MENDUGA KONFIGURASI KOALISI PILPRES 2009

16 04 2009

Oleh : Joko Siswanto

Secara umum Pemilu 2009 sudah digelar relatif kondusif, aman, damai dan lancar. Kendati ada gangguan keamanan di Papua dan dibayangi dugaan angka golput yang semakin tinggi karena permasalahan DPT serta surat suara tidak sah yang akan bertambah banyak karena salah contreng, tetapi semua itu dinilai kurang signifikan untuk mengatakan Pemilu 2009 tidak berlangsung aman dan damai. Hasil hitung cepat yang dilakukan oleh berbagai lembaga survey menunjukkan gambaran yang relatif sama, diduga hanya akan ada 9 parpol yang akan bisa menduduki kursi dewan di Senayan. Partai Demokrat unggul dengan mengalahkan parpol besar Golkar dan PDIP. Partai baru Hanura dan Gerinda dapat menyodok ke papan tengah. Dengan demikian kemungkinan parpol yang dapat lolos parlementary threshold adalah Partai Demokrat, PDIP, Partai Golkar, PKS, PAN, PKB, PPP, Gerindra dan Hanura. Kendatipun hasil ini masih bersifat sementara dan nanti yang diakui secara sah adalah hasil penghitungan riil (real qount) KPU, tetapi hasil hitung cepat (quick qount) oleh berbagai lembaga survey yang sudah kredibel tersebut umumnya tidak akan jauh dari hasil perhitungan riil KPU. Hal ini sungguh sangat membantu rasa ingin cepat tahu seluruh rakyat dan sudah dapat dijadikan petunjuk awal gambaran kasar konfigurasi peta kekuatan politik yang bakal terjadi.
Sistem pemilu proporsional dengan multi partai sulit untuk memunculkan pemenang mutlak. Kemenangan sederhana di atas 20% yang diraih Partai Demokrat tentu disambut gembira oleh jajaran pengurus Parpol Demokrat, caleg-calegnya dan pendukungngya. Kemenangan ini bagi Partai Demokrat akan memperlancar dalam proses pencalonan SBY sebagai calon presiden 2009-2014 dan mempermudah melakukan koalisi untuk membentuk kekuatan baik dalam upaya pemenangan pemilihan presiden maupun memperkuat dukungannya di parlemen agar bisa 50% plus satu. Sebaliknya Partai Golkar dan PDIP tentu dirundung kelesuan. PDIP sebagai pemenang pada Pemilu 1999 dan harus puas di posisi kedua digusur Golkar pada Pemilu 2004, sekarang (2009) harus gigit jari karena harus rela dilibas oleh Partai Demokrat. Partai Golkar lebih bersedih lagi karena sebagai `partai besar pemenang Pemilu 2004 juga harus bertekuk lutut di hadapan Partai Demokrat. Sedangkan di papan tengah muncul pemain baru yang akan meramaikan percaturan politik nasional yang kemunculannya sudah diduga sebelumnya karena diprakarsai pensiunan jendral yang populer dan banyak modal, yakni Partai Gerindra (Prabowo Subiyanto) dan Partai Hanura (Wiranto).
Dari hasil perolehan hitung cepat tersebut dapat dikemukakan beberapa asumsi konfigurasi politik yang bakal terjadi. Partai Demokrat sebagai parpol yang memimpin kemenangan akan menjadi pusat perhatian utama dalam percaturan politik ke depan dan tetap akan membangun koalisi dengan partai papan tengah yang selama ini sudah mendukungnya dan sudah melakukan pendekatan ulang sebelum Pemilu legislatif seperti PKS, PPP, PKB dan PAN. Partai Demokrat juga akan kembali menjalin hubungan mesra dengan Partai Golkar sekaligus sebagai bukti dan untuk menghapus kesan bahwa Demokrat tidak melecehkan Golkar dengan pernyataan yang disampaikan oleh petinggi Demokrat beberapa bulan yang lalu. Koalisi tentunya tidak saja untuk pemenangan pemilihan presiden akan tetapi juga untuk membangun dukungan di DPR agar bisa mencapai 50% plus satu serta koalisi dalam pembentukan eksekutif/kabinet yang kuat. Dengan koalisi yang kuat di DPR maka posisi pemerintah akan relatif aman dan program-program pembangunan dan politik anggaran akan dapat dilaksanakan dengan baik karena dukungan politik di DPR kuat. Partai .
Partai Demokrat tidak akan melakukan komunikasi politik apalagi koalisi dengan PDIP. Demokrat dan PDIP sudah seperti kucing dan anjing, bermusuhan dan tidak bakal akur. Bukan lagi menjadi rahasia politik bahwa Ketua Umum PDIP, Megawati, dan Susilo Bambang Yudhoyono sudah saling bermusuhan dan tidak ada komunikasi politik apalagi jalinan emosional yang bersahabat. SBY yang pada dasarnya bawahan Megawati ketika duduk di kabinetnya berani mundur dari kabinet dan maju menjadi kompetitior dalam Pemilihan Presiden 2004, dan Megawati kalah. Rasa tidak nyaman dikalahkan SBY, maka Megawati bertekad akan bertarung kembali pada pemilihan presiden Juli mendatang, tetapi ternyata hasil sementara pemilu legislatif tidak memungkinkan PDIP untuk berdiri sendiri mengusung dirinya sebagai calon presiden. Akibatnya, PDIP harus bekerja keras untuk membangun koalisi dengan parpol yang cocok baik dari sisi hubungan pribadi dan kesamaan platform. Dan kemungkinan besar PDIP dan koalisinya akan berposisi sebagai oposan yang lebih vokal dan agresif di masa datang jika gagal memenangkan pilpres Juli mendatang.
Demokrat dengan partai Gerindra dan Hanura juga tidak akan berkoalisi. Publik di Indonesia sudah tahu bahwa Wiranto tidak sejalan dengan SBY, demikian juga dengan Prabowo. Mereka semua sama-sama mantan jendral yang tidak sejalan. Ada kesan Wiranto cemburu bekas anak buahnya yang cakap tapi tidak disukai bisa menjadi Presiden sedangkan dirinya tidak. Ia pun mengikuti jejak SBY yang sukses membawa Partai Demokrat dan dapat menghantarkan menjadi Presiden dengan mendirikan Partai Hanura, tetapi ternyata hasilnya hanya bisa membawa Partai Hanura ke papan tengah bawah alias gagal untuk mengusung dirinya sebagai calon. Dengan partai Gerindra di bawah Prabowo juga tidak mungkin akan bisa akur apalagi berkoalisi karena Prabowo menilai Demokrat sebagai partai neo-liberal yang tidak sejalan dengan Gerindra.
Posisi Golkar cenderung akan bermain mengikuti selera dan kehendak Ketua Umumnya. Kalau Golkar tidak malu dan jika Jusuf Kalla masih hanya ingin posisi aman terjamin bisa kembali sebagai wakil presiden, maka Golkar akan mendekat ke Demokrat dan akan meyakinkan kembali kepada SBY bahwa Jusuf Kalla masih bisa berduet dengan SBY. Demi jabatan wakil presiden maka Yusuf Kalla sudah melupakan dan memaafkan konflik kecil antara Demokrat dan Golkar. Namun hasrat Partai Golkar untuk tetap bisa mengusung sebagai wakil presiden, tentu ada sedikit membuat iri parpol papan tengah karena pimpinan parpol papan tengah juga pingin dipinang SBY menjadi calon wakilnya.
Jika kader Golkar bersikukuh untuk tetap berhasrat mengusung Jusuf Kalla menjadi presiden mau tidak mau harus berkoalisi dengan parpol lain yang belum disambangi Demokrat, yakni PDIP dan dua parpol baru yakni Gerindra dan Hanura. Jika ini terjadi, tentu harus ada dua orang yang mau mengalah mundur dari bursa capres dan satu orang harus rela menurunkan jualannya menjadi wakil presiden untuk memdampingi Jusuf Kalla. Tapi hal ini pun belum tentu ditempuh karena Jusuf Kalla tidak percaya diri menjadi presiden apalagi Golkar kalah telak dengan Partai Demokrat. Jadi, kemungkinan besar Golkar akan berbaik-baik hati kepada Demokrat supaya tetap bisa kembali bersama SBY karena melihat peluang SBY bakal menang duduk di kursi presiden lagi sangat besar dibandingkan calon-calon presiden yang lain. Dengan demikian tampaknnya Jusuf Kalla tidak mungkin dan tidak akan mau untuk menjadi calon wakil presiden berpasangan dengan Megawati.
Golkar kalau ingin tetap mengusung capres sendiri harus bukan Jusuf Kalla tetapi kader yang lain, misalnya, Sri Sultan HB X kemudian berkoalisi dengan parpol papan tengah di luar parpol yang kurang dekat dengan Demokrat. Tampaknya hanya Sri Sultan HB X yang bisa berkompetisi dengan SBY. Siapa yang unggul atau yang kalah hanya beda-beda tipis.
Sedangkan sikap PDI kemungkinan akan membuat dua skenario. Pertama, PDI tetap akan mengusung Megawati dan akan meminang dari salah satu partai papan tengah atau dua parpol pendatang baru untuk bersedia menjadi calon wakil presidennya. Tetapi kemungkinan tawaran pinangan itu akan kurang disambut baik karena peluang untuk bisa mengalahkan SBY cukup berat. Partai papan tengah lebih baik merapat lebih erat ke SBY karena peluang untuk bisa dipinang SBY dan kemungkinan kader parpol duduk di kabinet akan berpeluang besar daripada memenuhi pinangan PDIP. Skenario kedua, PDIP hanya akan berkoalisi dengan Gerindra dan Hanura dan mengusung Prabowo yang lebih layak jual sebagai capres sedangkan wakilnya akan lebih baik Pramono Anung. Megawati akan bijaksana jika mundur saja sebagai calon presiden karena akan tetap berat melawan SBY. Biar mantan jendral saling bertarung. Megawati dan Wiranto yang sudah kalah pada Pilpres 2004 tetap akan berat untuk menumbangkan SBY.
Atau jika koalisi PDIP, Gerindra dan Hanura tidak malu mencalonkan kader lain maka yang paling tepat adalah Sultan HB X dan Prabowo didudukkan sebagai wakilnya. Itu pun kalau Sultan HB X tidak diususng Golkar. Megawati sudah tiga kali bertemu Sri Sultan HB X yang bersifat pribadi dan kemungkinan juga sudah berfikir antisipatif dan alternatif jika terjadi hasil pemilihan legislatif seperti sekarang ini. Memang, siapa pun yang akan diusung oleh koalisi PDIP memang akan berat melawan SBY, tetapi dengan mengusung Sultan HB X kompetisi merebut RI 1 akan menjadi ketat.
Posisi partai tengah yakni PKS, PAN, PPP dan PKB yang selama ini kader-kadernya sudah duduk di kabinet SBY akan ambil posisi semakin lebih merapat ke SBY agar bisa dipinang menjadi wakil dan atau kembali duduk di kabinet. Partai tengah tidak mempunyai kader yang layak diusung sebagai capres yang bisa diandalkan untuk bisa bersaing dengan SBY. Oleh karena itu, parpol papan tengah akan enak berkoalisi dengan Demokrat karena akan lebih pasti bisa ikut duduk di pemerintahan daripada berkoalisi dengan Golkar atau PDIP, syukur-syukur bisa dipinang menjadi wakil SBY.
Sedangkan dua pendatang baru, Gerindra dan Hanura, untuk mengusung capresnya sendiri jelas tidak mungkin karena perolehannya jauh dibawah persyaratan. Kedua parpol kemungkinan besar akan mendekat ke PDIP, atau ke Golkar karena toh Wiranto dan Prabowo sebelumnya memang kader Golkar, tetapi ini juga kecil kemungkinannya karena Golkar pasti merapat ke Demokrat.
Dari gambaran konfigurasi koalisi parpol yang bakal terjadi, tampaknya landasan dan motivasi koalisi yang terjadi bukan dilandasi kepada kesamaan ideologi perjuangan atau platform parpol tetapi tidak lebih dikarenakan adanya unsur sentimen pribadi yang berpusat antara SBY versus Megawati, Wiranto dan Prabowo. Sedangkan parpol yang tidak bermasalah dengan SBY atau Megawati akan mencari posisi yang menguntungkan bagi partainya. Dengan demikian, kemungkinan hanya akan ada dua pasang yang akan bertarung pada pilpres 2009 yakni pasangan calon SBY dari kubu Demokrat yang akan didukung oleh parpol papan tengah dan kemungkinan juga Golkar, dan pasangan kubu dari PDIP yang didukung Hanura dan Gerindra yang kemungkinan akan mengusung Prabowo atau Sultan HB X. Memang berat berkompetisi melawan SBY. Kita tunggu saja.

Catatan :Artikel ini juga dimuat di Harian Berita Pagi Palembang tgl. 14 April 2009.


Aksi

Information

One response

2 05 2009
sari

sby diatas angin, ibarat raja yg tinggal tunjuk permaisuri. …🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: