14 08 2009

H. ZAMZAMI AHMAD
POLITISI YANG TAHU KE MANA ANGIN AKAN BERHEMBUS

Oleh :
JOKO SISWANTO

Ketika saya diminta untuk menjadi salah satu penanggap dalam acara peluncuran buku biografi Pak Zamzami Ahmad yang berjudul “Di Batas Akhir Pengabdian”, reaksi pertama dalam hati saya sebelum menyatakan bersedia menjadi penanggap adalah memberikan apresiasi yang sangat tinggi, patut diacungi jempol dan menyambut dengan sangat gembira atas penulisan dan penerbitan buku biografi tersebut. Kendati pada waktu diminta menjadi penanggap saya belum mengetahui judul buku dan isinya, tapi saya sudah memberikan rasa hormat dan kagum atas prakarsa Pak Zamzami menulis buku biografi.
Pak Zamzami sebagai salah tokoh birokrat dan politik di Sumatera Selatan sangat menyadari akan kisah hidup dan perjalanan hidup yang dilalui akan dapat diwariskan tidak saja bagi anak turunnya akan tetapi juga kepada masyarakat luas. Perjalanan hidup yang dilalui tentu bukan sekedar hidup untuk menunggu mati, tetapi hidup yang syarat makna untuk sesama, hidup yang dihiasi perjuangan untuk kemajuan masyarakat dan daerah, hidup yang penuh dedikasi, pengabdian dan pengorbanan demi terwujudnya keadaan yang lebih baik. Dengan kisah hidup yang syarat makna dan nilai kebaikan tersebut, maka masyarakat yang membaca bukunya tentu akan mendapatkan nilai tambah.
Belum banyak tokoh lokal Sumatera Selatan yang menuliskan biografinya. Padahal banyak sekali tokoh-tokoh lokal Sumatera Selatan yang kisah hidup dan perjuangannya patut dibukukan dan diketahui oleh generasi penerus. Kendalanya mungkin kemampuan menuliskan (otobiografi) atau faktor penulis lokal yang baru belakangan ini muncul dan mungkin juga faktor dana. Kiranya, perlu dipikirkan adanya yayasan yang disponsori oleh orang-orang berpunya di Sumsel ini untuk menulis biografi para tokoh lokal Sumatera Selatan. Dengan dibukukan biografi tokoh-tokoh lokal di Sumatera Selatan maka masyarakat dapat banyak belajar dari masa lalu dari tokoh-tokoh tersebut. Terbitnya buku Pak Zamzami yang ditulis di akhir kariernya dan diluncurkan tepat pada sembilan windu usianya, mudah-mudahan akan mendorong tokoh-tokoh yang lain untuk mengikuti jejaknya menulis biografi sehingga akan memacu tradisi menulis dan membaca di kalangan masyarakat Sumatera Selatan.
Saya berbangga dan berbahagia diminta untuk memberi tanggapan atas buku biografi Pak Zamzami ini. Saya bukan orang yang banyak tahu tentang kehidupan pribadi dan kedinasan Pak Zamzami. Saya juga tidak mempunyai hubungan kerja dan kedinasan dengan beliau. Awalnya saya mengenal Pak Zamzami dari jarak jauh dalam arti beliau sebagai politisi dan saya sebagai dosen FISIP sekaligus pengamat politik sering menulis dan berkomentar di media massa tentang permasalahan sosial politik baik di tingkat nasional maupun lokal. Sebagai politisi, Pak Zamzami sering menjadi sumber berita sekaligus bidikan bagi pengamat. Ketika saya menjadi anggota KPU Sumsel 2003-2008 maka hubungan yang jarak jauh tersebut menjadi jarak dekat dan sering bertemu dalam berbagai acara sehingga kami merasa dekat. Kendatipun relatif dekat, tetapi tetap saja banyak hal yang belum saya ketahui dari kehidupan beliau baik secara pribadi maupun kedinasan. Berhubung saya tidak pernah menjadi bawahannya, tidak pernah menjadi kolega kerja dan tidak pernah mempunyai jalinan kerja, maka posisi saya relatif netral dan tidak ada kendala psikologis untuk dapat menanggapi buku beliau sehingga relatif akan lebih obyektif.
Dalam memberi tanggapan atas buku tersebut, akan saya kemukakan seperti masakan gado-gado atau campur aduk antara yang bersifat ulasan, komentar, pujian, kritikan dan pertanyaan tentang hal-hal yang menarik bagi saya dan mungkin juga menarik bagi hadirin. Isi buku relatif lengkap yang dituturkan secara kronologis sejak kelahirannya, pergaulannya di desa, belajar di Jogja, Malang, Jakarta, meniti karier sebagai PNS, menjadi politisi dan sisi-sisi kehidupan lainnya. Banyak sekali yang bisa dibahas dari kehidupan Pak Zamzami. Setiap orang yang mengenal Pak Zamzami atau yang saat ini hadir di sini dapat memberikan penilaian terhadap Pak Zamzami. Saya sebagai salah satu yang diminta sebagai penanggap hanya akan menyoroti sebagian kecil saja dari segi sepak terjangnya di dunia birokrasi dan politik.

Pertama,
Hal pertama yang patut saya sampaikan adalah bahwa saya harus angkat topi, hormat, salut dan memberikan apresiasi yang sangat tinggi kepada Pak Zamzami Ahmad yang telah menulis buku biografi. Di depan telah saya kemukakan belum banyak tokoh lokal Sumatera Selatan yang menuliskan biografinya. Padahal banyak tokoh di Sumsel ini yang patut untuk ditulis biografinya. Banyak di antara mereka terlanjur almarhum sehingga akan dijumpai kendala dalam penulisan karena sumber data primer sudah tidak ada. Untuk itu, bagi para tokoh Sumsel baik dalam dunia pemerintahan/politik, seni-budaya, usaha/ekonomi, olah raga, pejuang, dan lain-lainnya yang saat ini masih diberi umur panjang dan kesehatan kiranya dapat mengikuti jejak Pak Zamzami untuk menulis biografi.
Setiap orang mempunyai pengalaman hidupnya sendiri-sendiri baik sebagai individu, sebagai bagian dari keluarga, sebagai anggota masyarakat, sebagai bagian dari tempat bekerja, sebagai bagian dari suatu organisasi dan lain-lainnya. Status dan peran selama mengarungi kehidupan duniawi bagaikan roda pedati yang kadang di bawah, di samping dan di atas. Semuanya mengandung suka dan duka yang bisa ditorehkan dalam suatu catatan yang bisa bermanfaat bagi generasi penerus, paling tidak untuk nostalgia bagi keturunannya. Jika seseorang tersebut adalah seorang tokoh dan ditokohkan masyarakat, maka pengalaman hidupnya yang dilalui pasti mempunyai nilai-nilai yang dapat dijadikan cermin dan panutan bagi generasi penerusnya. Itulah yang dilakukan Pak Zamzami, salah satu tokoh masyarakat, birokrat dan politisi Sumatera Selatan.
Sekali lagi, niat dan bukti Pak Zamzami mampu menuliskan perjalanan hidupnya dalam buku yang berjudul “Di Batas Akhir Pengabdian” sangat patut disambut gembira. Selain mempunyai nilai historis secara pribadi, buku tersebut juga mempunyai nilai historis secara politis – institusional karena Pak Zamzami menulis dan menerbitkan biografi menjelang akan mengakhiri sebagai Ketua DPRD periode 2004 – 2009.

Kedua,
Secara fisik buku dibungkus dengan hardcover yang terbilang bagus. Sampul depan dengan foto wajah Pak Zamzami dengan senyum kecilnya sudah menunjukkan wajah seorang birokrat dan politisi yang sudah banyak makan asam garam. Di bagian belakang foto seluruh badan dengan kain sarung dan peci haji (putih) mengambarkan seorang muslim yang taat sekaligus dapat saya terjemahkan melangkah meninggalkan hiruk pikuk urusan duniawi (politik) menuju dunia spiritual yang bakal dilalui dalam mengisi sisa-sisa hidupnya sebagai sesepuh atau begawan yang siap untuk dimintai nasihatnya dan petunjuknya.
Setelah buku dibuka, judul bab per bab selalu dicantumkan dalam setiap halaman tentu mengandung maksud memberi informasi kepada pembaca bahwa yang sedang dibaca masih dalam bab yang sama.. Sebenarnya format akan lebih cantik dan nyaman dipandang jika batas akhir kalimat atau garis maya tidak terlalu minggir dengan batas akhir kertas. Demikian juga batas bawah baris terakhir tidak terlalu ke bawah. Buku dengan ukuran 14, 5 x 21,5 cm dengan font 11 model huruf Time New Roman dalam setiap baris umumnya mengandung 7 s/d 9 kata. Sedangkan buku ini berkisar antara 9 – 12 kata. Jumlah baris maksimal setiap halaman tanpa gambar akan lebih enak dilihat jika hanya 32 atau 33 baris. Sedangkan buku ini maksimal sampai 39 baris sehingga kesannya seperti kurang kertas. Untuk itu, jika nanti dicetak ulang, kiranya keindahan format perlu diperhatikan.

Ketiga
Dari segi penulisan dan gaya bahasa ada beberapa catatan yang perlu saya kemukakan di sini. Tampaknya (mudah-mudahan dugaan saya salah), buku ini mungkin tidak diedit oleh editor yang sudah terbiasa mengedit buku, atau jika diedit tampaknya editornya kurang jeli khususnya mengenai penulisan judul di sampul depan dan halaman dalam yang ada nama Zamzami Ahmad. Bahasa Indonesia yang benar (EYD) penulisan kata “di” sebagai kata depan yang menunjukkan suatu tempat dalam arti sebenarnya maupun kiasan harus dipisah. Judul buku ini ditulis “Dibatas Akhir Pengabdian”. Kata “batas” menunjukkan tempat. Dengan demikian, sesuai EYD mestinya ditulis “Di Batas Akhir Pengabdian”. Penulisan judul yang benar ada pada halaman 4. Tampaknya sepele tetapi bagi yang mengetahui kaidah bahasa tulis terasa menganggu, apalagi di cover depan.
Penulis buku ini keroyokan (3 orang) yang berprofesi sebagai wartawan. Wartawan biasa menulis di koran yang gaya penulisannya komunikatif sehingga gaya bahasa penulisan buku ini juga demikian, komunikatif dan reportatif atau mudah dimengerti karena hanya memindahkan bahasa lisan yang kemudian dituliskan. Hal inilah yang menjadi kekuatan buku ini, yakni sederhana, komunikatif dan reportatif.
Buku biografi ini mengisahkan secara urutan waktu (kronologis) perjalanan kehidupan Pak Zamzami sejak lahir (1937) sampai berakhir menjadi anggota DPRD Sumsel (2009). Dengan demikian catatan tentang tahun sangat penting khususnya yang berhubungan dengan peristiwa yang dinilai istimewa atau penting.
Catatan tahun tidak sekedar sebagai tanda perjalanan waktu saja tetapi juga bisa menjadi tonggak sejarah yang bisa memberikan makna bagi kehidupan yang lebih luas. Namun, tampaknya penulis tidak selalu dapat mencatumkan tahun terjadinya suatu peristiwa atau perubahan yang dinilai penting yang dialami Pak Zamzami. Kemungkinan ini bisa disebabkan penulis lupa untuk bertanya, atau mungkin Pak Zamzami yang tidak ingat lagi tahun berapa (kapan) suatu peristiwa tertentu itu dialami/berlangsung. Karena tidak ada catatan tahun, maka pembaca harus menduga-duga kapan peristiwa itu berlangsung. Misalnya, pemuda Zamzami yang gagal kuliah di mana-mana kemudian memilih bekerja dan diterima sebagai pegawai harian pemda Sumsel (halaman 63) tidak ada informasi tentang tahun mulai bekerja. Padahal ini merupakan tonggak penting terjadinya perubahan kehidupan pemuda Zamzami Ahmad. Ternyata informasi tentang tahun baru ditemukan di halaman 84 pada Bab Jejak Karir di Birokrasi. Peristiwa penting yang lain, ketika diangkat sebagai Sekda Kabupaten Lahat sampai mengundurkan diri untuk pindah ke Kantor Gubernur sebagai Kepala Biro Humas (hal 108 – 118) juga tidak ada catatan atau informasi tahun sehingga pembaca bertanya-tanya dan menduga-duga tahun berapa Pak Zamzami diangkat Sekda Lahat dan tahun berapa mengundurkan diri untuk pindah ke Kantor Gubernur yang kemudian menduduki jabatan sebagai Kepala Biro Humas. Kemudian ketika beliau dimutasikan atau “dibuang “ oleh Gubernur Ramli ke Bangka Belitung (menurut Pak Zamzami sebagai tahun awal kesedihan karena setiap malam kerjanya menangis dan baca Surat Yasin, teman-teman menjauh ketika sudah tidak punya jabatan) (hal 124), juga tidak tertera tahunnya sehingga akhirnya pembaca kembali bertanya-tanya atau menduga-duga kejadian “pembuangan” tersebut terjadi kapan. Pembaca juga agak dibingungkan ketika beliau ditarik dari Bangka Belitung kembali ke Palembang, kalau membaca alur ceritanya mestinya terjadi tahun 1997, tetapi yang tertulis tahun 1987 (hal 132) yang tak lama kemudian pensiun pada tanggal 1 Agustus 1997 (hal 137). Kekurangan atau kekeliruan tersebut hanya sebagian yang saya temukan dan kemungkinan masih ada.
Menulis biografi berbeda dengan sejarah. Ranah biografi adalah individu sedangkan sejarah bersifat kolektif. Kesamaan keduanya adalah harus didasarkan kepada fakta atau kejadian yang nyata. Tentu biografi bisa menjadi sumber penulisan sejarah. Menurut M Nursam (penulis biografi tokoh-tokoh nasional) menyatakan bahwa biografi yang baik adalah biografi yang mampu mendekatkan pembaca dengan tokoh yang dibacanya. Dengan demikian, tugas penulis biografi adalah membuat keduanya tak berjarak, menyatu, dan pembaca hanyut dalam alur kisah perjalanan sang tokoh.
Membaca buku biografi Pak Zamzami seakan pembaca dibawa ke suasana masa lalu yang romanatis, heroik, was-was, kasihan, bangga dan berbagai perasaan lainnya yang benar-benar menyentuh hati pembacanya sehingga terasa menyatu dengan Pak Zamzami. Untuk ini, penulis telah berhasil menyajikan buku biografi yang baik sebagaimana indikator yang dikemukakan oleh M Nursam.

Keempat
Masih menurut M Nursam, dalam menulis biografi ada 4 hal penting yang harus diperhatikan. Pertama, kepribadian seorang tokoh harus menarik untuk dituliskan. Kedua, latar belakang sosial budaya di mana sang tokoh menjalani sosialisasi dan kehidupan. Ketiga, sensibilitas atau kekuatan emosional pada sebuah kurun sejarah. Misalnya ketika menulis sosok mahasiswa tahun 1998 maka sensibilitasnya adalah gerakan reformasi. Ketika menulis tokoh-tokoh pergerakan nasional maka sensibilitasnya adalah nasionalisme dan kolonialisme. Keempat, titik-titik kisar atau poin-poin di mana seseorang itu menjadi berubah. Titik kisar itu penting ditemukan untuk menjadi penanda mengapa seseorang bisa berubah. Titik kisar bisa dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti bacaan, perjalanan, pendidikan, pergaulan, pekerjaan, dan sebagainya.
Mengacu kepada empat hal tersebut, saya mencoba untuk melihat sosok Pak Zamzami dari fakta yang tertulis dalam bukunya antara lain sebagai berikut :
1. Dari sisi kepribadian Pak Zamzami kalau digunakan bahasa anak muda adalah pribadi yang gaul, yang hangat, yang terbuka, penggembira dan humoris, memegang teguh komitmen, berambisi (kemauan kuat), suka membantu, melindungi, pemberani. Setiap manusia selalu mempunyai sisi baik dan sisi buruk. Bukan berarti Pak Zamzami merupakan manusia super. Dia tetap sebagai manusia biasa yang mempunyai kekurangan. Hanya saja, kekurangan yang dimiliki mampu ia tekan dalam-dalam dan disembunyikan sehingga ketika berinteraksi dengan pihak lain yang muncul adalah sifat-sifat dan sikap-sikap pribadi yang menyenangkan.
Sifat yang dinilai negatif kadang memang muncul sebagaimana yang dikemukakan Prof Mahyudin (hal 37) bahwa kekurangan Pak Zamzami gampang emosi dan temperamental. Tetapi mempunyai kelebihan cepat bisa menyesuaikan atau fleksibel, mau minta maaf, dan tidak egosentrik. Tapi umumnya dari para tokoh yang diminta berkomentar tentang Pak Zamzami tidak ada yang memberikan penilaian negatif.
Kuntoro Mangkusubroto (hal 20) mengatakan bahwa Pak Zamzami kebapakan yang berarti mampu bersikap melindungi dan arif. Akbar Tanjung (hal 23) mengatakan bahwa Pak Zamzami komunikatif dan siap dikritik. Ryass Rasyid mengatakan bahwa Pak Zamzami ringan tangan dalam membantu yang sedang kerepotan atau kesusahan (hal 26). Pak Zamzami juga sebagai pribadi periang atau tidak pernah kelihatan susah sebagaimana diungkapkan Tursandi Alwi (hal 29). Teman di DPRD, Ellianuddin (hal 40), mengatakan Pak Zamzami bisa mengalihkan suasana sidang/rapat dari yang tegang menjadi lucu, artinya mempunyai rasa humoris.
Beliau juga manusia pemberani menghadapi tantangan. Sikap berani ini tumbuh sejak kecil karena tempaan perang yang diajarkan orang tuanya. “Dia anak pasirah yang berani” kata H Abdul Aziz seorang pejuang (hal 44). Pak Zamzami yang masih terbilang hijau harus pergi sendirian ke luar pulau menuju ke Jawa (Jogja) demi melanjutkan sekolahnya (hal 61). Jika tidak ada sifat pemberani dalam dirinya, maka tidak mungkin berangkat ke Jogja apalagi anak-anak sekampungnya baru Pak Zamzami yang meneruskan sekolah ke Jawa. Sifat dan sikap pemberani juga ditunjukkan ketika pertama kali diangkat menjadi camat di Muara Rupit. Ketika diangkat camat di Muara Rupit kondisi daerahnya waktu itu masih terisolir tanpa fasilitas kerja yang memadai dan harus melewati hutan dimana yang raja hutan alias harimau sering menunggu yang siap menerkam (hal 91). Tantangan lain yang sanggup dihadapi pak Zamzami selama di Muara Rupit adalah menghadapi kaum PKI yang katanya sudah mencapai 80% penganutnya. Pak Zamzami harus pasang kuda-kuda dan bertindak preventif dengan berani melucuti senjata Wanra. Hampir 40 senjata dilucuti termasuk kecepek (hal 95). Kalau tidak bertindak cepat posisinya sebagai camat terancam, dan PKI sudah merencanakan membunuh Pak Zamzami. Dengan bekal keberanian itulah maka pak Zamzami sukses sebagai camat di Muara Rupit yang kemudian dipindah menjadi camat di Pagar Alam. Sikap pemberani ini juga ditunjukkan ketika jadi camat di Pagar Alam dengan berani memberantas judi buntut yang merajalela. Amanah Gubernur Asnawi dapat dilaksanakan dengan baik. (hal 104).
Apa yang saya kemukakan tadi hanya sebagian dari kepribadian Pak Zamzami yang patut diteladani dari kisah-kisah perjalanannya yang dituangkan secara gambalang dalam bukunya. Tentu setiap pembaca apalagi yang kenal dekat dengan beliau akan bisa lebih memberikan penilaian terhadap karakter pribadinya.

2. Latar belakang kehidupan sosial budaya keluarga dan juga lingkungan geografis sangat berpengaruh dalam membentuk watak dan mewarnai sikap hidupnya. Pak Zamzami yang dilahirkan dan dibesarkan dari keluarga terpandang di desanya merupakan anak pertama dari sebelas bersaudara. Orang tuanya yang mempunyai jabatan sebagai Pembarap (wakil pasirah) merupakan jabatan yang menunjukkan status sosial tinggi dan dipandang sebagai keluarga yang berada (hal 51). Dalam kultur kita, anak pertama, apalagi laki-laki, menjadi tumpuan orang tuanya untuk bisa menjadi “orang” yang kelak akan bisa menggantikan posisi orang tua sebagai pelindung dan pengayom serta bertanggung jawab terhadap keluarga besarnya.
Kepribadian Pak Zamzami sebagaimana yang saya kemukakan dalam poin 1 di atas adalah hasill sosialisasi dan didikan orang tuanya. Pak Zamzami sejak kecil telah dilibatkan dalam kegiatan orang tuanya khususnya ketika tentara Belanda masuk Talang Padang. Meskipun masih kelas III SR, Pak Zamzami sudah ditugasi ayahnya ikut mengantar ransum kepada tentara republik (hal 55). Kemudian ketika masyarakat dan keluarganya mengungsi dan rumahnya dijadikan pos tentara Belanda, Pak Zamzami disuruh orang tuanya mengambil perbekalan di rumah yang diduduki tentara Belanda. Dia tak ada perasaan takut. Kendatipun sempat ditampar pipinya oleh tentara Belanda, ia sukses membawa ayam jago dan garam ke hutan tempat keluarga dan warga Talang Padang mengungsi (hal 56 – 58). Pak Zamzami juga pernah disuruh ayahnya membawa logistik (roti,rokok) selama 6 hari untuk diberikan kepada tentara pejuang di Talang Miungan. Barang-barang tersebut dibeli ayahnya dari tentara Belanda yang sengaja menawarkan kepada ayahnya. Tugas dari ayahnya tersebut dilakoninya dengan penuh resiko karena sempat bertemu tentara Belanda yang patroli dan sempat diperiksa isi kantong celananya tapi tidak ditemukan apa-apa. Pak Zamzami berbohong bahwa ia baru saja memperbaiki air sawah yang tersumbat. Tentara Belanda tersebut percaya, padahal dia baru saja pulang mengantar logistik ke pejuang (hal 59).
Jadi, latar belakang sosial budaya orang tuanya dan lingkungan situasi pada waktu itu sangat mewarnai kepribadian Pak Zamzami yang ikut menentukan kesuksesannya sebagai politisi dan birokrat. Dalam teori sosialisasi, umumnya anak sangat dipengaruhi oleh profesi orang tuanya. Oleh karena itu, wajar saja jika orang tua pedagang maka anaknya jadi pedagang, orang tua birokrat anaknya ada yang jadi birokrat, orang tuanya guru anaknya ada yang juga jadi guru, orang tuanya politisi maka adanya ada yang juga jadi politisi, orang tuanya artis anaknya ada yang jadi artis, dan sebagainya. Jadi, jika Pak Zamzami bergelut dalam dunia pemerintahan adalah sangat wajar karena di lingkungan rumahnya sudah terbentuk jiwa kepamongan atau kepemimpinan kendatipun dalam skala dusun.

3. Ada empat zaman atau peristiwa penting yang bisa membentuk sensibilitas dalam diri pak Zamzami. Zaman Pertama (kemerdekaan), ia lahir dalam suasana penjajahan dan ketika menginjak remaja sudah memasuki era perang kemerdekaan. Meskipun tidak secara langsung ikut memanggul senjata perang melawan tentara Belanda, tetapi ia sudah berperan membantu ayahnya ikut membantu para pejuang. Jadi, hidup dalam situasi kolonialisme menjadikan Pak Zamzami sudah tertanam rasa nasionalisme, patriotisme dan anti kolonialisme yang tidak diragukan lagi. Pada umumnya anak-anak yang lahir dan dibesarkan dalam suasana perang anti penjajah, apalagi orang tuanya tokoh pejuang atau pergerakan, maka sang anak akan tertanam semangat dan rasa nasionalisme dan patriotisme yang tinggi.
Zaman Kedua (perang ideologi), Pak Zamzami di awal karirnya sebagai birokrat dihadapkan kepada kehidupan pertentangan ideologi parpol yang tajam. Ketika mengawali kariernya sebagai camat, tantangan besar pengaruh ideologi komunis (PKI) dalam masyarakat yang puncaknya adalah peristiwa G30S/PKI, yang artinya adanya perubahan kehidupan yang mendasar dari Orde Lama menuju Orde Baru. Dia pernah masuk organisasi HMI yang ideologinya sangat bermusuhan dengan ideologi komunisme atau PKI. Dengan demikian jiwa Pak Zamzami sudah terbentuk jiwa anti komunisme. Itulah sebabnya, ketika jadi camat di Muara Rupit sebelum pecah peristiwa G30S/PKI ia dengan berani berhadapan dengan tokoh-tokoh masyarakat yang berhaluan komunis dan melucuti senjata Wanra/Hansip yang diindikasikan sudah kena pengaruh komunis. Jika tidak dilucuti akan sangat berbahaya bagi dirinya dan masyarakat yang tidak mengetahui apa-apa. Jadi, ketika ada isu dan dituding sebagai anak pengurus PKI oleh Zikri Kisey pada waktu dicalonkan sebagai caleg Golkar pada Pemilu 1997 merupakan isu murahan yang waktu itu memang mudah untuk menjatuhkan seseorang. Isu itu oleh Pak Zamzami dihadapi dengan tenang karena isu itu tidak benar (hal 153). Ia pun terpilih menjadi anggota DPRD Sumsel.
Zaman Ketiga (orde baru), Pak Zamzami merasakan hidup sebagai birokrat di Era Orde Baru. Ia pensiun 1 Agustutus 1997 atau sekitar 8 bulan sebelum terjadi Gerakan Reformasi 1998 yang menumbangkan Rezim Presiden Soerharto (Orde Baru). Selama 40 tahun bekerja dalam lingkungan birokrasi tentu dalam dirinya sudah terbentuk sikap dan gaya birokrat model Orde Baru. Dengan demikian, moral pejabat Orde Baru umumnya tidak jauh dari presidennya, antara lain berperilaku main perintah/komando, ketebelece, sok berkuasa, pingin menang sendiri, tak bisa menerima kritik, koruptif, nepotif, kolutif, tertutup, dan takut setengah mati pada atasan. Saya yakin bahwa Pak Zamzami merasakan budaya patrimonial bureaucracy seperti itu. Dia dapat besar karena awalnya dari nepotisme. Ketika pertama kali menjadi honorer PNS karena berkat surat sakti (katebelece) familinya, Zainal Abidin Ning, yang ditujukan ke Gubernur (hal 84). Pada waktu pindah dari Lahat ke Kantor Gubernur, Pak Zamzami hanya diberi jabatan Kasubdit Sospol. Beliau stres sebab sudah menjadi boss di Lahat pindah ke Palembang turun jabatan. Lagi-lagi berkat Zainal Abidin Ning yang menjabat sebagai Ketua DPRD Sumsel posisi Zamzami akhirnya menjadi Kepala Biro Humas (hal 115-116). Situasi itu bukan kekeliruan Pak Zamzami tetapi sistem dan kultur birokrasi selama Orde Baru memang penuh dengan KKN. Kultur dan sistem birokrasi nepotis dan spoil serta mengandalkan lobi-lobi sampai sekarang masih belum bisa dikikis habis dengan sistem merit (prestasi) sehingga di era reformasi ini yang paling belum dilaksanakan dengan sungguh-sungguh adalah reformasi birokrasi. Kebetulan Pak Zamzami memang mempunyai kecakapan, kemampuan dan berbakat dalam dunia pamongpraja/pemerintahan dan lihai mengambil hati orang serta jago lobi sehingga kesan nepotismenya tidak kelihatan. Pak Zamzami juga merasakan pedih dan sakit hati tetapi tidak bisa berbuat apa-apa ketika dirinya “dibuang” ke Babel dari Kepala Biro di Kantor Gubernur turun jabatan hanya menjadi Kepala TU di Kantor Pembantu Gubernur. Mutasi model seperti ini jelas tidak proporsional dan condong karena kesewenang-wenangan (bahasa lunak faktor politis). Untuk menghadapi Pak Ramli tampaknya Pak Zamzami tidak bisa berbuat banyak dan lebih banyak pasrah dan tawakal. Terpaksa puas hanya sebagai tugub sampai pensiun, padahal ia sebenarnya sangat kepingin dapat duduk menjadi salah satu asistem setda.
Zaman Keempat (reformasi) adalah tahun keberuntungan bagi Pak Zamzami karena tak lama dirinya pensiun (tahun 1997) dan dapat duduk sebagai anggota DPRD Sumsel, tak lama kemudian terjadi gerakan reformasi (1998). Di Era ini, semua budaya Orde Baru seperti ketertutupan, KKN, larangan unjuk rasa, sikap otoriter, ancaman, perilaku intimidasi pemerintah, militerisasi (dwi fungsi ABRI), politik uang dan lai-lain menjadi musuh bersama dan diganti dengan budaya transparansi, partisipasi, akuntabilitas, supremasi hukum, dan supremasi sipil dan lain-lainnya. Pak Zamzami mempunyai sikap cepat menyesuaikan dengan keadaan dan mampu melihat situasi ke depan sehingga dalam dirinya juga tertanam sikap-sikap reformis. Hal ini terlihat dari kemampuannya dalam menghadapi demonstran di DPRD dengan sukses, ia selalu bersedia menjadi “duta” DPRD untuk menyelesaikan berbagai masalah dan menjadi nara sumber di berbagai forum yang ia jalani dengan enjoy (hal 161). Tanpa mempunyai sikap reformis maka tidak mungkin dapat ia laksanakan dengan baik.
Berdasarkan pengalaman di empat zaman tersebut, maka dari sisi sensibilitas dapat saya kemukakan di sini bahwa Pak Zamzami adalah sosok yang kaya akan ujian dan tempaan zaman yang berbeda-beda sehingga menjadi pemberani dan cerdas membaca situasi yang akhirnya mampu berperilaku sesuai dengan tuntutan zaman dan mampu bersikap memegang prinsip tanpa harus membuat orang terasa kesakitan. Kesannya memang seperti manusia plin-plan, tetapi sebenarnya cerdas membaca situasi kemana angin bakal bertiup sehingga dirinya tidak terhempas oleh angin. Bukankah bekal sukses berpolitik adalah mampu membaca tanda-tanda zaman.

4. Biografi yang baik hendaknya juga mampu mengungkapkan titik-titik kisar sebagai tonggak perubahan sikap dan pandangannya secara mendasar dalam melakoni hidup. Sejarah atau biografi orang-orang besar selalu mempunyai kisah di titik-titik kisar yang dapat menjadi daya tarik pembacanya.
Diakui oleh Pak Zamzami bahwa orang yang paling berjasa dalam kehidupannya adalah dua orang yakni ayahnya dan familinya (Zainal Abidin Ning) karena bisa menghantarkan menjadi PNS (hal 84). Dari sinilah kisah perjalanan hidup dimulai sehingga bisa meniti karier di birokrasi dan menjadi politisi sukses di tingkat lokal. Kendatipun bagi Pak Zamzami awal menjadi PNS merupakan titik kisar perubahannya, tetapi menurut saya sebenarnya ada titik kisar yang lebih penting adalah ketika dirinya “dihukum” dengan “dibuang” ke Babel oleh Gubernur Ramli dengan alasan yang tak jelas. Bahasa Pak Zamzami adalah dirinya dimutasi tanpa sebab (hal 123 – 124). Sebelum dipindah ke Bangka, Pak Zamzami selalu bisa menikmati jabatan yang diembannya. Tetapi tiba-tiba harus menyeberang lautan ke Bangka. Dalam posisi merasa sebagai orang terbuang ini akhirnya beliau dapat merenungi kehidupan dan banyak berdoa. Dari jabatan buangan inilah sebenarnya Pak Zamzami bertambah wawasan di luar pemerintahan dan dapat melihat dunia yang lebih luas. Beliau kemudian dapat kenal cukong Yansen dan bisa bepergian ke mana-mana (Batam, Tanjung Pinang), dapat kenal dengan Kuntoro Mangkusubroto dan Erry Ryana Hardja Pamekas. Perkenalan tersebut tentu membawa nilai tambah bagi kehidupan Pak Zamzami yang tidak diduga sebelumnya karena ia sempat ditugaskan oleh PT Timah ke Eropa dan Inggris dan tugas belajar dari Deparlu ke Darwin. Dia juga punya pengalaman membangun hotel dengan teman-temannya untuk menambah penghasilan (hal 129). Hal-hal tersebut tidak mungkin bakal didapat jika tetap di Palembang. Inilah sengsara membawa nikmat. Jadi, jika kita sebagai manusia itu mempunyai sikap menerima dan pasrah terhadap Tuhan Yang Maha Esa, maka Tuhan akan Maha Tahu apa yang terbaik buat umatnya yang bertaqwa.
Titik kisar lainnya yang menarik adalah ketika mulai terjun dalam dunia politik khususnya ketika menjadi kandidat Ketua Umum Golkar Sumsel pada Musda tahun 1997. Ia mengakui bahwa bergelut dalam politik baginya seperti dongeng tetapi nyata. Isterinya sebenarnya tidak setuju tetapi berkat rayuannya akhirnya merestui untuk terjun ke politik. Bu Zamzami pinginnya menikmati masa pensiun (hal 143). Karena desakan sejumlah Ketua DPD Kabupaten/Kota ia diminta untuk maju sebagai calon Ketua. Tapi ia pesimis karena kompetitornya dinilai mendapat restu dari atas seperti Djakfar Murod, Hariono, Kahar Muzakir, Mustam Malik dan Latif Rais. Situasi waktu itu ada nuansa bahwa Ketua harus dari militer dan aroma politik uang sangat kuat sehingga wajar kalau Pak Zamzami yang merasa tidak punya uang hanya mengandalkan kepercayaan DPD kabupaten yang meminta. Namun apa yang terjadi?. Ia akhirnya menang (hal 144). Inilah titik kisar yang kemudian membawa Pak Zamzami cemerlang menjadi politisi lokal hingga bisa duduk menjadi Ketua DPRD Sumsel.

Kelima: Birokrat Berbakat yang Kecewa
Pak Zamzami sebagai birokrat saya nilai hanya setengah sukses karena setelah melejit kariernya sampai pada jabatan Sekda di Kabupaten Lahat kemudian Kepala Biro Humas dan akhirnya menjadi Kepala Biro Pemerintahan, ternyata harus terjun bebas hanya menjadi kepala TU di Kantor Pembantu Gubernur Bangka Belitung. Ketika ia diangkat menjadi Pembantu Gubernur Wilayah Babel menilai bahwa jabatan itu tidak mempunyai fungsi yang jelas, tidak populer, dan fasilitas tidak diberikan. Lima tahun lebih “terbuang” di Bangka. Selama itu, keluarga Pak Zamzami cuma dua kali berkunjung ke Bangka. Pak Zamzami mengakui bahwa jabatan tugub disamping menurunkan derajat juga menaikkan derajat karena ada juga yang menyenangkan (hal 131). Ketika Pak Ramli terpilih kembali sebagai Gubernur Sumsel periode kedua dan Pak Zamzami “sukses” sebagai calon pendamping, ia dijanjikan jabatan Asisten Kesra. Tetapi kenyataannya jauh panggang dari api. Ia sudah pasrah dan merasa terpukul karena Pak Ramli ingkar janji. Setelah setahun Pak Ramli menjalani jabatan keduanya, Pak Zamzami ditarik ke Palembang bukan dipromosikan sebagai asisten tetapi menduduki jabatan yang sama menjadi Tugub Wilayah Palembang. Ia sudah pasrah yang penting pulang ke Palembang dan kumpul dengan keluarga (hal 132). Dari kisah yang dialaminya itu menunjukkan bahwa prestasi dan kemampuannya di birokrasi tidak bisa berkembang dengan baik padahal dia termasuk manusia berbakat dalam pemerintahan dan mempunyai kemampuan lebih jika diberikan kesempatan. Dia sangat kecewa karena harapan untuk bisa menduduki jabatan yang lebih tinggi setelah Kepala Biro, seperti Asisten gagal diraih.

Keenam: Politisi yang Sukses
Kecewa sebagai birokrat ternyata sukses menjadi politisi. Itulah nasib. Manusia hanya bisa merencanakan tetapi Tuhan yang menentukan. Kesuksesan Pak Zamzami sebagai politisi yang paling kelihatan adalah mampu membawa Golkar meraih kemenangan dalam Pileg tahun 2004 sehingga dirinya bisa menduduki kursi Ketua DPRD Sumsel 2004 – 2009. Sebagai Wakil Ketua DPRD 1999 – 2004 dan sebagai Ketua DPRD 2004-2009 banyak peristiwa politik penting yang menarik perhatian masyarakat dapat diselesaikan dengan baik karena konstribusi dan peran Pak Zamzami. Kisah politik tentang hiruk pikuk pilgub baik pada tahun 1999 dan tahun 2003 yang masih dipilih oleh DPRD diceritakan Pak Zamzami apa adanya dan sangat menarik untuk dibaca dan dicermati (hal 155 – 189). Di sinilah kepiawian Pak Zamzami yang tidak tersalurkan dalam birokrasi akhirnya teruji kehebatannya sebagai politisi.
Kesuksesan beliau juga dapat terlihat dari kemampuan melihat calon kepala daerah yang bakal bisa menang dalam pilkada. Ia seperti mampu membaca ke mana angin akan bertiup. Ketika pilgub tahun 1999 ia sangat yakin bahwa Rosihan Arsyad bakal menang sehingga Golkar mendukungnya penuh (hal 157). Pada pilgub tahun 2003 dialah yang mengawinkan pasangan Syahrial – Mahyudin dan menjadi pendukung beratnya sehingga akhirnya mengalahkan Rosihan – Radjab Semendawai yang pada waktu pilgub tahun 1999 didukungnya. Pada pilgub langsung tahun 2008 Pak Zamzami sudah mengingatkan Syahrial bahwa memilih wakilnya jatuh pada Helmy Yahya keliru. Dan jika tetap dipertahankan maka basis massa pemilihnya di Lahat dan Pagar Alam akan hilang. Namun peringatan tidak dihiraukan (hal 217). Sebagai orang tua tampaknya kali ini tidak mempan nasihatnya dan karena kesal maka ia pun terang-terangan mendukung pasangan Aldy sebagai calon dari Golkar dengan mengumpulkan massa melalui acara sedekah akbar di Talang Padang (hal 220). Karena pengaruh Pak Zamzami dan keluarganya sangat kuat di Lahat, Pagar Alam dan Empat Lawang, maka akhirnya pasangan S0HE kalah tipis. Kembali sejarah terulang, pasangan cagub yang didukung Pak Zamzami selalu menang.
Tidak hanya itu, sejumlah pilkada sebagian besar dimenangkan calon dari Golkar. Dia juga mampu membawa anak menantunya memenangkan pemilu wako Lubuk Linggau dan kemenakannya menjadi bupati Empat Lawang. Itu semua bukti bahwa Pak Zamzami sukses menjadi politisi dan sangat menikmati kesuksesan tersebut. Karena kemampuannya membaca situasi dan tahu kemana angin bertiup, ia pun lebih baik tidak kepingin lagi menjadi Ketua Umum Golkar Sumsel untuk jabatan keduanya kendatipun sebenarnya ia masih mampu. Tapi dia tahu diri dan akan mengakhiri karier politiknya dengan happy ending. Hasilnya setelah tak menjadi ketua Golkar Sumsel?. Golkar jeblog, kalah dalam Pemilu 2009! Pak Zamzami namanya tetap harum. Itulah kehebatan Pak Zamzami membaca politik, tahu kemana angin akan bertiup.

Ketujuh: Pertanyaan
Kendati Pak Zamzami sudah menceriterakan relatif tuntas tentang kiprahnya menjadi anggota dan pimpinan DPRD Sumsel selama dua periode, namun masih ada beberapa peristiwa penting yang masih disembunyikan atau mungkin lupa tidak dikemukakan. Padahal masyarakat kepingin tahu tentang hal yang terlupa tersebut.
Pertama, ketika terjadi kisruh penetapan calon terpilih DPRD tahun 1999 dan akhirnya dicapai kompromi bahwa mereka yang bermasalah akan duduk di legiaslatif selama satu periode secara bergantian. Jadi, setelah 2,5 tahun beberapa anggota dewan dari Golkar akan terjadi PAW. Tetapi kompromi tersebut tidak pernah terwujud. Kasus ini sangat menarik untuk dikemukakan karena termasuk dalam dinamika kepemimpinan Pak Zamzami, mengapa kompromi bisa terjadi dan mengapa akhirnya tidak terwujud. Sebagai Ketua Golkar, Pak Zamzami tentu memegang kunci jawabannya. Sayang, belum tertulis dalam buku ini padahal ia sudah secara luas mengisahkan dinamika politik dalam internal Golkar menjelang pemilu 1999.
Kedua, Pak Zamzami juga sudah membuka tabir dan menceritakan secara baik suasana politik yang panas menjelang, pada pelaksanaan dan pasca pemilihan pilgub tahun 2003. Pak Zamzami sukses memimpin sidang pemilihan gubernur. Melalui bukunya masyarakat pembaca menjadi mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Tetapi ada satu hal yang belum dikemukakan dan menjadi pertanyaan bagi saya dan mungkin juga yang ingat peristiwa itu adalah mengapa ketika berlangsung penghitungan suara sampai terjadi kesalahan tiga kali atau diulang-ulang?. Kejadian itu by accident atau by design . Karena Pak Zamzami adalah pemegang palu sidang dan salah satu pendukung pasangan Syahrial – Mahyudin tentu sangat mengetahui kejadian itu. Namun sayang belum tertulis dalam bukunya.
Ketiga, persoalan yang cukup heboh di DPRD yang mendapat sorotan masyarakat luas dan menimbulkan gelombang demonstrasi yang tidak henti adalah mengenai kasus dana operasional dan SPJ fiktif. Di era transparansi dan akuntabilitas publik, lembaga wakil rakyat mestinya dapat menjadi contoh karena harus menjalankan fungsi pengawasan. Pak Zamzami sebagai pimpinan dewan tentu mengetahui kasus ini yang sebenarnya. Apabila ini bisa dituliskan maka masyarakat akan menjadi gamblang dan dapat diambil hikmahnya dari kasus tersebut.

Kedelapan: Penutup
Dalam buku biografi atau sejarah sering kali muncul perbedaan pandangan mengenai sesuatu hal atau kasus sehingga perlu adanya klarifikasi dari pihak-pihak yang terkait. Hal ini dikarenakan setiap pelaku sejarah atau individu yang bersangkutan berada dalam posisi dan peran yang berbeda sehingga sudut pandangnya pun bisa berbeda. Perbedaan yang tidak merugikan masyarakat atau seseorang tentunya akan menambah perspektif pembacanya. Akan tetapi jika dianggap merugikan bisa menjadi persoalan tersendiri dan dapat berujung pada gugatan karena informasi yang ditulis dianggap fitnah. Seandainya apa yang ditulis Pak Zamzami ada informasi atau data yang tidak akurat atau tidak benar, maka pada kesempatan ini bisa dimintakan penjelasan atau hal ini sebagai tantangan untuk menulis buku tandingan.
Saya memahami bahwa Pak Zamzami tidak mungkin untuk menuliskan semua kisah hidupnya. Kendati demikian, biografi Pak Zamzami merupakan sumbangan yang harus dipuji dan dihargai karena dapat menjawab dan memberikan informasi kejadian politik masa lalu di Sumsel yang sudah menjadi sejarah. Dari buku tersebut kita dapat belajar untuk menjadi lebih baik ke depan. Nilai-nilai kehidupan dan perjuangan dari diri Pak Zamzami yang baik tentu akan dapat dijadikan panutan generasi penerus. Yang baik mari kita ikuti dan yang buruk mari kita tinggalkan. Untuk lebih paham lagi kisah perjalanan hidup Pak Zamzami, silahkan membaca sendiri bukunya yang sudah ada di tangan hadirin.
Demikian tanggapan yang bisa saya berikan. Terima kasih atas perhatian hadirin semua. Mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada hadirin khususnya kepada Bapak Zamzami Ahmad apabila ada kekeliruan atau perasaan tidak enak menerima tanggapan yang saya sampaikan.
Selamat atas peluncuran bukunya, selamat Ulang Tahun Pak Zamzami, saya doakan semoga selalu sehat wal afiat dan selalu bahagia menikmati sisa hidup bersama keluarga besarnya dengan lebih banyak lagi beramal bagi masyarakat, bangsa dan negara sebatas kemampuan yang dimiliki. Amin. Terimakasih.

Palembang, 30 Juli 2009


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: