sama saja mengkingkari akan kekuasaan Allah, sama saja tidak beriman, sama saja tidak beragama.   Oleh karena itu, tiada alasan bagi umat manusia untuk saling membenci atau berkonflik dengan etnis lain, agama lain, bangsa lain, kelompok lain karena sama-sama manusia ciptaan Tuhan.  Masyarakat Indonesia sangat pluralis dari segi etnis, agama, budaya, dan tinggal di berbagai daerah dengan kondisi geografis yang berbeda dalam hamparan luas dalam wadah wilayah NKRI.  Pluralitas inilah ciri Indonesia dan ini hal yang riil. Pengakuan akan pluralitas ini sangat menjadi penting untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan. Kesadaran akan pluralitas berarti kesadaran untuk saling menghormati dan saling menjaga eksistensi masing-masing. Di sini tidak berlaku sikap egoisme kelompok atau golongan, tetapi dibutuhkan kebesaran dan budi luhur bersikap mau berkorban demi kebersamaan dan persatuan-kesatuan bangsa. Perasaan dominasi mayoritas dan tirani minoritas tidak berlaku dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Iniah yang dinamakan sikap bergotong royong, siskap saling menolong, sikap asih-asah-asuh, ringan sama dijinjing berat sama dipikul,  berdiri sama tinggi duduk sama rendah.  Pengetahuan (kognitif) akan nilai-nilai agamis dan pluralitas inilah yang harus dibangun dan disosialisasikan tiada henti kepada generasi muda sehingga  menjadi sadar akan jiwa  kebersamaan, persatuan dan kesatuan (afektif) yang akhirnya  diwujudkan dalam tindak riil (motorik) dalam bermasyarakat berbangsa dan bernegara sebagai pondasi terjaganya NKRI.

Selain memperkokoh sikap agamis dan pluralis, generasi muda harus dididik tiada henti agar tumbuh kesadaran nasionalisme dan pratriotisme yang tinggi. Warisan nilai-nilai kejuangan para pendahulu yang berjasa terhadap bangsa dan negara ini tidak begitu saja dengan mudah diperoleh akan tetapi melalui proses panjang yang penuh dengan dedikasi, pengorbanan harta dan nyawa, pantang menyerah dan dilandasi semangat untuk merdeka dari segala bentuk penjajahan. Dengan demikian, warisan nilai nasionalisme dan patriotiisme tidak akan tertanam dalam diri pemuda tanpa terus menerus disosialisasikan dengan berbagai metode.   Untuk itu, metode yang menekankan aspek motorik agar menghayati sikap nasionalisme dan patriotisme dapat lebih digalakkan, misalnya kegiatan napak tilas perjuangan para pahlawan perang, lomba karya tulis kepahlawanan, pertukaran pemuda antar daerah, wisata  musium perjuangan, dan sebagainya.

Metode Tri N dan Tri NG

Dalam upaya untuk mendididk atau sosialisasi tiada henti bagi pemuda demi terbangun kesadaran bertindak untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa dalam bingkai NKRI, maka nilai-nilai Pancasila yang agamis, pluralis, nasionalis, patiotik, adil, kebersamaan dan sebagainya,  maka patut digunakan metode asuh konsep Ki Hajar Dewantara dalam pola asuh anak dengan teori atau metode  Tri N yakni Nonton (melihat),   Niteni (menandai/mengamati) dan Niroke (mengikuti). Anak-anak pada umumnya dalam melakukan tindakan akan diawali nonton atau melihat kejadian atau obyek, kemudiana anak akan menandai dengan kemampuan indera yang dimiliki dan akhirnya akan mengikuti tindakan yang dilihat dan yang ditandai. Contoh: si  anak setiap hari nonton atau melihat perilaku ayahnya merokok, kemudian mengamati cara  ayahnya merokok, lama-lama si anak akan mengikuti perilaku ayahnya untuk juga merokok. Jadi,  si anak akan berperilaku atau bertindak yang bercenderungan sangat kuat menirukan dari apa yang dilihat dan dirasakan di sekitarnya. Jika yang dilihat sesuatu yang bernilai buruk, maka ada kecenderungan anak juga akan ikut-ikutan berperilaku buruk. Demikian pula sebaliknya, jika yang dilihat sesuatu yang baik-baik maka anak pun akan berperilaku baik. Dengan demikian, teori Tri N ini akan sangat manjur dalam mendidik anak dan juga berlaku untuk mendidik rakyat. Untuk itu, kata kuncinya adalah perilaku yang dapat dicontoh atau keteladanan dari orang yang merasaa menjadi pemimin dan dianggap sebagai pemimpin atau panutan.

Teori Tri N tersebut, dapat  diterapkan dalam membumikan nilai-nilai Pancasila khususnya kepada generasi muda atau pemuda agar menjadi pemuda yang Pancasilais dengan ciri-ciri sebagaimana yang dikemukakan di atas. . Untuk itu, mereka yang merasa berposisi sebagai pemimpin atau menjalankan fungsi pemimpin harus dapat dijadikan contoh/teladan bagi generasi muda dalam melaksanakan nilai-nilai Pancasila baik dalam perilaku sebagai individu maupun sebagai pengambil kebijakan publik. Masyarakat Indonesia yang paternalistik selalu berorientasi ke atas (pemimpinnya). Jika pemimpinnya dapat dijadikan teladan dalam bersikap dan bertindak, maka rakyat tidak perlu disuruh-suruh pasti akan mengikutinya.

. Untuk tidak mengulangi kasus Orde Baru yang pemimpinnya tidak mempunyai integritas, maka para pemimpin bangsa di era pasca Orde Baru   harus mau dan mampu dijadikan teladan (ditonton) dalam melaksanakan nilai-nilai Pancasila.   Generasi muda sebagai penerus bangsa harus terus menerus menerima sosialisasi Pancasila karena generasi akan terus berganti. Melalui teori Tri N maka generasi muda khususnya dan masyarakat pada umumnya akan lebih mudah menerima Pancasila. Para pemuda sebagai calon pemimpin hendaknya juga harus dapat ditonton sebagai teladan yang baik, dapat dijadikan teladan bagi generasi selanjutnya.

Selain Tri N, dalam proses sosialisasi juga perlu menggunakan Teori NG. Teori ini juga dari Ki Hadjar Dewantara dengan arti: Ngerti (mengetahui), Ngrasake (merasakan) dan Nglakoni (melaksanakan). Ada asumsi bahwa pemimpin,  generasi muda dan masyarakaat pada umumnya pada saat ini kurang ngerti Pancasila karena tidak diajarkan secara sungguh-sungguh. Akibat kurang ngerti (aspek kognitif) maka tidak akan dapat ngrasake atau memberi penilaian (asepk afektif) terhadap Pancasila yang akhirnya tidak dapat nglakoni (aspek motorik). Untuk itu, sudah saatnya mumpung belum terlambat hendaknya segera dilaksanakan gerakan yang lebih dahsyat untuk mengertikan Pancasila kepada masyarakat khususnya generasi muda dan para pemimpin untuk dapat dijadikan contoh berperilaku karena selalu ditonton masyarakat.

Dalam proses mendidik, sampai pada ranah ngerti dan ngrasake atau nonton dan niteni saja tidak cukup karena jauh lebih penting pada ranah melaksanakan. Buat apa kita sadar akan pluralitas bangsa namun dalam perilaku kita sehari-hari tidak mencerminkan sikap mengormati akan pluralitas. Apa artinya kita paham dan khusuk beribadah kepada Tuhan namun dalam pergaulan dengan sesama masyarakat yang lain di luar kelompok agamanya tidak mau bertegor sapa dan selalu curiga.

Penutup

Kita menginginkan bahwa NKRI tetap eksis dan berkelanjutan. NKRI sudah final pilihan kita. Oleh karena itu, pemuda sebagai generasi penerus bangsa yang berposisi dan berperan strategis dalam menjaga NKRI harus dididik dan dibekali akan nilai-nilai  Pancasila dan pluralitas bangsa secara terus menerus melalui berbagai sarana dan metode khususnya metode atau teori Tri N dan Tri NG. Semoga percikan pemikiran ringkas dan sederhana ini dapat memicu untuk berdiskusi lebih lanjut. Terimakasih.

Palembang, 19 Juni 2012.

Catatan :

Materi ini disampaikan dalam acara Dialog Kepemudaan tentang Peranan Pemuda dalam Meningkatkan Persatuan dan Kesatuan Bangsa dalam Bingkai NKRI yang diselenggarakan oleh Front Generasi Muda Reformasi Sumsel pada hari Selasa, 19 Juni 2012 di Hotel Classie Palembang


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: