HASIL PEMILU 2009 : KEBANGKITAN PERILAKU PEMILIH RASIONAL ?

4 05 2009

Oleh: Joko Siswanto

Harap-harap cemas, gelisah dan perasaan tak menentu lainnya menghinggapi hati para caleg menunggu hasil Pemilu 2009 diumumkan oleh KPU. Tetapi adanya perhitungan cepat yang dilakukan berbagai lembaga survei sudah bisa memberi gambaran awal perolehan suara parpol. Caleg untuk DPR yang parpolnya tidak mencapai parlementary threshold 2,5% sudah tak ada harapan lagi untuk merasakan kursi empuk di Senayan.
Berdasarkan perolehan suara tingkat nasional tersebut, banyak hal yang menarik untuk dikaji, antara lain kemenangan Partai Demokrat atau sebaliknya kekalahan dua parpol besar Golkar dan PDIP, atau dua parpol baru Gerindra dan Hanura yang dapat lolos parlemen threshold 2,5% mengalahkan partai-partai lain yang sudah ikut pemilu sejak tahun 1999, atau PKS yang perolehan suaranya merangkak naik dari pemilu ke pemilu, atau partai yang berbasis Islam lainnya mengalami kemerosotan perolehan suara yang cukup tajam seperti PKB dan PPP bahkan PBB dan PBR langsung tersingkir tidak masuk parlemen threshold.
Membahas kenaikan suara atau kemenangan suatu parpol di satu sisi secara tidak langsung berarti juga membahas kekalahan parpol lain di sisi yang lain karena pemilu merupakan sarana pembuktian perubahan gerakan perilaku dukungan rakyat. Membahas kemenangan Demokrat dan atau kenaikan suara PKS dan atau pencapaian suara Gerindra dan Hanura yang melebihi dari parlemen threshold pada Pemilu 2009, secara tidak langsung mambahas kekalahan partai-partai lain seperti Golkar, PDIP, PPP, PKB, PBB dan lain-lainnya..Dan membahas perubahan perolehan suara parpol baik yang naik maupun yang turun sama dengan membahas perubahan perilaku pemilih dalam menentukan pilihannya.
Hubungan antara perilaku pemilih dan partai politik dalam pemilihan umum telah menjadi kajian lama di negara-negara demokrasi. Bone dan Ranney dalam bukunya Politics and Voters (1963) mengemukakan bahwa orang Amerika Serikat dalam menentukan pilihannya dikarenakan oleh tiga alasan yakni ikatan emosional yang kuat dengan parpol (party identification), isu atau program atau visi dan misi yang dijanjikan (issue orientation), dan kualitas figur kandidat/calon (candidate orientation) tanpa dikaitkan dengan parpol atau isu/program yang diusung.
Pilihan rakyat yang dijatuhkan kepada Partai Demokrat pada Pemilu 2004 sehingga Demokrat langsung menempatkan pada posisi papan tengah atas yang kemudian juga sukses mengusung Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjadi Presiden 2004-2009, bukan karena kinerja parpol yang hebat dan kader yang handal dan militan, akan tetapi karena pemilih lebih melihat sosok atau figur SBY yang mempunyai kualitas dan daya pikat pribadi yang mengagumkan dan ini mampu mengalahkan tokoh-tokoh nasional lainnya, termasuk incumbent waktu itu (Megawati). Demokrat sebagai partai yang baru, tentu struktur organisasinya belum serapi parpol lama dan pengalamannya juga belum ada. Kader Partai Demokrat baik di tingkat nasional dan di daerah juga tidak begitu menonjol kiprahnya. Isu yang diusung partai Demokrat pada waktu itu juga tidak jauh berbeda dengan parpol yang lain. Namun karena daya pikat dan pesona figur SBY yang mengalahkan tokoh-tokoh nasional lainnya maka pilihan rakyat menjatuhkan pada Partai Demokrat dengan harapan SBY lah yang bisa menjadi Presiden. Itu terbukti pada Pemilu Legislatif 2004 Demokrat langsung melesat jauh dan Pilpres 2004 dimenangkan SBY.
Kemenangan Demokrat pada Pemilu 2009 selain karena faktor SBY sebagaimana pada Pemilu 2004, juga karena sebagai incumbent mampu membuat program nyata yang langsung dirasakan rakyat miskin. Pada umumnya rakyat tidak mau tahu dan tidak penting untuk tahu apakah program yang dikerjakan SBY merupakan hasil kerja bareng sejumlah parpol yang berkoalisi atau hanya partai Demokrat, yang jelas figur SBY dapat memenuhi harapan sebagian rakyat khususnya rakyat miskin sehingga Partai demokrat pun terangkat naik.
Kendatipun perjalanan pemerintahan SBY mengalami pasang surut dan didera berbagai kritikan karena kebijakan yang dinilai kurang populis, yang oleh Megawati kebijakan Pemerintahan SBY diibaratkan seperti mainan yoyo atau tarian poco-poco, akan tetapi secara umum khususnya dari segi stabilitas keamanan dan ekonomi makro relatif membaik meskipun belum memuaskan semua pihak. Kebijakan Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan program PNPM Mandiri kepada rakyat miskin sangat berpengaruh besar terhadap perilaku pemilih yang masuk kategori masyarakat miskin yang dulunya diaku sebagai pendukung PDIP. Sebagai incumbent, SBY mempunyai peluang yang cukup besar untuk membuat program-program riil yang dirasakan langsung oleh masyarakat miskin. Selain itu, sebagai incumbent SBY juga dapat menyusun agenda kegiatan yang dapat langsung bertatap muka dengan berbagai lapisan rakyat yang kemudian berita dan gambarnya muncul di berbagai media massa. Semuanya itu dapat memperkokoh citra positif dan pesona sosok SBY yang memang mempunyai modal daya pikat pribadi yang sangat kuat. Jadi, tidak mustahil apabila pada Pilpres bulan Juli mendatang SBY akan kembali memimpin NKRI untuk yang kedua kalinya.
Pendukung atau pemilih Demokrat tampaknya bukan pemilih yang mempunyai ikatan emosional yang kuat dan mapan terhadap Partai Demokrat. Sebagai partai baru, tingkat kelembagaannya masih rendah dan tidak adanya basis dukungan massa yang jelas, maka menjadikan Partai Demokrat belum terbangun pendukung dan pemilih fanatik sebagaimana parpol yang lain. Pemilih Demokrat tampaknya lebih banyak dikarenakan pemilih terbang (swing voters) yang setiap pemilu bisa berubah pilihan. Pemilih terbang merupakan perilaku pemilih yang rasional dan tidak mempunyai ikatan emosional dengan parpol. Mereka menentukan pilihannya berdasarkan kalkulasi atau hitungan untung rugi demi kepentingan dirinya, keluarganya dan atau kelompoknya. Rasionalitas pemilih Demokrat yakni SBY dinilai figur yang lebih unggul dari tokoh nasional yang lain, relatif mampu menciptakan stabiltas ekonomi dan keamanan, dan bagi pemilih miskin rasionalitasnya terletak pada program yang langsung dirasakan seperti BLT dan PNPM Mandiri.
Selain Partai Demokrat dengan SBY-nya, popularitas figur dibalik parpol sehingga parpol dapat mendulang suara lebih dari 2,5 % adalah Wiranto pendiri Partai Hanura dan Prabowo Subiyanto pendiri Partai Gerindra. Kedua tokoh militer tersebut sangat populer karena mempunyai jabatan strategis di masa Pemerintahan Presiden Soeharto sebelum tumbang, dan dua tokoh militer tersebut terkenal karena sangat kontroversial. Keduanya dituding melakukan pelanggaran HAM berat meskipun sampai sekarang tidak terbukti. Popularitas figur dan didukung dengan modal yang besar serta mampu melontarkan isu-isu yang menyentuh rakyat kecil melalui iklan yang gencar, maka rakyat pun berfikir untuk memilihnya daripada memilih parpol yang tidak kedengaran tokohnya, modal minim, dan isu yang dijanjikan pun juga belum jelas. Jadi, pemilih menentukan pilihannya kepada Gerindra dan Hanura juga lebih banyak faktor karena alasan sosok figur Prabowo dan Wiranto serta ditambah isu atau janji program yang riil, bukan karena kinerja parpol maupun militansi dari kader-kadernya. Buktinya, parpol-parpol lama dan baru yang tidak mempunyai tokoh yang populer (baik yang dianggap berkualitas, tidak berkualitas maupun yang kontroversial) dan kurang gencar dalam menyampaikan isu/program/visi dan misinya ternyata tidak dapat tembus parlemen threshold dan sebagian juga perolehan suaranya merosot. Jadi, PDIP dan Golkar sebagai partai besar yang terpaksa harus bertekuk lutut pada partai Demokrat perlu mawas diri karena tokoh yang dibanggakan dalam partainya berarti nilai jualnya sudah rendah dan sudah kurang mendapat simpati masyarakat. Namun ada bahayanya juga jika parpol terus menerus bersandar pada seorang tokoh sentral. Jika sang tokoh sudah tidak sanggup mempertahankan ketokohannya atau hilang dari peredaran, maka eksistensi parpol itu pun lama kelamaan akan tersungkur juga.
Jika kelebihan sosok figur SBY, Wiranto dan Prabowo yang bersifat individual beserta isu yang dilontarkan merupakan alasan pemilih menentukan pilihannya pada partai Demokrat, Hanura dan Gerindra, maka fenomena perolehan suara PKS yang dari pemilu ke pemilu merangkak naik menunjukkan perilaku pemilih yang rasional dari sisi kelembagaan. Meskipun kenaikan perolehan suara PKS tidak spektakuler seperti Demokrat, namun kenaikaan suara pada Pemilu 2009 bagi PKS merupakan simbol keberhasilan pelembagaan parpol dalam masyarakat. Jika parpol yang berbasis Islam mengalami kemorosotan suara yang tajam seperti PKB, PPP, PBB dan PBR, maka PKS mampu membangun lembaganya dengan ideologi dan disiplin partai yang tegas, kader yang jujur, militan dan terpelajar.
Sebagai partai kader, PKS mampu membangun citra positif dan mampu mencerminkan perilaku politik dan kinerja parpol yang islami tanpa harus bersikap ekstrim. Dengan kiprah PKS yang simpatik, akhirnya pemilih yang rasional dan mayoritas beragama Islam menjatuhkan pilihannya pada PKS karena dinilai kinerjanya bagus dan karakternya jelas dibandingkan partai lain yang berbasis Islam. PKS merupakan simbol partai modern yang tidak mengandalkan figur sebagai pemersatu dan penggerak partai, akan tetapi sudah bekerja atas dasar sistem dengan menempatkan kader di semua lini organisasi sebagai tokoh yang bersih, jujur, terpelajar, berwawasan dan militan. Dari fenomena PKS, para tokoh parpol Islam yang suaranya merosot hendaknya mulai menyadari bahwa perilaku pemilih yang beragama Islam ada kecenderungan memilih parpol nasionalis yang agamis dan atau yang agamis (Islam) tetapi moderat dan berkarakter.
Berdasarkan uraian singkat tersebut, kiranya dapat dikemukakan bahwa Pemilu 2009 merupakan awal kebangkitan pemilih rasional dalam menentukan pilihannya. Partai yang tidak mempunyai tokoh dan atau kader yang berkualitas dan bisa dibanggakan serta parpol yang tidak mampu menunjukkan karakternya yang jelas dalam mengusung program-program atau isu riil yang langsung dirasakan masyarakat, maka cepat atau lambat parpol tersebut akan ditinggalkan oleh pemilih terbang yang umumnya rasional dan pendukung fanatiknya lama-lama akan tergerus mengikuti arus kuat yang terjadi.

Palembang, 19 April 2009


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: