8 11 2009

DPR:
WAKIL RAKYAT ATAU WAKIL PEMERINTAH?

Oleh : Joko Siswanto
Dosen FISIP Unsri

Jika rakyat diberi pertanyaan apakah DPR itu wakil rakyat atau wakil pemerintah, maka jawaban yang dipilih dan diyakini benar tentu DPR itu adalah wakil rakyat. Jika dijawab DPR wakil pemerintah pasti jawaban itu akan kita salahkan. Namun, setelah rakyat Indonesia menonton tayangan di televisi pada Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara DPR Komisi III dan POLRI (pemerintah) pada tanggal 5 November 2009 tentang kasus “Cicak” versus “Buaya” atau KPK versus POLRI atau kasus Anggoro-Anggodo versus Bibit-Chandra, rakyat akhirnya bertanya-tanya: DPR itu wakil rakyat atau wakil pemerintah, sih ?!. Kita pun tersentak, lho, lha, kok bisa begitu, ya?.
Dalam RDP yang disaksikan oleh jutaan rakyat Indonesia tampak jelas sekali bahwa Anggota DPR khususnya yang tergabung dalam Komisi III dalam menyampaikan pendapat dan pertanyaan bukan menyuarakan aspirasi dan opini rakyat yang diwakili akan tetapi justru mendukung dan terkesan memihak kepada POLRI (Pemerintah). Tak pelak lagi, hujatan dan kritik pedas dialamatkan ke DPR menghiasi berita di media massa dan menjadi omongan rakyat. Kritik tersebut antara lain DPR sudah menjadi humasnya POLRI, DPR tidak memahami aspirasi rakyat, DPR tidak merasakan ketidakadilan yang dirasakan rakyat, DPR tidak kritis dan tidak mendasar dalam bertanya, DPR sudah masuk dalam sekenario Polisi, DPR mendukung koruptor, dan harian Kompas (7 /11) pun menyimpulkan sebagai judul headline : “DPR Melawan Suara Rakyat”.
Seorang tokoh masyarakat Sumsel yang merupakan cermin suara rakyat mengirim SMS ke penulis yang berbunyi ”Saya sudah mengira bahwa kualitas anggota DPR RI saat ini tidak mampu untuk bersikap kritis terhadap kasus cicak vs buaya, bahkan cenderung jadi mainan Polri saja yang jauh lebih siap dibanding boneka-boneka di DPR RI itu. Menjengkelkan dan agak pesimis mau kemana arah selanjutnya ini. SBY harus tegas bersikap. Para anggota dewan itu tidak cukup ilmunya dan nyalinya menghadapi Kapolri dan jajarannya”. Dan gerutuan senada tanda tidak puas terhadap tampilan Komisi III DPR RI juga dapat dibaca di dunia maya/internet.
Mengapa anggota DPR dinilai bersikap tidak memihak kepada aspirasi rakyat dan tidak kritis dalam bertanya?. Sejumlah dugaan alasan dapat dikemukakan di sini. Pertama, modal kondisi SDM anggota Dewan memang minim dan rendah. Wawasan dan pengetahuan belum cukup memadai sebagai wakil rakyat meskipun pendidikan formal cukup tinggi. Pengalaman jam terbang belum banyak mengingat mereka umumnya (70%) anggota dewan adalah wajah baru dan mereka juga baru saja dilantik 1 Oktober lalu. Dengan kondisi SDM yang masih serba kurang tersebut menjadikan tampilannya belum optimal, belum kelihatan menggigit. Memang suasana hiruk pikuk interupsi dan bertanya tetapi kurang efektif.
Kedua, mereka mungkin lupa akan posisinya sebagai wakil rakyat yang harus mempertangungjawabkan kepada konstituen dan menyuarakan aspirasi rakyat. Fungsi wakil rakyat memang tidak sekedar sebagai wali dan utusan akan tetapi gabungan antara keduanya sehingga DPR mempunyai kebebasan yang luas untuk menggunakan pertimbangan sendiri dalam proses pengambilan keputusan setelah melihat persoalan masyarakat. Sebagai wakil rakyat yang mempunyai legitimasi tinggi dan bermoral tinggi sudah sepatutnya suara mayoritas rakyat menjadi pertimbangan utama. Dengan kata lain, kendati mungkin suara sebagaian besar rakyat tidak sesuai atau bertentangan dengan suara hatinya, tetapi karena berperan sebagai wakil rakyat, meskipun pahit, suara dan perasaan rakyat sudah seharusnya dikemukakan. Kesan yang muncul ketika menyampaikan pendapat atau pertanyaan dalam RDP tersebut, para anggota Dewan terkesan bukan mewakili rakyat tetapi mewakili diri sendiri dan atau kelompoknya.
Ketiga, kemungkinan mereka belum memahami atau tidak mengikuti dinamika perkembangan kasusnya sehingga yang ditanyakan kurang dapat mencerminkan pertanyaan yang kritis, mendasar dan berkualitas. Kalau ini yang terjadi alangkah kurang sensitifnya anggota Dewan mengikuti dinamika persoalan yang terjadi dalam masyarakat dan institusi Negara yang menjadi bidang tugasnya.
Keempat, mereka masih terkesan demam panggung dan asal berani ngomong untuk menunjukkan dirinya di depan rakyat sebagai wakil rakyat yang hebat. Bagi mereka berbicara adalah kewajiban karena pekerjaannya menuntut bermodal mampu dan berani berbicara sehingga kalau tidak berbicara belum mencerminkan melaksanakan tugas sebagai wakil rakyat. Mereka berusaha untuk menghilangkan kesan D-4 (datang duduk diam duit). Meskipun isi bicaranya kurang berkualitas pokoknya sudah berani bersuara alias asal bunyi.
Kelima, anggota DPR kemungkinan “takut” dengan polisi. Polisi merupakan sosok dan institusi yang riil dan mempunyai wewenang yang besar dalam menyelidik dan menyidik kasus hukum. Sedangkan rakyat yang diwakili relatif dinilai abstrak dan tidak mempunyai kekuatan yang riil dalam persoalan hukum. Rakyat yang juga dapat disimbolkan sebagai cicak merupakan binatang kecil yang lemah dan tak menakutkan. Sedangkan polisi yang disimbolkan sebagai buaya yang jauh lebih kuat, berkuasa, dan siap menerkam siapa saja yang berani melawan dan mengganggu dirinya. Kondisi ini menjadikan anggota dewan berkesan cenderung lebih nyaman kalau berteman dan dekat dengan buaya daripada dekat dengan cicak. Karena melawan buaya lebih berisiko daripada melawan cicak, mengapa tidak berkawan saja dengan buaya?. Dengan berteman baik sama polisi ada harapan jika diri anggota dewan tersandung masalah hukum relatif akan lebih mudah minta bantuan dan perlindungan polisi daripada minta perlindungan rakyat yang tidak mempunyai kekuasaan.
Keenam, ada dugaan memang kemungkinan sudah diatur oleh parpol untuk pro dengan pihak pemerintah. Bukankah sudah ada asumsi dalam masyarakat bahwa DPR periode 2009-2014 bakal tidak kritis dengan pemerintah karena mayoritas wakil rakyat/parpol sudah berkoalisi dengan parpol pemenang pemilu yang menguasai pemerintahan, menjadi parpol pemerintah, menjadi penguasa dan bakal mendukung kebijakan institusi pemerintah. Situasi dan koalisi parpol seperti ini memang sudah diupayakan agar pemerintah dapat mulus dalam menjalankan program kerjanya. DPR akhirnya diduga hanya akan menjadi tukang stempel, lembaga yes man, lembaga yang selalu setuju atas kehendak pemerintah. Mereka kemudian terkesan akan selalu membela institusi pemerintah kendati oleh rakyat institusi pemerintah tersebut telah membuat kebijakan atau tindakan yang kurang lurus dan melukai rasa keadialan rakyat.
Ketujuh, ada dugaan juga kemungkinan oknum-oknum Polri sudah main mata dengan oknum-oknum anggota dewan atau melakukan “operasi intelijen” khususnya dengan mereka yang tidak masuk dalam kategori koalisi parpol penguasa/pemerintah. Mereka berusaha agar anggota dewan tidak garang sehingga parpol yang non koalisi juga terkesan kurang dapat memberikan “perlawanan” dan cenderung membenarkan dan mendukung langkah yang ditempuh polisi.
Sejumlah dugaan dan anggapan kemungkinan tersebut di atas wajar muncul dalam benak masyarakat karena fakta telah menunjukkan bahwa Komisi III DPR belum mampu menjalankan fungsi sebagai wakil rakyat yang seharusnya menyuarakan opini dan aspirasi yang dirasakan rakyat serta mengkritisi tindakan Polri, bukan malah terkesan membela dan menjadi humas Polri.
Jalan masih panjang, kesempatan masih luas untuk memperbaiki diri. Seluruh Anggota Dewan hendaknya dapat mengambil hikmah dibalik kasus dan pengalaman pertama Komisi III melaksanakan RDP dengan Polri. Ingatlah bahwa anda duduk di kursi dewan karena pilihan rakyat, bukan dipilih polisi/pemerintah; dengan demikian anda (DPR) adalah wakil rakyat, bukan wakil polisi/pemerintah. Untuk itu, jadilah wakil rakyat yang kritis, pro rakyat tetapi tetap menjunjung tinggi kesantunan berpolitik. Semoga performance anggota DPR di depan publik ke depan akan jauh lebih baik, tidak menyebalkan rakyat seperti kemarin. Terimakasih.

Palembang, 7 November 2009.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: