BUTET DAN MONOLOG POLITIK

13 06 2009

Oleh : Joko Siswanto

Benar-benar kejutan ketika berlangsung deklarasi damai pilpres 2009 tanggl 10 Juni lalu. Masing-masing pasangan capres diminta untuk menampilkan hiburan, dan yang paling heboh suguhan dari pasangan Mega-Prabowo. Lha?. Pasangan capres nomor satu itu, disamping mengusung kesenian tradisional dari Jawa Tengah, juga diselipi raja monolog Butet Kertarajasa. Publik tahu bahwa Butet salah satu seniman yang kalau berkarya selalu ada unsur kritikan terhadap kondisi yang terjadi dalam berbagai aspek kehidupan. Butet yang dikontrak Mega-Prabowo tentu tidak sekedar berkesenian tetapi tentu diminta menyampaikan pesan-pesan politik yang dikemas dalam bungkus kesenian. Isi monolognya mengungkap fakta berbagai peristiwa di Indonesia terlepas dari siapa yang sedang berkuasa. Ia dengan enteng dan gaya yang khas menyingung berbagai hal, antara lain pemilu sukses dan damai 2004 dibawah Megawati, pesawat militer yang sering jatuh, pemerintah yang kurang perhatian terhadap TKI dan TKW di negeri tetangga yang sering disiksa, blok ambalat yang kurang diperhatikan, hutang yang semakin menumpuk, jabat tangan SBY-Mega yang tidak mesra. dan jajak pendapat pesanan pun disinggung.
Monolog politik Butet ditanggapi beragam. Ada yang menyatakan isinya bagus tetapi forumnya tidak tepat, mestinya bukan di tempat situasi formal seperti itu. Forum itu untuk menciptakan suasana persatuan dan persaudaraan dalam kampanye pilpres, tetapi sudah diawali dengan suasana “panas”, apa bisa damai, dan sebagainya. Meskipun Butet mengaku bahwa monolognya tidak untuk menyingung siapa-siapa dan yang disampaikan adalah fakta, tetapi kubu SBY seperti kebakaran jengot karena posisi SBY adalah incumbent. Seakan-akan monolognya ditujukan kepada pemerintahan SBY. Memang resiko dari incumbent adalah selalu dijadikan sasaran kritik bagi lawan politiknya.
Kritik bisa disampaikan melalui media apa saja, melalui gambar (karikatur), nyanyian (lagu), tulisan, termasuk kesenian. Memang kritik ada yang disampaikan secara lugas, langsung bahkan kasar sehingga menyakitkan hati. Tetapi juga bisa dalam bentuk yang halus, dikemas tersamar, dalam bentuk parodi, lawak, dan sebagainya. Kedewasaan dan kematangan emosi seseorang kadangkala diukur dari tingkat penerimaan kritik. Kalau dikritik langsung reaktif berlebihan dan kembali melancarkan tandingan maka ada kesan yang bersangkutan kurang menerima kritik. Penerimaan kritik yang bagus adalah mewujudkan dengan karya nyata sehingga pengritik memahami bahwa kritikannya diperhatikan.
Bagi saya, terlepas dari momentum yang tidak tepat, isi monolog Butet adalah PR bagi siapa saja yang menjadi presiden nanti harus memperhatikan hal-hal yang disampaikan Butet. Suara Butet adalah suara rakyat, fakta dan kalau tidak dikemas dalam bentuk kesenian dan disampaikan langsung seperti itu mungkin tidak akan mendapat perhatian serius dari penguasa dan para capres.
Selamat pasangan Megawati – Prabowo yang sudah berani tampil beda dan benar-benar kejutan yang tidak dinyana oleh tim lain dan pemirsa televisi.

Palembang, 11 Juni 2009


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: