WAWASAN KEB…

4 05 2012

 

 

WAWASAN KEBANGSAAN BAGI GENERASI MUDA

DI SUMATERA SELATAN

 

Oleh:

Joko Siswanto

Dosen FISIP UNSRI

 

Pendahuluan

                Ketika manusia yang mendiami bumi di kepulauan zamrud kathulistiwa ini masih hidup dalam cengkeraman kekuasaan Bangsa Belanda, maka yang dirasakan adalah kesengsaran dan keterbelakangan. Tatapan kehidupan mayoritas pribumi ke depan hanyalah suasana kegelapan di bawah bayang-bayang kekejian dan keserakahan kaum kulit putih/penjanjah. Potret buram kehidupan kelam manusia yang tinggal di kepulauan penuh pesona dan kekayaan alam ini ternyata menyadarkan dan membangunkan semangat segelintir pemuda pribumi yang terdidik bahwa kolonialisme, imperialisme dan feodalisme harus dilawan dengan menumbuhkan semangat senasib sepenanggungan dan kesadaran kolektif akan kebersamaan yang langgeng.

       Empati akan kesengsaraan akibat perilaku penjajah dan munculnya niat luhur untuk membangun kebersamaan, maka para pemuda terdidik tersebut mengembangkan pemikiran dan gerakan kesadaran akan kesamaan nasib untuk membangun suatu bangsa. Untuk itu, lahirlah gerakan Budi Utomo (1908) sebagai cikal bakal kesadaran akan   eksistensi bangsa. Budi utomo memberi spirit dan ilham bagi masyarakat khusunya para pemuda militan yang sadar akan mara bahaya perilaku penjanjah untuk kemudian membangun tekad bersama berjanji mati dan mukti demi ibu pertiwi. Perwakilan para pemuda dari seantero wilayah Nusantara pun menggalang kekuatan untuk bisa membentuk suatu rasa kebersamaan dan sehidup semati dalam ikatan sebagai bangsa (nation). Dan akhirnya, lahirlah Soempah Pemoeda 28 Oktober 1928:

        

       PERTAMA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah  Jang Satoe, Tanah Indonesia.

       KEDOEA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia.

       KETIGA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia.

Peristiwa bersejarah yang amat penting di tahun 1908 dan 1928 tersebut merupakan landasan kehadiran adanya kebersamaan atas dasar ikatan nasib untuk membentuk suatu Bangsa  Indonesia. Dorongan senasib inilah kemudian melahirkan gerakan-gerakan menentang dan melawan kolonialis Belanda dan Jepang yang akhirnya bisa merdeka pada tanggl 17 Agustu 1945. Dengan kemerdekaan itu maka kedaulatan sudah ada di tangan  Bangsa Indonesia. Bangsa lain atau penjanjah tak punya hak lagi untuk menindas dan mengatur Bangsa Indonesia. Kemerdekaan Indonesia yang dibayar mahal dengan perjuangan panjang dan pengorbanan harta dan nyawa pahlawan kusuma bangsa harus dipertahankan  dan dijaga kesinambungannya oleh generasi penerus.

Berdasarkan proses sejarah tersebut, maka ciri pertama  suatu paham kebangsaan atau nasionalisme Indonesia adalah kesamaan nasib dan ingin mewujudkan cita-cita bersama dalam kebhinekaan etnik yang diikat melalui bahasa pemersatu, Bahasa Indonesia. Bangsa Indonesai terbentuk bukan karena faktor kesamaan agama, etnik, bahasa, maupun wilayah akan tetapi tekad bersama untuk tetap bersatu dalam bingkai wilayah kepulauan Negara Indonesia. Kebinekaan dan warna warni etnik adalah kekuatan bangsa yang eksistensinya harus dijaga dan dihargai. Mereka semua mempunyai kontribusi terhadap kelahiran Bangsa dan Negara RI. Tidak ada dominasi yang  besar dan tirani yang kecil. Mereka berhak tinggal di mana pun di muka bumi Indonesia. Mereka berhak mengembangkan kualitas komunalnya dan berhak dilindungi oleh Negara.

Dengan demikian, nilai kebangsaan Indonesia yang pertama adalah kebersamaan atau persatuan dan kesatuan. Hal ini harus dibedakan dengan nasionalisme Barat yang menonjolkan invidualisme/etnik sehingga selalu muncul anggapan bahwa bangsanya yang paling unggul sehingga selalu ada niat untuk menindas bangsa lain (bangsa penjanjah umumnya bangsa-bangsa Eropa: Belanda, Inggris, Perancis, Portugis, Jerman,dsb). 

Ciri kedua nilai kebangsaan Indonesia adalah sikap patriotisme dan semangat untuk mempertahankan kedaulatan Bangsa dan Negara sebagai  bangsa yang merdeka, yang bebas dari segala macam bentuk penindasan fisik dari bangsa lain, bebas dari penguasaan wilayah atau sebagian wilayah dari bangsa lain. Sikap patriotisme yang tinggi demi kedaulatan negara dan martabat bangsa, maka rakyat akan rela berkorban dan berjuang tanpa pamrih atau imbalan semata-mata berbakti untuk menunjukkan kesetiaan dan kecintaan terhadap Bangsa dan Negara RI. Pendek kata, sikap nasionalisme atau kebangsaan adalah meletakkan kesetiaan dan kecintaan yang tinggi kepada Bangsa dan Negara.

Ciri ketiga nilai kebangsaan Indonesia adalah kemandirian untuk bersikap dalam menentukan nasib terbaik Bangsa. Kebebasan yang telah dipeluk tidak akan bermakna tanpa ada keberanian untuk mandiri dalam menentukan sikap hidup  yang akan dijalani. Kemandirian bukan dibaca sebagai keangkuhan diri, tertutup dan  tidak mau bekerjasama dengan bangsa lain, akan tetapi harus dimaknai sebagi prinsip tidak bersedia bekerjasama dengan bangsa atau pihak lain  jika kerjasama itu bakal merugikan atau menggadaikan kedaulatan dan martabat bangsa dan negara. Kerjasama harus mengguntungkan semua pihak dan harus membawa kesejahteraan rakyat tanpa kehilangan harkat dana maratabat sebagai bangsa nerdaulat.

Aktualisasi Nilai Kebangsaan

Kita menyadari bahwa nilai-nilai kebangsaan Indonesia: persatuan dan kesatuan, patriotisme dan kemandirian,  awal mulanya tertanam dalam dada rakyat Indonesia karena Bangsa ini sadar mempunyai musuh bersama yakni kolonialisme, imperialisme dan juga fedodalisme yang menyengsarakan kehidupan rakyat. Setelah bangsa ini merdeka dan menapaki perjalanan sejaran dan berbagai pengalaman peristiwa politik  serta dinamika dalam pergaulan dunia, maka nilai-nilai kebangsaan tersebut ada indikasi mengalami penurunan kualitas atau degradasi yang harus diaktualisasikan sesuai dengan tantangan dan ancaman penjajah dalam bentuk dan wajah  yang berbeda.

 Kolonialisme wajah baru,  tidak lagi dalam bentuk invansi wilayah, tidak lagi melakukan penindasan-penindasan fisik, akan tetapi  telah berubah dalam wujud  suatu sistem atau mekanisme atau isme-isme baru atau kegiatan-kegiatan dalam berbagai aspek kehidupan (ekonomi, sosbud, politik, hukum, hankam) yang dapat memperlemah sikap patriotisme, sikap persatuan dan kesatuan,  ketahanan dan kemandirian bangsa.  Kolonialisme baru menjajah bangsa ini tidak dirasakan dan tidak disadari karena bertopeng ala dermawan dari langit dengan memberi berbagai bantuan, menjalin kerja sama dan sebagainya. Kolonialisme baru tidak saja dari bangsa lain tetapi bisa datang dari diri bangsa kita sendiri dalam bentuk perilaku dan cara berfikir yang sudah tidak linier.  Singkatnya, saat ini dunia sudah menyebarkan virus ideologi dalam bentuk budaya global dengan ciri liberalisasi dan penggunaan teknologi informasi  di semua aspek kehidupan dengan segala dampak negatifnya.

Kita tidak sadar, karena tertutup oleh gengsi diri agar tidak dikatakan   katak dalam tempurung, maka kita rela menggadaikan kemandirian diri untuk terus menerus hidup di bawah ketiak bangsa lain.   Budaya lokal dan kearifan lokal sebagai penopang awal jati diri bangsa sudah tergerus semakin menipis dan akhirnya akan hilang tinggal  nostalgia yang tidak akan kembali kendatipun kita menangis histeris menguras air mata. Jadilah, kita tumbuh menjadi bangsa yang sangat tergantung kepada bangsa lain.

Agar bangsa ini, kita, tidak semakin terpuruk kepada kebiadaban budaya global yang ternyata menguntungkan bangsa yang lebih maju, maka kita harus berani meaktualisaikan kembali nilai-nilai kebangsaan dalam wujud yang baru. Nilai persatuan dan kesatuan harus diterjemahkan memberikan kesempatan dan pelung yang besar kepada  komponen unsur bangsa ini mengembangkan potensinya dan kreativitasnya  dengan pengendalian dan pengawasan tetap ada pada kekuasaan tertinggi.   Nilai patriotisme harus diterjemahkan dalam perilaku rakyat yang diharuskan mengutamakan dan mencintai hasil produk bangsa sendiri   yang ditopang oleh kebijakan yang pro rakyat. Dan nilai kemandirian harus diartikan sebagai upaya mengutamakan dan mendahulukan kemampuan dan potensi bangsa sendiri  atau menggelorakan kembali semangat “berdikari” (berdiri di atas kaki sendiri) di dada rakyat Indonesia. 

 Kaum Muda  Berperan Penting

                Keberadaan dan kelangsungan  NKRI ada di tangan generasi penerus (kaum muda). Untuk itu, kaum muda harus disiapkan sebagai kader-kader militan penerus bangsa yang dibekali dengan  jiwa  nasionalis, pluralis dan semangat yang patriotik. Empat pilar kebangsaan yakni Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI merupakan produk warisan generasi pendahulu yang diperoleh melalui proses dialog yang dilandasi  nilai-nilai intelektuallitas, spiritualitas dan batiniah para penggerak dan pelopor kemerdekaan yang diawali melalui dengan  perjuangan fisik  yang penuh pengorbanan harta dan nyawa. Tidak ada alasan bagi kaum muda sekarang untuk  tidak menerima  warisan politik berupa empat pilar tersebut. Untuk menjaga dan melestarikan empat pilar kebangsaan tersebut hanya dapat diwujudkan dalam sikap dan perilaku sehari-hari baik di lingkungan pergaulan keluarga, bermasyarakat, berorganisasi, berbangsa dan bernegara.  Namun untuk dapat dijadikan nafas kehidupan kaum muda khususnya dan Bangsa Indonesia umumnya, tantangan, gangguan dan ancaman silih berganti berdatangan.

                Generasi muda (17-30 th) merupakan masa emas pertumbuhan intelektual, spiritual dan emosional. Pada masa tersebut jika tidak dikelola dan diarahkan dengan baik maka pertumbuhan tidak akan maksimal atau perkembangannya menjadi negatif. Perilaku negatif atau perilaku menyimpang yang bertentangan dengan norma hukum, norma sosial dan norma agama akibat dari pengelolaan intelektual, spiritual dan emosional yang salah atau tidak terkontrol dengan baik. Dalam diri generasi muda sedang terjadi proses mencari jati diri yang rentan terpengaruh oleh hal-hal yang dinilai baik atau enak dalam sesaat tetapi pada dasarnya akan merusak secara perlahan tetapi pasti.

                Permasalahan generasi muda yang berkaitan dengan nilai kebangsaan menurut hasil jajak pendapat harian Kompas antara lain semangat persatuan semakin melemah (56,8%) dan lebih mengutamakan kepentingan kelompok (77%) dibandingkan kepentingan bangsa (21,2%) kendati masih suka menjadi  bagian negara Indonesia (50,9%). Kondisi ini menunjukkan bahwa sikap kebangsaan atau mencintai terhadap negaranya tidak bulat 100%. Jika situasi seperti ini dibiarkan maka semakin lama akan semakin lemah sehingga berdampak kepada kedaulatan bangsa yang mudah diintervensi dan dipermainkan oleh bangsa lain.

 

Upaya yang Ditempuh

 

Usia strategis kaum muda harus diisi hal-hal yang dapat memperkokoh rasa cinta tanah air melalui serangkain dan bentuk kegiatan yang dapat dilakukan mulai dari lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat secara mandiri atau secara sinergis dibawah koordinasi atau pengawasana serta pembinaan dari pemerintah.  Kegiatan-kegiatan untuk generasi muda harus berkelanjutan karena sifat pertumbuhan generasi yang muda yang juga tidak berhenti, silih berganti. Nilai-nilai Pancasila, menghargai kemajemukan dan sikap mendukung tetap tegaknya NKRI harus dijadikan nilai dasar yangn harus sudah menjadi bagian darah daging para generasi muda.

Dalam upaya itu,  perlu dilakukan langkah konkrit dan terobosan  misalnya upacara bendera setiap tanggal 17  jangan hanya dilakukan oleh instansi pemerintah saja tetapi  juga swasta, setiap rumah harus mempunyai gambar lambang Garuda Pancasila, pada HUT Kemerdekaan RI jangan hanya diisi oleh perlombaan dan permainan belaka, tetapi juga diisi dengan malam renungan, sarasehan, diskusi, dan lain-lainnya yang bertujuan  untuk mengenang jasa para pahlawan sekaligus menanamkan rasa kebangsaan dan patriotisme di kalangan generasi penerus. 

Semoga tulisan singkat ini dapat memberi inspirasi bagi pembaca untuk lebih mengembangkan upaya konkrit dalam memberikan wawasan kebangsaan dan patriotisme dikalangan generasi muda. Terimakasih.

 

 

                                                                                                Palembang, 3 Mei 2012.

 

Catatan: Materi ini disampaikan dalam acara Diskusi Panel Wawasan Kebangsaan Bagi Generasi Muda di Sumatera Selatan” yang diselenggarakan oleh Agen Rahasia Pencari Data Korupsi pada tanggal 3 mei 2012.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: