Penguatan Kesadaran

18 03 2010

PENGUATAN KESADARAN BERBANGSA DAN BERNEGARA
DALAM RANGKA KETAHANAN KELUARGA

Oleh: Joko Siswanto

Pendahuluan
Konsep atau makna kesadaran dapat diartikan sebagai sikap perilaku diri yang tumbuh dari kemauan diri dengan dilandasai suasana hati yang ikhlas/rela tanpa tekanan dari luar untuk bertindak yang umumnya dalam upaya mewujudkan kebaikan yang berguna untuk diri sendiri dan lingkungannya.

Berbangsa dan bernegara merupakan suatu konsep atau istilah yang menunjukkan seseorang individu terikat dan atau menjadi bagian dari suatu bangsa (nation) dan Negara (state) tertentu.

Kesadaran Berbangsa dan Bernegara Indonesia mempunyai makna bahwa individu yang hidup dan terikat dalam kaidah dan naungan di bawah Negara Kesatuan RI harus mempunyai sikap dan perilaku diri yang tumbuh dari kemauan diri yang dilandasasi keikhlasan/kerelaan bertindak demi kebaikan Bangsa dan Negara Indonesia.

Ketahanan keluarga dapat diberi makna kemampuan keluarga dalam mengelola sumber daya yang dimiliki dan kemampuan menanggulangi masalah yang dihadapi untuk dapat memenuhi kebutuhan fisik maupun psikis-sosial keluarga agar dapat mewujudkan keluarga yang sejahtera.

Permasalahan
Mana yang benar, penguatan ketahanan keluarga dalam rangka kesadaran berbangsa dan bernegara atau penguatan kesadaran berbangsa dan bernegara dalam rangka ketahanan keluarga?. Logika yang pertama menunjukkan bahwa keluarga sebagai basis terbentuknya bangsa tingkat ketahanannya kurang atau tidak kuat sehingga perlu penguatan agar individu dalam keluarga dapat terbangun kesadaran berbangsa dan bernegara. Logika yang kedua menunjukkan bahwa kesadaran berbangsa dan bernegara di kalangan masih rendah sehingga perlu ada tindakan penguatan agar dapat mewujudkan ketahanan keluarga.
Logika pertama dengan cara berfikir induktif dan yang kedua berfikir deduktif. Keduanya dapat benar tergantung dalam memberilkan alasan yang logis, dan sebenarnya keduanya saling berpengaruh, ketahanan keluarga dapat mempengaryhu kesadaran berbangsa dan bernegara, atau sebaliknya kesadaran berbangsa dan bernegara dapat mempengaruhi terhadap ketahanan keluarga. Oleh karena itu, untuk kepentingan ini saya akan menjelaskan bahwa keduanya dapat saling berpengaruh.

Kondisi Kesadaran Berbangsa dan Bernegara
Benarkah bahwa kesadaran berbangsa dan bernegara rakyat Indonesia melemah, apa gejalanya, apa penyebabnya, dan bagaimana cara mengatasinya?. Makna kesadaran berbangsa dan bernegara sebagaimana yang dikemukakan sebagai sikap perilaku diri yang tumbuh dari kemauan diri dengan dilandasai suasana hati yang ikhlas/rela tanpa tekanan dari luar untuk bertindak yang umumnya dalam upaya mewujudkan kebaikan yang berguna untuk diri sendiri dan lingkungannya, maka kesadaran berbangsa dan bernegara masih rendah.

Gejala kesadaran berbangsa dan bernegara yang belum baik itu dapat kita lihat dalam perilaku individu sebagai rakyat maupun pejabat yang masih menunjukan tindakan-tindakan yang melanggar kaidah hukum, seperti mafia hukum, merusak hutan, pencemaran lingkungan, tindak kriminalitas, lebih mementingkan diri dan kelompok, korupsi, bersikap kedaerahan yang berlebihan (daerahisme) atau etnisitas yang berlebihan, bertindak anarkhis, penggunaan narkoba, kurang menghargai karya bangsa sendiri, mendewakan produk bangsa lain, dan sebagainya.

Menurut Franz Magnis Suseno dalam buku Etika Kebangsaan-Etika Kemanusiaan (2008), merosotnya kesadaran berbangsa dan bernegara karena empat hal sekaligus sebagai tantangan ke depan, yakni sebagai berikut:

Pertama, karena globalisasi, berkat kemajuan teknologi informasi dan transportasi, menjadikan seakan-akan kita telah menjadi warga dunia sehingga identitas sebagai bangsa yang mandiri dan mempunyai kharakteristik sendiri menjadi lebur dengan bangsa lain yang juga hilang identitasnya. Akibatnya, tumbuh dan muncul budaya dunia/global. Identitas sebagai bangsa semakin tidak jelas. Kedaulatan semakin menjadi mitos. Ketergantungan antar Negara semakin tinggi.

Kedua, karena kepicikan perasaan kedaerahan. Otonomi daerah telah merangsang nafsu yang merasa putera-puteri daerah untuk menguasai tempat basah. Posisi politis yang strategis dilihat sebagai kesempatan untuk memperkaya diri dan keluarga serta membangun “kerajaan” atau “trah” atau “dinasti” baru. Mereka kehilangan wawasan dan perasaan solidaritas bangsa dan tanggung jawab untuk kepentingan kesejahteraan rakyat.

Ketiga, karena budaya konsumisme hedonistik. Sikap ini merupakan tantangan dan penyebab dari dalam diri kita. Konsumisme adalah sikap ketagihan para konsumen produk kapitalisme yang tidak saja para kapitalis memproduksi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat tetapi juga menciptakan kebutuhan-kebutuhan baru untuk kepuasan masyarakat. Akibatnya muncul life style mewah yang sudah tidak memperhatikan lagi azas manfaat tetapi cenderung demi mengikuti tred gaya hidup yang konsumtif hedonis. Dampaknya adalah kurang menghargai produk lokal yang dipandang kurang memberikan pretise gaya hidup modern yang salah diartikan.

Keempat, karena ideologi-ideologi totaliter. Suatu ideologi dikatakan totaliter karena paham atau ajarannya yang mengklaim memiliki kebenaran mutlak serta menuntut ketaatan tanpa reserve. Ideologi komunisme dan nazisme merupakan ideologi totaliter yang dikelompokan sebagai ideologi ekstrim kiri. Sedangkan ideolog religius yang fundamentalis dikelompokkan sebagai ideologi totaliter/ekstrim kanan. Keduanya dapat mengancam akan kesadaran berbangsa dan bernegara.

Langkah yang Ditempuh
Dalam teori sosialisasi atau pendidikan ada sejumlah sarana/media/agen/jalur yang dapat digunakan untuk membangun atau meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara, yakni keluarga, teman sebaya/pergaulan, sekolah, organisasi, dan media massa. Semua dapat berperan dengan kelebihan dan kekurangannya. Pada kesempatran ini akan kita bahas peranan keluarga dalam upaya menguatkan kesadaran berbangsa dan benegara.

Keluarga batih atau inti merupakan unsur utama dan sangat penting terbentuknya kelompok masyarakat dan bangsa. Melalui keluarga maka nilai-nilai kehidupan dikenalkan pada anak. Melalui keluarga maka anak dapat belajar hidup dan akan mewariskan nilai-nilai kehidupan dan budaya yang dianut dalam suatu keluarga, masyarakat dan bangsa. Oleh karena itu, keluarga harus mempunyai landasan yang kuat dan watak yang jelas agar dapat member warna yang berkarakter pada pribadi anak.

Dalam upaya mendukung penguatan kesadaran berbangsa dan bernegara, maka peran orang tua (ayah dan ibu) harus mempunyai konsep yang jelas dan memahami hal-hal penting sebagai berikut:
Pertama, orang tua harus mempunyai kesadaran dan memberikan contoh bersikap dan berperilaku yang menjunjung tinggi pluralitas. Bahwa manusia diciptakan Tuhan dengan segala atributnya tidak sama, bersuku-bersuku, berbangsa-bangsa dengan ajaran keyakinan dan budaya yang berbeda-beda bukan untuk bermusuhan. Tetapi agar saling mengenal dan membina persatuan dan kesatuan. Bangsa Indonesia mempunyai keanekaragaman yang harus saling dijaga dan dihormati hak-haknya. Dengan demikian, tidak ada sikap inklusif diantara kelompok. Semua aturan harus berlaku sama untuk semua.

Kedua, orang tua harus mempunyai semangat dan sikap berdemokrasi. Keluarga adalah cermin Negara. Orang tua yang dapat membangun budaya berdemokrasi dalam keluarga akan membawa pengaruh positif pada kesadaran kehidupan berbangsa dan bernegara. Budaya diktator dan otoriter telah terbukti Bangsa Indonesia terpuruk berkali-kali. Sejelek-jeleknya demokrasi kita saat ini, tak ada alternative kecuali untuk membuatnya berhasil. Untuk itu, budaya demokrasi harus dibangun dari keluarga.

Ketiga, keluarga harus sejahtera. Sejahtera dengan indikator tercukupinya kebutuhan dasar hidup (papan, pangan, sandang) secara layak yang dilandasi taat pada ajaran agama yang diyakini, maka hal ini akan menjadi basis awal untuk dapat mengembangkan potensi keluarga yang berwawasan kebangsaan melalui pendidikan yang baik. Dengan kondisi keluarga yang sejahtera maka akan lebih mudah untuk diajak berpartisipasi dan memahami kehidupan di luar dirinya yang juga sangat penting. Untuk itu, peran Negara/pemerintah menjadi sangat penting untuk dapat menciptakan dan memberi peluang agar rakyatnta dapat memperoleh penghasilan yang cukup.

Kondisi Ketahanan Keluarga
Melalui media massa cetak maupun elektronik, kita setiap hari disuguhi berita dan tayangan yang mengambarkan rapuhnya ketahanan keluarga. KDRT, perceraian, perselingkuhan, broken home, kehidupan anak jalanan yang selalu meramaikan di setiap lampu merah, pengemis yang bergerombol, gelandangan yang beratap langit, kemiskinan yang terus mendera, kecanduan narkoba yang merebak di mana-mana, tawuran pelajar/pemuda/mahasiswa/antar kampung, prostitusi yang merebak dengan segala macam bentuk modus operandi, dan perilaku menyimpang/anarkhis lainnya merupakan peristiwa yang mencerminkan suasana rapuhnya ketahanan keluarga yang selalu hadir di sekitar kita.

Langkah Pemerintah/Negara
Dengan kondisi ketahanan keluarga yang rapuh seperti itu, bagaimana peran Negara agar katahanan keluarga menjadi baik?. Dengan kata lain, bagaimana cara Negara untuk menguatkan kesadaran berbangsa dan bernegara agar ketahanan keluarga menjadi baik yang kemudian dengan ketahanan keluarga yang baik akan mewujudkan kesadaran berbangsa dan bernegara. Untuk itu, pemerintah harus menempu jalan sebagai berikut:

Pertama, memprioritaskan pembangunan untuk masyarakat miskin. Kemiskinan merupakan sumber dari segala sumber daya tahan keluarga yang rapuh. Miskin dapat menjadikan orang berbuat kriminal/kejahatan, korupsi, tidak taat agama (kafakiran akan menyebabkan kekafiran), tidak taat hokum dan tidak peduli terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara. Kebijakan ekonomi pemerintah harus berorientasi kepada pementasan kemiskinan.

Kedua, pemerintah harus dapat menciptakan suasana keadilan sosial. Keadilan sosial adalah harkat etis sebuah Negara. Negara harus adil. Banyak ketegangan, kerusuhan, konflik yang terjadi di bumi pertiwi ini karena rasa keadilan sosial terkoyak-koyak. Para pendiri Negara sudah bertekad dan bercita-cita bahwa Negara yang didirikan untuk membangun dan mewujudkan masyarakat yang adil. Artinya, jika ada ketidakadilan-ketidakadilan di masyarakat harus dihapuskan oleh pemerintah. Perwujudan keadilan social adalah tuntutan solidaritas bangsa, dan solidaritas merupakan dasar persatuan bangsa yang majemuk/plural.

Ketiga, pemerintah harus memberikan pendidikan gratis dan kesehatan gratis sebagai kebutuhan dasar bagi keluarga yang miskin agar dapat terbangun ketahanan keluarga yang kuat. Dengan perhatian tinggi akan kebutuhan dasar tyersebut, maka dalam diri keluarga msikin merasa diperhatikan sehingga akan mempertebal rasa kesadaran sebagai bangsa Indonesia.

Keempat, pemerintah harus mampu memberikan pemahaman kepada rakyat secara terus menerus bahwa hanya ideologi Pancasila yang dapat dijadikan pedoman dalam mengarungi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di bumi Indonesia. Ideologi lain no way!. Kondisi saat ini, di kala masyarakat terkesan limbung tak mempunyai pegangan hidup atau tergerusnya pemahaman masyarakat terhadap Pancasila, tempaknya pemerintah belum ada upaya yang sungguh-sungguh untuk secara berkesinambungan mensosialisaikan ajaran Pancasila. Ada kesan dengan harga mati Pancasila sebagai ideologi yang tidak perlu dipermasalahkan lagi seolah-olah Pancasila tidak perlu disosialisasikan toh masyarakat sudah menerima. Pemerintah lupa bahwa generasi selalu berganti yang harus terus menerus diberikan pendidikan politik bagi generasi baru demi kesinambungan NKRI.

Kelima, pemerintah harus tegas dan berani memberantas kejahatan dengan segala bentuknya yang bakal merugikan rakyat, bangsa dan Negara. Upaya pemerintah SBY akan mengganyang mafia hukum patut didukung. Jika mafia hukum dapat diberantas maka kepercayaan rakyat akan tinggi terhadap Negara yang akhirnya akan menumbuhkan rasa cinta pada bangsa dan Negara.

Keenam, Negara/pemerintah harus benar-benar berperilaku menunjukkan sikap melindungi kepentingan rakyatnya, atau membela rakyatnya yang benar dan terkena musibah. Selain itu, pemerintah harus mampu menciptakan rasa aman dan damai sehingga rakyat dapat hidup tentram. Jika hal ini dapat dilaksanakan oleh pemerintah, maka akan tumbuh rasa kebanggaan dan kesadaran yang tinggi di sanubari rakyat sebagai bangsa yang berdaulat dan hal ini akan berpengaruh untuk mewujudkan ketahan keluarga.

Penutup
Kesadaran berbangsa dan bernegara dikaitkan dengan ketahanan keluarga, keduanya dapat saling mempengaruhi. Untuk meningkatkan ketahanan keluarga dapat dilakukan penguatan kesadaran berbangsa dan bernegara melalui kebijakan pemerintah yang mengutamakan pada kepentingan rakyat khususnya bagi keluarga marginal, pinggiran, miskin, dan sebagainya. Di sisi lain kesadaran berbangsa dan bernegara dapat dilakukan dengan penguatan ketahanan keluarga melalui penguatan atas pluralism, demokrasi dan kesejahteraan dalam keluarga.

Palembang, 20 November 2009.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: