KAMPANYE RAPAT UMUM TAK BERGAIRAH?

21 03 2009

Oleh : Joko Siswanto
Dosen FISIP UNSRI

Tahapan kampanye merupakan salah tahapan Pemilu yang dinilai sangat penting karena merupakan masa atau waktu para caleg dan parpol berlomba-lomba mencari simpati dan dukungan sebanyak mungkin dari pemilih dengan berbagai metode tertentu sehingga diharapkan pemilih bersedia untuk memilihnya pada hari pemilihan.
Kampanye terbuka dengan metode rapat umum pada Pemilu 2009 sudah dimulai tanggal 16 Maret lalu dan akan berakhir pada 5 April 2009. Kampanye terbuka diawali dengan deklarasi kampanye damai yang diikuti oleh semua peserta pemilu baik parpol maupun calon DPD baik di tingkat Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota. Berhubung parpol peserta Pemilu 2009 jumlahnya banyak (38), maka perlu ada pengaturan jadwal untuk kampanye terbuka rapat umum untuk mencegah terjadi benturan massa.
Bagi sejumlah parpol kampanye rapat umum masih menjadi andalan dalam kampanye pemilu 2009 untuk menunjukkan kekuatan dukungan (show of force). Namun ada juga parpol yang tidak memprioritaskan rapat umum sebagai pilihan metode kampanye yang diunggulkan. Kampanye rapat umum yang memberi kesan hura-hura memang belum pernah dikaji apakah mempunyai hubungan dan pengaruh yang sifnifikan dengan perolehan suara parpol. Pengalaman Pemilu 1999 di Ibu Kota Negara pada putaran terakhir kampanye dibuat lautan merah oleh massa PDIP berbuah manis terbukti PDIP menang pada pemilu 1999. Pemilu 2004 ganti PKS yang menjadikan Ibu Kota Negara lautan warna putih oleh massa PKS ternyata perolehan suara PKS jauh melesat dibandingkan perolehan suara Pemilu 1999. Kejadian tersebut seakan membenarkan bahwa kampanye terbuka rapat umum dinilai masih efektif untuk mendongkrak perolehan suara. Tapi, bagaimana rapat umum pada kampanye Pemilu 2009 sekarang ini, masihkah menjadi daya pikat masyarakat untuk mendatangi arena kampanye?.
Memasuki hari kekelima kampanye terbuka dalam rapat umum yang berlangsung selama 21 hari, sejumlah parpol yang menyelenggarakan rapat umum kurang mendapat perhatian publik. Masyarakat kurang antusias, kurang bergairah, sepertinya lesu darah untuk menghadiri kampanye rapat umum. Benarkah demikian?. Jika, ya, mengapa bisa demikian?.
Kompas.com memberitakan bahwa kampanye terbuka perdana Partai Bulan Bintang (PBB) di Stadion Kamboja, Palembang, Sumsel, Selasa (17/3) berlangsung sepi. Padahal, kampanye tersebut dihadiri juru kampanye Ketua Umum DPP PBB MS Kaban yang kini juga menjabat Menteri Kehutanan. Demikian juga sejumlah media massa memberitakan kampanye terbuka di Lampung, Bandung, Padang dan lain-lainnya relatif sepi. Sejumlah parpol yang terjadwal berkampanye terbuka ternyata tidak menggelar rapat umum. Berikut ini dugaan yang bisa dikemukakan mengapa ada gejala rapat umum sepi peminat atau parpol tidak menggelar rapat umum.
Pertama, rapat umum membutuhkan biaya yang sangat besar. Bagi parpol besar atau berdana besar mungkin bukan kendala. Tetapi bagi parpol yang berkantong tipis kampanye terbuka akan menjadi persoalan serius. Massa pengunjung yang datang pada umumnya bukan atas dasar sukarela akan tetapi karena dimobilisasi dengan diberi ongkos transport dan konsumsi/nasi bungkus. Rapat umum pada umumnya juga dimeriahkan dengan musik dan artis-artis terkenal yang bayarannya juga tinggi. Tanpa musik, maka kampanye rapat umum tidak meriah dan kurang memikat pengunjung. Sudah mengeluarkan dana besar, hasil perolehan suara belum tentu besar. Kondisi yang demikian ini menjadikan parpol yang tidak berkantong tebal akan mundur teratur tidak akan mengadakan rapat umum, dan lebih baik memilih metode lain yang lebih murah tetapi dianggap lebih efektif untuk mempengaruhi pemilih.
Kedua, adanya perubahan tentang caleg yang memperoleh kursi jika aturan semula didasarkan atas nomor urut kemudian dirubah menjadi suara terbanyak, maka hal ini sangat mempengaruhi pada sikap dan perilaku caleg dalam kampanye dan terhadap parpolnya. Caleg yang semula loyo akan berkampanye maka dengan perubahan tersebut, caleg menjadi bergairah melakukan kampanye sendiri-sendiri sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Strategi dan metode berkampanye yang ditempuh lebih menekankan kepada kampanye tertutup dengan membangun jaringan relasi, kekerabatan, handai taulan, profesi, kedaerahan, etnisitas, keaagamaan, kesamaan kegemaran dan sebagainya. Berhubung caleg sudah berkampanye sendiri untuk kepentingan sendiri demi meraup suara sebanyak-banyaknya, maka perhatian terhadap parpol yang mengusungnya menjadi kurang. Parpol sekan-akan hanya dijadikan tempat bersandar saja. Sikap dan perilaku caleg demikian ini tentu berpengaruh terhadap pelaksanaan kampanye parpol dalam bentuk rapat umum yang bersifat kelembagaan. Akibatnya, rapat umum parpol menjadi kurang mendapat perhatian dari para caleg.
Ketiga, masyarakat dan parpol sudah mulai realistik bahwa rapat umum dinilai kurang efektif untuk menjaring dukungan yang riil. Mereka yang datang belum tentu akan mendukung parpol yang sedang berkampanye. Rapat umum hanya akan menghabiskan uang, waktu, tenaga dan jika tidak terkelola dengan baik akan menimbulkan konflik atau pelanggaran kampanye karena umumnya peserta rapat umum yang berbentuk massa perilakunya kurang bisa terkontrol dan cenderung mengabaikan aturan, seperti pelanggaran lalu lintas, membawa anak-anak, perkelaian, mengganggu ketertiban umum dan sebagainya. Oleh karena itu, daripada parpol harus menanggung resiko yang besar, hasilnya tidak bisa diharapkan, maka parpol memilih metode lampanye lain yang dianggap efektif, misalnya melalui kampanye dialogis, door to door yang lebih memperhatikan aspirasi masyarakat daripada monologis. Masyarakat pemilih juga sudah mempunyai alasan yang rasional bahwa untuk datang ke tempat kampanye akan memerlukan pengorbanan dana, tenaga dan waktu sedangkan manfaat untuk dalam rangka pencerahan diri dinilai kurang, kecuali kalau hanya sekedar mencari hiburan gratis. Untuk itu, jika parpol tidak memberi fasilitas kemudahan untuk menghadiri kampanye terbuka dalam bentuk rapat umum tampaknya pemilih cenderung tidak akan datang dan lebih baik untuk berkarya atau melakukan kegiatan lain yang dinilai lebih produktif.
Keempat, perlu diketahui bahwa masa kampanye Pemilu 2009 jauh lebih panjang dari pada kampanye Pemilu 2004. Pasal 82 UU Nomor 10 tahun 2008 tentang Pemilu menyebutkan bahwa pelaksanaan kampanye pemilu dilaksanakan sejak tiga hari setelah calon peserta pemilu ditetapkan sebagai peserta pemilu sampai dengan dimulainya masa tenang. Penetapan peserta Pemilu 2009 oleh KPU dilaksanakan pada tanggal 9 Juli 2009. Dengan demikian peserta pemilu sudah boleh memulai kampanye pada tanggal 12 Juli 2008. Dalam pelaksanaannya, yang diperbolehkan oleh Peraturan KPU nomor 19 tahun 2008 hanya kampanye yang bukan rapat umum. Sedangkan untuk kampanye rapat umum hanya dilaksanakan selama 21 hari yang berakhir 3 hari sebelum hari pemilihan. Adanya ketentuan tersebut, maka masa kampanye menjadi cukup panjang yakni sekitar 8 bulan 24 hari. Waktu yang panjang tersebut telah digunakan oleh caleg dan parpol untuk mensosialisasikan diri kepada masyarakat dengan berbagai cara seperti pertemuan terbatas, dialog tertutup, menyebar pamflet, menempel poster, membuat kartu nama, sampai pada aksi-aksi sosial, dan lain-lainnya. Dengan rangkaian berbagai kegiatan kampanye yang cukup panjang tersebut, maka masyarakat sudah dikondisikan berbulan-bulan melihat aksi-aksi kampanye. Nah, ketika genderang kampanye terbuka dalam bentuk rapat umum ditabuh, energi calon dan parpol justru sudah mulai menurun dan masyarakat juga cenderung memandang bukan suatu peristiwa yang perlu mendapat sambutan luar biasa. Akibatnya, rapat umum cenderung tidak bergairah.
Kelima, faktor tehnis berupa jadwal kampanye yang disusun KPU yang berubah sampai tiga kali bisa menjadi salah satu penyebab kampanye rapat umum tidak berlangsung mulus. Persiapan parpol menjadi tidak matang. Bukan pekerjaan ringan untuk melakukaan koordinasi, pemberitahuan pihak kepolisian, mempersiapkan mengumpulkan massa, mempersiapkan acara pendukung (musik), juru kampanye, dan sebagainya. Daripada diribetkan berbagai urusan seperti itu, toh kampanye terbuka hanya suatu pilihan, maka parpol yang belum solid struktur dan kepengurusanya sampai di tingkat bawah serta dukungan dana yang tipis, maka sejumlah parpol akan memilih tidak menggunakan jadwalnya untuk kampanye rapat umum.
Keenam, peran media massa cetak dan elektronik yang musim kampanye tahun 2004 belum begitu populer dijadikan sarana memasang iklan politik, pada musim kampanye Pemilu 2009 sudah dipandang memegang peranan penting sehingga iklan di media cetak dan elektronik dijadikan alternatif mengganti model kampanye yang membutuhkan jangkauan massa besar dan luas seperti rapat umum.
Selain sejumkah faktor tersebut di atas, tentunya masih ada faktor lain lagi yang menyebabkan kampanye rapat umum ada gejala penurunan gairah baik dari parpol, caleg maupun masyarakat pemilih selain dugaan-dugaan sebagimana yang telah diuraikan. Terima kasih.

______________________________


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: