11 08 2010

PERANAN PEMUDA Di ERA DEMOKRATISASI:
MEREBUT KESEMPATAN MENJADI PEMIMPIN

Oleh : Joko Siswanto
Dosen FISIP UNSRI

Berbicara tentang peranan pemuda tidak pernah akan kering dan didalamnya selalu mengandung nilai-nilai dinamis, heroik, berani, pantang menyerah, kritis tetapi juga emosional. Untuk di Indonesia, peranan pemuda sudah terbukti mempunyai andil yang sangat besar dalam upaya melakukan perubahan-perubahan yang monumental sejak perjuangan sebelum merdeka (1908,1928), masa kemerdekaan (1945) dan sampai dengan pergerakan pasca merdeka (1966, 1998). Semua pergerakan dengan tulang pungung para pemuda tersebut esensinya untuk memperbaiki kondisi kehidupan bangsa agar lebih berkualitas dalam semua aspek kehidupan.
Sejarah Indonesia telah membuktikan bahwa kaum muda telah merubah wajah Indonesia dan di tahun 45-an mereka dapat tampil menjadi pemimpin pemimpin bangsa yang dapat dibanggakan tidak hanya di dalam negeri tetapi juga dikagumi di luar negeri. Namun pada perjuangan kaum muda di tahun 1998 tidak melahirkan tokoh muda yang muncul sebagai pemimpin di tingkat nasional. Kepemimpinan nasional dikuasai mereka yang tidak sempat atau belum sempat muncul di masa orde baru sehingga di era reformasi merupakan kesempatan untuk dapat tampil. Akhirnya, para kaum muda yang berperan besar dalam gerakan reformasi tidak kebagian tempat. Jika hal ini dibiarkan terus maka peluang tidak pernah akan ada, kaum muda tetap hanya akan sebagai peran pembantu, bukan peran utama. Lalu, apa yang harus diperbuat kaum muda untuk dapat tampil sebagai peran utama?.
Pertama, peluang yang ada harus direbut, bukan menunggu diberi peluang oleh kaum tua. Jika menunggu kerelaan kaum tua maka peluang dan kesempatan tidak akan diberikan. Kekuasaan itu enak, bila sudah merasakan umumnya lupa kalau hanya “pinjaman” dari rakyat. Kondisi saat ini sudah banyak peluang bagi generasi muda untuk tampil sebagai pemimpin di tingkat lokal maupun nasional baik di jalur legislatif maupun eksekutif. Untuk itu, generasi muda harus mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya sabagai calon pemimpin yang berkualitas dan paham tentang kehidupan rakyat.
Kedua, harus dilakukan upaya konsolidasi dan re-orientasi organisasi kepemudaan yang disesuaikan dengan perubahan paradigma dari situasi otoritarian ke demokratisasi. Di saat ini sudah bukan zamannya menggunakan kultur “kekerasan”., tetapi harus dibangun kultur “dialog” yang mengedepankan penalaran argumentatif intelek dan perilaku politik yang santun.
Ketiga, organisasi kepemudaan harus kompak dalam membangun isu dan mendukung calon-calon pemimpin muda. Jangan dikerdilkan dan dikucilkan kaum muda yang akan tampil sebagai pemimpin baik di tingkat lokal maupuin nasional, tetapi harus didukung oleh sesama kaum muda.
Keempat, dalam dada kaum muda harus tetap digelorakan semangat nasionalisme, patriotisme dan pluralisme agar eksitensinya sebagai calon pemimpin nasional dapat diterima oleh semua kalangan.

Demikian untuk bahan diskusi.

Palembang, 25 Nov 2009


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: