19 08 2009

UPAYA PEMBERANTASAN KORUPSI

Oleh : Joko Siswanto
Sudah 64 tahun Indonesia merdeka dari penjajah. Tetapi ternyata rakyat masih banyak yang belum merdeka dari kemiskinan, belum merdeka dari bayang-bayang ketidakadilan, belum merdeka dari kesulitan hidup sehat, belum merdeka dari biaya pendidikan yang mahal, dan rakyat juga belum merdeka dari sikap feodalisme birokrasi.
Hasil survei BPS bulan Maret 2009 menunjukkan bahwa 14,15% rakyat Indonesia masih miskin. Rentetannya, angka HDI (Human Development Index) atau indeks pembangunan manusia Indonesia hanya 0,726 atau urutan ke 109 dari 179 negara. Ini berarti kondisi pendidikan dan kesehatan rakyat masih rendah. Politisi dan birokrasi belum memberikan pelayan terbaik bagi rakyat. Semua itu bisa jadi gara-gara karena perilaku korup yang sudah menjadi virus sosial yang berbahaya.
Di Indonesia, korupsi sudah masuk dalam kategori extraordinary crime dengan ciri-ciri antara lain korupsi sudah menjamur di semua bidang dan sektor kehidupan masyarakat, dilakukan secara sistematis, melanggar hak-hak sosial dan ekonomi masyarakat, merusak sistem hukum, sistem ekonomi dan pemerintahan serta mengganggu proses demokratisasi.
Wajar jika Corruption Perception Index atau Indeks Persepsi Korupsi (IPK) yang dikeluarkan oleh Transparency International masih menempatkan Indonesia masuk dalam kategori sangat rendah sebagai salah satu negara terkorup, yakni hanya mempunyai IPK 2,6 atau urutan ke 126 dari 180 negara. Bandingkan dengan negara tetangga yakni Singapura dengan IPK 9,2 atau urutan ke 4 sebagai negara terbersih dari korupsi, Malaysia dengan IPK 5,1 menempati urutan ke 47, dan Thailand dengan IPK 3,5 menempati urutan ke 80.
Berhubung korupsi sudah menjadi kejahatan yang luar biasa dan berakibat buruk pada kualitas kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, maka harus dilakukan upaya yang luar biasa pula untuk memberantasnya baik dari segi preventif dan kuratif.

Tindakan Preventif
Mencegah akan lebih baik dan lebih mudah dilakukan daripada mengobati. Semua komponen masyarakat dan pihak yang peduli pada pemberantasan korupsi harus secara terpadu dan serentak mempunyai sikap yang sama yakni membenci dan mengutuk korupsi. Harus ditanamkan dalam diri setiap rakyat bahwa perbuatan korupsi sama kejinya dengan terorisme. Harus ada gerakan konkrit yang militan dan terus menerus mengkampanyekan dan mengutuk korupsi dengan berbagai metode. Mereka yang sudah dinyatakah sah dan terbukti sebagai koruptor hendaknya dilarang untuk terlibat dalam aktivitas politik dan pemerintahan. Namun tampaknya, gerakan masyarakat yang militan, konsisten dan berlanjut tersebut belum begitu kelihatan semarak.
Melakukan sosialisasi kepada anak-anak melalui bangku sekolah/kuliah sejak dini tentang tindakan atau perilaku yang masuk dalam ketegori korupsi sehingga diharapkan dalam diri anak didik sudah tertanam secara kuat perasaan takut dan berdosa jika berusaha melakukan perbuatan yang masuk kategori korupsi. Guru dan dosen harus bisa memberikan contoh berperilaku lurus dan menjauhi perbuatan yang masuk kategori korupsi.
Mahasiswa sebagai salah satu kelompok anak didik yang mendapat sebutan agent of change dan agent of control harus ditumbuhkan sikap berani untuk melawan korupsi sebagai musuh bersama sebagaimana layaknya mahasiswa melawan rezim otoriter. Korupsi harus ditempatkan sebagai musuh bersama yang sejajar dengan bahaya narkoba dan terorisme. . Mahasiswa harus bisa menjadi pelopor dan penggerak terhadap pemberantasan korupsi baik secara preventif maupun kuratif. Mahasiswa yang mempunyai idealisme tinggi terhadap kebenaran dan penegakan hukum serta demokratisasi harus bisa membuktikan dalam tindakan nyata. Keberanian turun ke jalan tidak saatnya lagi melawan rezim otoriter tapi melawan perilaku korupsi.
Pemerintah hendaknya mempercepat terwujudnya sistem administrasi pemerintahan yang berbasis teknologi dalam memberikan pelayanan publik sehingga dapat mencegah praktek-praktek pungut memungut yang tidak legal. Perilaku dan kultur birokrasi patrimonial yang tidak sehat harus segera dibongkar melalui kebijakan reformasi birokrasi.
Eksistensi dan penguatan posisi lembaga pengadilan tipikor harus segera diwujudkan dalam UU Tipikor. DPR yang tinggal 40 hari masa tugasnya harus segera menyelesaikan RUU Tipikor. Masyarakat lebih percaya kepada pengadilan tipikor daripada pengadilan umum untuk menangani kasus korupsi. Laporan ICW menunjukkan bahwa pada semester pertama tahun 2009 sebesar 68,9 % terdakwa kasus korupsi dibebaskan oleh pengadilan umum.
Masih banyaknya aparat hukum dan birokrat yang berperilaku korup salah satu penyebabnya diduga karena gaji yang tergolong rendah dan hanya cukup untuk makan selama 20 hari. Oleh karena itu, sudah seharusnya pemerintah memberikan gaji kepada aparat hukum dan birokrat yang bisa memenuhi kebutuhan hidup secara layak.

Kuratif
KPK sebagai lembaga harapan masyarakat dan yang masih dipercaya masyarakat hendaknya harus dijaga dari gempuran-gempuran dari pihak yang tidak ingin korupsi mati dari bumi pertiwi ini. Sebagai lembaga yang mendapat sebutan “super body” harus berani menunjukkan dan membutkikan bahwa KPK benar-benar sebagai lembaga yang berani memerangi korupsi tanpa tebang pilih. Mahasiswa dan LSM serta siapa saja yang peduli terhadap upaya pemberantasan korupsi harus mendukung keberadaan dan kinerja KPK. Sinergitas antara lembaga hukum (kejaksanaan, polisi, pengadilan) harus dibangun secara harmonis dan berkomitmen tinggi untuk memberantas korupsi sehingga tidak terkesan KPK berjalan sendiri, atau sebagai lembaga pesaing kejaksaan dan polisi sehingga KPK seperti musuh bagi lembaga negara lainnya.
Sanksi hukum dan sosial terhadap perilaku korupsi (white color crime) harus lebih berat dengan perilaku kriminal lainnya (blue color crime) sehingga akan menimbulkan efek jera. Mereka yang sudah terbukti sah menyandang sebagai koruptor atau mantan koruptor harus dilarang duduk dalam jabatan-jabatan publik.
Semoga bisa menjadi pemicu diskusi. Terimakasih. MERDEKA !!!

Palembang, 20 Agustus 2009.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: